SINDIKAT PENULIS
Silakan login dahulu, biar lebih asyik.
Kalau belum bisa login, silakan daftar dahulu.
Setelah itu, selamat bersenang-senang...


Kami adalah penulis, dan kami tidak butuh persetujuan dari siapa pun!
 
IndeksCalendarFAQPencarianPendaftaranLogin
"Jika ada buku yang benar-benar ingin kamu baca, tapi buku tersebut belum ditulis, maka kamu yang harus menuliskannya." ~ Toni Morrison

Share | 
 

 Cerpen "24 Jam"

Go down 
PengirimMessage
Aldy Verdy
Pendatang Baru
Pendatang Baru
avatar

Jumlah posting : 3
Points : 7
Reputation : 0
Join date : 27.03.13
Age : 25
Lokasi : Bekasi

PostSubyek: Cerpen "24 Jam"   Wed 27 Mar 2013 - 13:07

24 jam

Diluar kantor, langit terlihat begitu gelap senja. Padahal aku yakin, ini sudah siang –tapi awan hitam remang sepertinya membuat hari ini, seperti sore sepanjang hari… Saat ke kantor pagi tadi, keadaannya memang sudah seperti ini. Kukira akan ada hujan lebat atau badai besar, ternyata sampai detik ini juga perkiraanku belum terjadi. Rekan-rekan kerjaku yang tadinya ada tugas keluar, juga masih belum berani untuk pergi keluar kantor.
Saat istirahat, aku mencoba mencari warung makan yang mempunyai televisi –aku hanya ingin menonton berita, agar aku bisa mengetahui sebenarnya apa yang terjadi dengan keadaan langit dan cuaca di hari ini ?. Karena memang dikantor ku tidak ada fasilitas hiburan seperti televisi atau pun hiburan lainnya, ya sepertinya memang tidak perlu.
“Sudah selesai mas, gonta-ganti channel tv-nya?” celetuk salah seorang penjaga warung. “Hehe… sory mbak. Sudah kok” aku meminta maaf kepada penjaga warung itu. Aneh sekali, kenapa semua acara berita televisi swasta tidak ada sama sekali yang membahas mengenai keadaan langit, dan juga tak ada satupun stasiun televisi luar pulau jawa yang tayang. Jelas sekali terlihat bahwa memang ada sesuatu yang aneh yang akan terjadi hari ini.
Tidak terasa.. Keadaan sudah semakin sore, satu persatu rekan kerjaku telah bersiap pulang ke rumah. Tak lama kemudian jam tepat menunjuk kearah angka lima dan angka dua belas, yang berarti “pulang”. Hanya butuh waktu lima sampai sepuluh menit ruang kantorku yang tadinya ramai akan riuh suara karyawan menjadi ruang kantor kosong yang tak berpenghuni. Memang, aku sih orang nya tak mau terlalu terburu-buru bila keadaan pulang seperti ini, maksudku terburu-buru untuk pulang, begitu. Mungkin itu juga dikarenakan aku yang hanya tinggal sendiri di kontrakkan ku dan tidak seperti karyawan lain, yang menjadikan rindu kepada keluarga sebagai alasan untuk pulang dengan terburu-buru –aku tidak perlu repot-repot untuk merindukan sebuah keluarga dirumah, karena memang tidak ada. Bukannya aku tidak perduli, tapi yah memang begini keadaannya -mereka, keluargaku/keluarga besarku yang tinggal di Sumatera Barat, berada jauh dariku yang tinggal merantau di Jakarta. Huh, kadang aku tidak ingin memikirkan hal itu, membuatku terlalu sering bersedih karena jauh dari mereka semua.
Aku baru saja selesai merapikan perlengkapan dan peralatan kantorku yang berserakan diatas meja, oh, ini sudah hampir magrib. Setelah selesai aku segera turun ke lantai dasar gedung kantorku, tepatnya di tempat parkir. Nampak terlihat kendaraan yang masih ada di tempat parkir bisa dihitung dengan jari. Semenit berlalu, aku sudah menggunakkan peralatan lengkap untuk berkendara, kupacu motor ku dengan kecepatan yang biasa-biasa saja –tidak lambat dan tidak terlalu cepat juga. Sekarang, langit sudah tidak terlihat begitu mengkhawatirkan lagi –seperti sudah melebur bersama keadaan senja yang temaram. Entah kenapa, jalanan rasanya macet sekali, walaupun memang macet itu sudah menjadi makanan sehari-hari warga Jakarta. Rombongan motor-motor yang masing-masing pengendaranya memegangi bendera kuning benar-benar memadati jalan raya, tapi rasanya bukan hal itu yang membuat jalanan ini macet parah. “Woy sialan!, turun lo dari mobil ambulans. Seret tuh mobil dari jalanan ini, lo kira ini jalan milik nenek moyang lo…” teriak seorang supir angkutan umum yang keberadaan mobilnya tidak dapat aku lihat, karena pandanganku terpisahkan oleh tikungan tajam yang disisi tikungannya terdapat rumah-rumah warga. Dari kedengarannya saja, aku bisa menebak, bahwa memang ada mobil ambulans mogok yang menyebabkan kemacetan ini, dan lagi pengemudi ambulansnya tidak mau keluar mobil untuk sekedar menjauhkan mobilnya dari jalan raya. Mungkin saja mobil itu mengangkut jenazah yang keluarga/kerabatnya juga memadati jalanan dengan masing masing kendaraannya.
Terjadi keributan disana?, aku mendengar banyak sekali teriakkan. Ada yang tidak beres, aku melepaskan cengkraman tanganku dari setir motor, memarkir motornya disitu dan berlari kearah teriakkan-teriakkan itu berasal, melewati tikungan tajam yang tadi memisahkan pandanganku. Aku masih tak tahu yang merasuki diriku saat itu apa karena penasaran atau hal yang lainnya, dan yang pasti sekarang aku sudah dapat jawabannya.
Mataku tidak dapat terpejam, tubuhku tak dapat berkutik. Sosok-sosok manusia, tapi wajahnya sangat menyeramkan –mahluk-mahluk itu menyerang para pengendara yang sedang terjebak kemacetan dan lalu menghisap darahnya, sial ! mahluk apa itu?. Jumlah mereka kira-kira ada tujuh, namun setiap kali mereka menghisap darah manusia itu, manusia tersebut langsung berubah menjadi seperti wujud mahluk menyeramkan itu. “Tidak, kejadian ini memang seperti di film-film, tapi.. sayangnya ini bukan film” pikirku.
Aku tahu mereka, kalau di film-film mereka disebut zombie, tapi kelihatannya agak berbeda mereka lebih ke drakula, karena dari yang aku lihat mereka hanya menghisap darah para pengendara itu bukan memakan dengan daging-dagingnya. Yah apapun mahluk itu, sepertinya aku sekarang harus cepat lari dari sini, aku berlari kearah motor, menyambar setir nya segera dan menyalahkan motor ku, karena hal itu, aku jadi lupa kalau arah rumahku adalah arah sebaliknya dari arah jalananku sekarang. Sesekali aku menengok kearah belakang, zombie-zombie itu sudah bertambah banyak jumlahnya sekarang sudah hampir lima kali lipat dari sebelumnya. Kenapa bisa, ada kejadian seperti ini?, aneh…. Kurasa ini jawaban dari pertanyaan-pertanyaanku tadi siang, mengenai keadaan langit hari ini.
Aku seperti orang bingung, sementara mungkin kebanyakkan orang akan segera pulang kerumahnya lalu mengunci pintunya rapat-rapat, berlindung didalamnya, sampai keadaan memang sudah terlihat sangat aman barulah mereka keluar. Karena kejadian ini memang diluar nalar manusia, dan kita, warga Indonesia tidak pernah dipersiapkan untuk mengatasi hal-hal seperti ini. Sudah hampir jam tujuh dan aku masih berada dijalanan, Jakarta mirip dengan kota mati saat ini, aku baru menyadari ternyata lampu-lampu jalan yang biasanya menyinari jalan, semuanya mati. Aku makin memperlamban laju motor ku dan memberhentikannya tepat di pintu masuk jalan tol, sekarang keberadaanku di sekitar jalan tol, benar-benar sepi disini tak ada kendaraan satupun melintas disini. Aku ingat sekali tadi ketika para pengendara motor dan mobil berusaha kabur dari serangan para zombie itu, banyak yang melaju searah denganku, tapi tanpa sadar sekarang mereka semua sudah tidak lagi didepan, samping, bahkan belakangku. Aku sendiri sekarang, bukannya takut, aku hanya bingung, ketika serangan zombie tadi, hanya segelintir orang lah yang seharusnya mengetahui tentang kejadiannya –tapi sekarang sangat terlihat jalanan benar-benar kosong, rumah-rumah, ruko, kantor dan bangunan-bangunan lainnya yang biasanya dipenuhi oleh manusia, sekarang seperti bangunan-bangunan tak berpenghuni, dengan kata lain serangan zombie tersebut tidak hanya dijalan raya tadi, melainkan ditempat lain juga ada.
Harus bagaimana aku sekarang?, kemungkinannya para zombie itu pasti berjumlah sangat banyak “tap..tapp…tap...tap” suara langkah kaki yang sangat banyak memecahkan keheningan ini –sepertinya suara langkah ini mengarah kepadaku, aku menyorotkan lampu motor kearah suara langkahnya, ini tidak mungkin..
Tidak jelas jumlah nya, tapi kalau dilihat dari sini zombie-zombie itu berjumlah kira-kira dua puluhan. Aku menyalahkan motor ku lagi, memutuskan untuk melarikan diri lagi ”grenk…grenk… grenkkkkk....” motorkupun melaju, “tolong… mas..tolong saya..” teriak seorang remaja lelaki yang membuatku tersentak kaget. Ternyata dia lah yang sedari tadi dikejar oleh para zombie itu bukan aku. Sial ! kupikir aku, ternyata dia yang sedang diincar, aku memberhentikan laju motorku dan memalingkan nya ke bocah itu, ku kejar dia, kenapa dia tidak terkena sorot lampuku tadi? Padahal aku yakin sudah menyorotkan nya kearah para zombie. Dia berlari ke arahku yang juga sedang melaju kearahnya, baguslah jadi meringankan pekerjaanku menolongnya. Remaja itu sekarang tepat di depan motorku dan aku juga memelankan motornya, dia meloncat langsung ke jok belakang, agak jauh memang jarak zombie-zombie itu, jadi kami bisa langsung melarikan diri dengan tenang, “tidak terburu-buru”.
“Siapa nama kamu?” remaja itu bertanya padaku, “gue Aldy, lo sendiri ?”. “aku Rudi” jawabnya, “Oh.. salam kenal aja deh..”, “ngomong-ngomong terima kasih banyak ya mas, atas pertolongannya”. “Ya sama-sama”, suasana hening sejenak. ”Sepertinya zombie-zombie itu tidak mengejar kita lagi, bisa kau agak pelankan sedikit laju motormu, agar aku bisa mendengar apa masih ada zombie di sekitar sini” ucap remaja yang baru aku tahu namanya adalah Rudi. Itu terlihat jelas dari nametag yang tergantung disaku kemeja nya, “baiklah bung, akan kupelankan sedikit” ujarku. “Jadi, Rudi? Apa yang membuatmu bisa dikejar-kejar oleh para zombie penghisap darah itu?”
“Tunggu dulu, kok mas tahu nama saya?”
“Saya lihat dari nametag nya”
Oh, oke, jadi sebenarnya aku juga belum terlalu jelas dengan semua hal aneh yang mungkin akan mengubah takdir kita ini. Tapi sore tadi, ketika aku secara tidak sengaja, terkurung di gudang milik pabrikku, karena selot pintunya rusak dan tidak bisa terbuka –dan saat aku sedang berusaha mendobrak pintu gudangnya, seperti terdengar suara ricuh dan geraman-geraman aneh dari arah luar ruanganku. Karena pintu itu memiliki sebuah kaca tembus pandang yang seukuran dengan televisi 19 inchi, dan kebetulan ruangan gudang yang hanya berpintu satu ini adalah ruangan didalam ruang kerjaku, aku melihat ruangan pabrik tempatku bekerja, sepi disana hanya ada drum-drum minyak bumi dan peralatan yang siap mengolahnya. Tak ada seorang pun, sampai akhirnya ada beberapa temanku yang berlarian di samping mesin-mesin pabrik dengan wajah ketakutan, mereka seperti sedang berlari dari sesuatu –lalu sosok itu muncul dari arah keluarnya teman-temanku tadi, tak dapat kujelaskan spesifik tentangnya, karena saat itu juga aku langsung meringkuk dibalik pintu gudang yang masih tertutup. Aku sempat mendengar teriakkan dari para temanku itu dan ternyata mereka juga jadi berwujud seperti zombie-zombie itu, setelah sebelumnya mereka puas menghisap darahnya. Aku melihat kejadiannya dari celah pintu yang agak berongga, karena aku tidak ingin mengambil resiko kalau-kalau aku mengintip melalui kaca pintu. Setelah keadaan benar-benar aman dan sepi aku mendobrak pintunya lagi dan akhirnya berhasil –saat itu kurang jelas jam berapa, tapi yang pasti saat itu langit sudah terlihat gelap. Aku berjalan keluar dari pabrikku yang sudah tidak berpenghuni, menghampiri jalan-jalan yang biasanya ramai, kini tidak lagi. Dan ketika aku sedang berjalan di jalan raya kosong ini, terdengar suara langkah yang banyak sekali dan sepertinya ingin mengejarku, aku berlari… yang akhirnya mempertemuan kita berdua. Begitulah ceritanya mas, jelas kan?.
“Emm, iya sudah jelas kok, (sangat)”, pikirku. Kulihat jam tanganku lagi, sekarang pukul delapan lewat tiga puluh menit.
“Jadi, Rudi, menurutmu kemana harusnya kita pergi sekarang? Kita kan tidak mungkin mengendarai motor semalaman”
“Aku juga masih bingung mas, bagaimana kalau kerumah mas?”
“Aku tidak punya rumah!” ujarku dengan nada agak sedikit menekannya.
“Ohh… oke, bagaimana kalau kita kerumahku saja?”
“Memangnya dirumahmu aman?”
“Yah,, apa salahnya kalau kita coba dulu”
“Baiklah!”
Motor kupacu dengan kecepatan yang biasa saja, kami sekarang sedang menuju kerumah Rudi. Jalan-jalan raya itu sudah lewat, jalanan yang sedang aku lalui sekarang adalah jalan perumahan yang agak sempit, tapi paling tidak bisa dilalui sebuah mobil pick-up.
Kami sampai didepan rumah Rudi, semua lampu terlihat mati, ini hal yang sungguh tidak kuinginkan. Rudi turun dan berjalan kearah pagar rumahnya yang tertutup “Rudi, hati-hati!” ujarku. Aku akan stand by dengan motor menyala ini, agar ketika saat melarikan diri, kami bisa kabur dengan cepat –Rudi masih berusaha membuka pintu pagarnya. Ada sesuatu yang berlari dari dalamnya rumahnya, kira-kira ada lima “awas Rud! Di depanmu!”, Rudi menjauh dari pagarnya dan berlari kearahku, karena kami telah mengetahui bahwa rumah Rudi tidak aman. Aku berfikir, mungkin sesekali kita harus melawan mahluk-mahluk itu. Kami masih belum beranjak dari depan pagar rumah Rudi, sementara zombie-zombie lapar itu masih berusaha menggapai-gapai kami dari balik pagar yang terkunci tersebut. “Rud, bagaimana kalau kita lawan mahluk-mahluk bodoh itu?” tanyaku, “Mengahajarnya? Kau gila?” Rudi mengerutkan dahinya
“Ia,, mengahajarnya, memangnya kenapa?”
“Tapi, mereka keluargaku!!”
“Itu dulu, sekarang mereka sudah bagian dari setan-setan itu”
“Tapi,,, “
“Oke Rudi, kalau kau tidak mau, sebaiknya kita pergi saja dari sini, untuk mencari rumah yang lain!” ujarku.
Rudi berlari kearahku, dan hinggap tepat dibelakang jok belakangku. “Oke, kita pergi dari sini..”. Setelah tidak beberapa lama, kami menemukan sebuah rumah yang sepertinya tak berpenghuni. Kami masuk kedalamnya, dan mengunci pagarnya dari dalam –dan ternyata memang benar, rumah ini kosong. Rudi memasuki rumahnya, sementara aku sendiri memarkirkan motor ku ditempat terdekat dengan pintu depan, sekali lagi hal ini kulakukan, agar ketika kita harus lari dari sini kita bisa melarikan diri dengan cepat. Satu jam berlalu, setelah kegiatan kami diluar tadi, aku melihat jam tanganku dan sekarang sudah pukul Sembilan lewat tiga puluh menit.
Kami mulai bergerak lagi setelah sebelumnya kami membereskan diri kami dengan mandi dikamar mandi yang tersedia di rumah ini. Semua benda-benda yang bisa kami gunakan untuk mengganjal pintu dan jendela-jendela sudah kami gunakkan untuk mengganjalnya, kami selesai. Semua lubang-lubang apapun dirumah ini sudah tertutup dan terganjal dengan rapat. Seolah-olah sinar matahari pun tidak dapat menembus pertahanan kami ini. Lampu-lampu diseluruh area rumah ini aku matikan, agar zombie-zombie itu tidak curiga dengan tempat kami. Setiap ruangan hanya dilengkapi dengan satu lilin yang berfungsi meneranginya. Waktu berjalan cepat, kala itu sudah jam dua belas tepat, dan kami berencana melanjutkan petualangan ini esoknya, tepatnya jam delapan –kami mengatur agar waktu tidur kami masing-masing bergantian, supaya tetap ada seseorang yang terjaga sementara sisanya tertidur. Aku berjaga bergantian, dan aku kebagian jaga pertama –Rudi memang terlihat sangat lelah jadi aku membiarkannya tertidur lebih dulu. Ada cukup banyak lilin yang kami pakai untuk menerangi setiap ruangan dirumah ini –ruang makan, kamar mandi, kamar tidur, dan dapur, bahkan ruangan yang sepertinya tidak kami pakai pun kami pakaikan lilin, karena takut ada sesuatu yang terjadi diruangan itu dan kami berdua tidak dapat melihatnya, karena gelap.
Untungnya rumah ini tidak tingkat, hanya satu lantai –rumahnya berbentuk memanjang tetapi lebar, dari mulai pintu masuk yang berada di sebelah kanan. Menerus ke lubang-lubang yang berukuran seperti lubang pintu tapi ini tidak berpintu dan disetiap lubang pintu di sebelah kirinya adalah ruangan yang cukup lebar. Dari pintu masuk pertama langsung berada di ruang tamu, ruang kedua adalah kamar-kamar yang juga dipisahkan oleh sekat tembok dan dihubungkan oleh lubang-lubang tanpa pintu, ketiga dapur, keempat kamar mandi yang diakhiri oleh pintu masuk kedua dirumah itu.
Beruntung rumah ini hanya berpintu dua dan berjendela empat ditiap-tiap ruangannya, jadi kami tidak perlu repot-repot mencari barang-barang untuk mengganjal dan menutupnya. Dari tadi yang aku lakukan hanya berkeliling didalam rumah ini yang nampaknya memang tidak terlalu besar, bolak-balik dari ruang tamu ke kamar mandi/dapur yah… cukup melelahkan setelah seharian aku bekerja, sesekali aku mendekatkan telingaku ke tembok, berharap bisa mendengar apa yang terjadi diluar sana. Tak terdengar apapun, kutengok jam tanganku lagi, ternyata baru satu jam berlalu –ku duduk di sofa-sofa yang tertata rapih diruang tamu. Oh.. rasanya aku ingin tidur sekarang…
………
Aku mulai terbangun dari tidur ini, mataku mulai terbuka, “waduh jam berapa ini?” aku terjatuh dari sofa-sofa tempatku tertidur, kulihat jam tanganku –“hah pukul tujuh pagi”. Aku berlari kearah ruangan tempat Rudi tidur secepat yang aku bisa, “Rudi” teriakku ketika aku hampir membuka tirai yang menutupi ruangan tempat Rudi tidur. Rudi sudah tak ada, kemana dia?, “Mas”. Aku reflek kaget dan menghindar dari arah suara itu berasal, yaitu dari belakang punggungku. “Ini aku mas, Rudi” jelasnya.
“Waduh hampir saja,,, kukira kau,, ah sudah lah. Tidak terjadi apa-apa kan?” tanyaku.
“Iya mas”
“oh.. ya maaf ya karena aku ketiduran..”
“gak apa-apa mas, barusan saya habis mandi, mas Aldy gak mau mandi dulu? –dan setelah itu kita lanjutkan berpetualang lagi” ucap Rudi dengan nada suaranya yang agak serak.
“Oke-oke aku mandi sekarang,” jawabku. Sepertinya ada yang aneh dengan keadaan Rudi –suaranya, cara bicaranya, ahh sudahlah aku tak ingin memikirkannya lagi lebih baik aku segera mandi. Aku menyambar handuk yang berada di tangan Rudi lalu berjalan kearah kamar mandi yang terletak dikamar paling belakang. Sepanjang waktuku untuk mandi aku mengingat-ingat kejadian yang telah terjadi sebelum semua hal ini terjadi, dan berusaha menganalisa siapa tahu ada pemecahan masalahnya.
Aku selesai dengan kegiatan ini, ketika aku baru saja ingin membuka pintu kamar mandi, ada sebuah suara dari ruangan sebelah yang amat tidak ingin sekali aku dengar berada di rumah ini. Suara itu… aku mendekatkan diriku ke tembok, berjalan beringsut-ingsut kearah suaranya berasal. “Ini saatnya,” aku mengintip keruangan sebelah, sial! Itu, itu Rudi, dan dia sedang berbicara dengan sekumpulan zombie-zombie, “tunggu dulu!” Zombie itu bisa bicara… sial, sial, sial, seharusnya aku sudah tahu dari awal kalau dia adalah pengkhianat. Jadi harus bagaimana aku sekarang?, aku berjalan mundur perlahan, kupikir sekaranglah saatnya untuk melawan!. Siapa ini?, ada yang mengahalangiku dibelakang, sial! …
…………
“Keluarkan kami, keluarkan kami… bajingan!” riuh suara sekeliling sayup-sayup terdengar. Mataku masih belum sepenuhnya berfungsi tetapi telingaku sudah dapat mendengar apa yang sedang terjadi di tempat kuberada ini. Ada banyak sekali orang disini, tapi sekali lagi harus kujelaskan bahwa mataku belum dapat melihat ini semua dengan jelas, entah obat apa yang mereka biuskan waktu itu yang jelas aku seperti orang buta sekarang. Seseorang memegang tanganku, “mas, mas sudah bangun rupanya, mas nggak apa-apa?” ucap seorang wanita yang sedang berusaha membantuku untuk berdiri. “Iya mbak, nggak apa-apa” sambil berusaha untuk berdiri, “memangnya apa yang sedang terjadi mbak?” timpalku.
“memangnya mas tidak bisa melihat?” tanyanya yang sedikit agak bingung.
“nggak, sepertinya ini cuma efek dari obat bius yang mereka berikan ke saya supaya saya pingsan, dan efeknya masih berfungsi sampai sekarang, saya nggak buta kok, Cuma sementara” jelasku.
“waduh saya jadi kasihan sama mas, kalau boleh saya tahu, nama mas siapa ya?” tanyanya lagi.
“saya aldy, kamu?”
“saya Linda salam kenal”
“Linda, kamu bisa jelaskan ke saya nggak, sebenarnya apa yang sedang terjadi disini?”
“Bisa mas. Sekarang nih keadaannya kita semua sedang dikurung disebuah container yang besar”
“Oleh siapa?”tanyaku
“Ya oleh mereka, Galianth dan para zombie-zombie itu yang adalah anak buahnya”
“Galianth, siapa itu?”
“Dia itu seorang dokter yang terobsesi membuat mahluk-mahluk monster yang sekarang kita panggil zombie itu. Dia adalah pemimpin sekaligus ayah dari para setan itu. Dari yang aku tahu, sebenarnya yang kita panggil zombie itu sebenarnya manusia yang separuh dirinya adalah setan, pada malam di mana Dokter Galianth membangkitkan mereka semua, Dokter Galianth membuka gerbang menuju dunia kegelapan dan memanggil setan-setan itu untuk bergabung dengan manusia yang sudah dia siapkan untuk eksperimennya itu, ia menyebutnya eksperimen gaib.”
“Jadi seperti itu ceritanya. Aku tidak tahu sama sekali” mataku mulai pulih aku bisa melihat apa yang sedang terjadi, aku melihat sekelilingku dan aku terpaku pada seseorang yang sedang berdiri berhadapan denganku sekarang. Seorang wanita yang sepertinya seumuran denganku, rambutnya hitam panjang terurai sampai pinggang tanpa dikuncir, wajahnya sederhana putih, bersih, teduh ketika aku melihatnya. Aku memalingkan pandanganku kearah lain, melewati Linda.
Aku berjalan kearah orang-orang yang sedang menggedor-gedor pintu container, “sebaiknya kita diam” aku menepuk dua orang yang sedang menggedor-gedor pintu didekat ku tepat setelah aku berhenti melangkah. Kira-kira disini ada sebelas orang, lima orang tertidur pulas kecuali yang membangunkanku tadi, sisanya enam orang yang kesemuanya adalah lelaki yang sebaya denganku sedang menggedor-gedor pintu container. Dua orang lelaki yang kutepuk tadi menyuruh, teman-temannya untuk diam juga, mereka memandangiku, “jadi.. apa kau punya ide yang lebih baik dari ini” salah seorang dari mereka bertanya padaku, badannya yang paling kecil dari semua lelaki disini termasuk aku. “Aku Aldy” aku mengajaknya berjabat tangan, “gue Lori, salam kenal” mereka lalu menyambung menjabat tanganku bergantian.
“saya Paldi”
“saya Iman”
“saya Sony”
“saya Fahmi”
Orang terakhir tidak ingin menjabat tanganku, ia memalingkan pandangannya kearah lain, seolah aku tak ada. “Dia itu Boris mas, bekas pegulat yang sudah terkenal namanya” Iman membisikikku. “oh ya, terima kasih” ucapku pelan.
“Jadi begini, sebenarnya aku tidak punya rencana apapun untuk meloloskan kita semua dari sini, tapi aku punya sebuah ide yang baru saja terpikir olehku” jelasku.
“Kalau kau tak punya rencana, untuk apa kau membuat kami berhenti memukuli pintu ini?” Tanya Boris sedikit membentak.
“begini mas, menurut logika ku sampai kapanpun kita tidak akan bisa menjebol pintu ini kalau hanya dengan tangan kosong saja. Jadi kita hentikan saja itu sekarang. Oh ya sudah berapa lama kalian semua menggedor-gedor pintunya?”
“Memang kenapa?, semenjak gua pulih dari tidur sampai sekarang ini, gua terus gedor-gedor ini pintu, jangan nanya yang macem-macem deh!” ia melangkah maju seperti ingin memukulku, namun dihalangi oleh Sony, Fahmi, dan Iman. “Sabar mas sabar..” ucap Iman sambil memegangi bahu kiri Boris.
Kalau yang dikatakan Boris itu memang benar adanya, berarti yang para zombie itu tahu adalah, bahwa bebunyian itu menjadi radar masih hidup atau tidaknya kita yang didalam sini, dengan kata lain, apabila kita menghentikan kegiatan itu seperti sekarang ini, para zombie-zombie itu pasti akan curiga. “Dengar, bila kita masih bersuara didalam sini itu membuktikan bahwa kita semua masih hidup, justru kebalikannya jika kita tidak bersuara mereka akan curiga dan segera membuka pintu ini untuk memeriksanya, saat itulah kita bisa keluar dari tempat ini” jelasku kepada mereka semua. Sejenak mereka semua terdiam, “itu sih namanya bukan ide mas, itu sih rencana” celetuk Linda yang ternyata mendengar percakapan kami. “Kamu nggak tidur Lin?” tanya Boris kalem. Boris yang seperti macan ketika berbicara denganku tadi, mendadak seperti anak kucing ketika menyapa Linda. “Iya aku belum tidur, habis mas pada berisik sih” jawabnya.
“Iya, sory deh sory.. hehe” balas Boris.
Linda tersenyum kecil padaku, dan lalu memalingkannya lagi ke wajah Boris. “Menurutku ide mas Aldy sangat bagus, menurut mas? Bagaimana?” tanyanya ke Boris. “Mmmm,, bagus kok bagus.. ide lo bagus men” sambil berusaha menjabat tanganku, dan aku pun membalasnya. “Oke, mulai sekarang jangan lakukan hal apapun yang sekiranya dapat menghasilkan suara yang kencang, mungkin hanya berbincang-bincang saja kalau memang butuh”. Mereka manggut-manggut mendengar perkataaanku, kami tidak tahu sekarang siang atau malam, karena semua barang-barang seperti handphone, arloji atau barang berharga lainnya sudah tak tersisa lagi disini, zombie-zombie itu telah membawanya –yang tersisa hanyalah pakaian yang kami kenakan saja. Sepanjang waktu aku hanya duduk dipojokkan sudut container bersama yang lainnya disebelahku kecuali mereka, para wanita yang masih saja tertidur pulas dan juga pasangan kekasih Linda dan Boris. Aku berbincang-bincang ringan dengan si Iman, Paldi, Fahmi, Sony dan Lori, tapi sesekali aku mencuri pandang ke Linda dan sesekali juga ia membalasnya. Hari yang tidak ketahui kapan waktunya itu berlalu beberapa jam sepertinya.
…………
Mereka semua tertidur setelah cukup lama mereka menunggu. Aku tak dapat berbuat apa-apa lagi selain tetap terjaga sendirian dan menunggu rencana ini berhasil. “Brang…brang…brang… hey apa kalian masih hidup?” suara para zombie dari luar, “mereka mulai menyadarinya –inilah awal keberhasilan dari recanaku” pikirku. Aku membangunkan mereka semua dengan langkah yang hati-hati dan tanpa suara sebisanya –berkeliling kesudut-sudut container tempat mereka tertidur masing-masing. Terakhir, disudut dekat pintu bersebrangan dengan tempat ku terjaga tadi mereka berdua pasangan kekasih yang saling berpelukkan dalam tidur nya, Boris dan Linda. Aku agak gugup melangkahkan kakiku kearah sana, “ssst… biar aku saja yang membangunkan” Lori menyetop langkahku yang gugup, “ya.. terima kasih”. Lori membangunkan mereka dan akhirnya lengkaplah semua, aku menyuruh mereka semua berkumpul ditengah dengan isyarat tanganku. “Jadi kupikir mereka semua sudah tertipu dengan keadaan yang kita buat ini, dan sebentar lagi para zombie itu akan memeriksa kedalam sini jadi bersiaplah. Aku ingin kita dibagi menjadi kedalam tiga kelompok, kelompok pertama berjaga dibalik pintu kiri, kelompok kedua pintu kanan, terakhir para wanita sebagai kelompok ketiga berdiam di pojok belakang container sambil berpura-pura tidur agar memancing para zombie untuk masuk kedalam. Kelompok pertama aku, lori, fahmi, sony sementara kelompok kedua adalah sisanya”. “Apa kalian semua mengerti?” tanyaku, sekali lagi mereka semua mengangguk bersamaan. Rencana mulai berjalan, kami sudah menempati pos masing-masing bersama kelompok masing-masing. Masih belum terjadi apa-apa, aku berdoa dalam hati agar rencana ini berhasil, akan kubunuh si Galianth dan mengakhiri semua kejadian ini.
“Grek…grek…grek… trang” pintu dibuka, “bersiap” ucapku pelan.
“Hey gadis apa yang kalian lakukan ditengah sana… apa kalian tidur atau… mati? Hey.. Kemana yang lainnya?” zombie-zombie berjalan kedalam, kira-kira jumlahnya ada lima dan kami tidak tahu masih ada berapa lagi yang berjaga diluar sini –“Lori, aku ingin kau melaju lari keluar dari tempat ini setelah kami semua menghadapi mereka satu persatu oke… cari apapun yang berguna entah itu untuk melawan mereka semua atau untuk melarikan diri dari sini” tegasku pada Lori, “Oke Bro…” ia tersenyum padaku. Zombie-zombie tepat ditengah, “sekarang!!!” teriakku, aku berlari diikuti temanku dari kelompok satu dan disudut lain Boris pun memimpin kelompok kedua berlari kearah para zombie bersamaan denganku. “Mati kau” teriak Boris yang sudah berhasil menangkap salah satu kepala zombie setelah sebelumnya ia meloncat kearah mereka. Aku memukul kepala salah satu zombie dan nampak wajahnya yang buruk sangat amat marah, kami pun mengahdapinya satu melawan satu karena jumlah kami sama lima melawan lima, sementara Lori memimpin para wanita untuk mencari sesuatu yang dapat dipergunakan untuk melawan ataupun meloloskan diri dari sini. “Perlu bantuan?” tanya Boris yang ditangannya sudah memegangi kepala zombie yang ia buat putus, “tidak, terima kasih” ucapku sambil melakukan pukulan terakhir diwajah sang zombie hingga membuat kepalanya menengok 180 derajat. “Apa yang kalian semua sudah selesai dengan pekerjaan masing-masing? Hahaha…” teriakku meledek. “Sudah Kapten” teriak mereka bersamaan. “Ayo” kami berjalan keluar menyusul Lori dan para wanita yang keluar terlebih dahulu dari tempat ini, “dimana mereka” Tanya Boris.
“Aku tidak tahu,yang jelas tempat ini sangat besar, seperti ruangan kosong besar didalam sebuah kapal laut” ucap Iman, ia memandangi sekeliling.
“Ini gudang penyimpanan” jelas Iman,
“gudang penyimpanan untuk apa?” tanyaku.
“aku tidak tahu pastinya, tapi ini memang gudang penyimpanan, kalian lihat sendiri kan, disini sangat luas dan isinya hanya container-container besar yang ditumpuk dan disusun satu sama lain” jelas Iman. Didepan container kami sudah ada dua persimpangan.
“Kita harus cari jalan keluarnya, baik, kelompok satu ke kanan, dua ke kiri, ayo bergegas!” ucapku sambil berlari diikuti fahmi dan sony. Container-container ini tersusun dengan sangat rapih kesamping dan membentuk tembok-tembok hingga… “tunggu, ini seperti labirin!, mereka memang bermaksud untuk memisahkan kita semua” pikirku.”Tunggu” aku menghentikan langkahku, “apa lagi” tanya Fahmi kesal. “Tidak… menurutku kita tidak seharusnya berpisah, karena para zombie itu pasti sengaja membuat kita terpisah agar lebih mudah menangkap kita semua, ikuti aku” aku berlari berlawanan dengan arah ku berlari tadinya, untuk mengejar Boris. “Semoga ia belum jauh…”, kami semua berlari mengejar kelompok Boris, sungguh container-container ini terlampau banyak sehingga banyak sekali persimpangan jalan disini. Kami harus memilih salah satu jalan dari tiap persimpangan, dan terus berteriak nama Boris dengan kencang. Baru sebentar terpisah sepertinya mereka sudah jauh sekali, atau mereka sudah ditangkap duluan, pikiran kuterus berkecamuk dengan hal-hal negatif yang akan terjadi pada mereka semua, teman-teman yang baru saja aku temui tapi aku merasa harus melindunginya. Aku masih berlari hingga sebuah suara jeritan yang asalnya entah dari mana, menghentikan langkah ku, sony dan fahmi.
“Itu suara Linda, aku kenal sekali…” ucapku, mereka berdua saling memandang satu sama lain lalu akhirnya memandangku dengan pandangan aneh seperti tidak mengerti apa yang sedang terjadi. “kenapa” tanyaku
“ti…tidak kok, tidak ada apa-apa, hehe” sony tersenyum.
“Apa kalian bisa tahu dari mana suara itu berasal?” tanyaku.
“Menurutku kearah sini” fahmi berlari diikuti aku dan sony, “kesini” kami mengambil arah kiri setelah sebelumnya ada sebuah perempatan yang membingungkan untuk dipilih. Aku berhenti lagi, namun kali ini aku berhenti untuk mengambil sesuatu, peralatan tukang bangunan yang entah punya siapa tergeletak berantakan dijalanan, aku mengambil kunci inggris, penggaris besi, palu, dan kampak kecil. “Hey, ambil ini” aku berlari dan memberikan palu ke sony dan kunci inggris ke fahmi, sementara aku pegang penggaris besi dan mengantongi kampak kecilnya disela pinggang celanaku. “Bagus Dy.. sekarang, ini baru yang namanya melawan” ucap sony, “Bener tuh Bro” lanjut fahmi. Kami melanjut berlari dan tidak lama setelah kami melewati persimpangan lagi dan memilih arah kiri, kami menemukan tempat asal suara tadi. “sebentar biar aku lihat keadaannya dulu” aku berjalan beringsut di dinding container, melihat keadaan di situ dengan sebelah mataku. Itu mereka, ada linda dan wanita lainnya, Lori, Iman, Paldi, mereka semua digantung didinding container dengan tangan yang diikat diatas kepalanya, “tunggu, dimana Boris” tanyaku dalam hati, pertanyaanku terjawab setelah ada seorang zombie menyeret sebuah mayat manusia yang tubuh dan wajahnya tersayat-sayat oleh bekas cakaran dan gigitan. “Sial!! itu Boris” aku menengok kearah kanan dan kiri tapi memang tidak ada penjagaan disini tak ada satupun zombie, zombie yang tadi membawa mayat Boris pun sudah kembali lagi lewat lorong lainnya diruangan itu.
Aku menengok kearah belakang dan memberi tahu kepada sony dan fahmi tentang keadaanya sekarang, “kita harus bergegas, aku membebaskan Linda dan yang lainnya, sony berjaga di depan lorong ini dan fahmi di depan lorong tempat zombie itu masuk tadi” jelasku “jelas?”, “jelas bro” ucap mereka berdua. Celah atau bisa kusebut ruangan ini hanya memilik dua lorong yang bisa untuk dilewati, satu tempat kami masuk tadi dan dua tempat zombie masuk tadi. Aku memotong tali mereka satu persatu dengan kampak kecilku, aku melakukannya dengan secepat yang aku bisa agar tidak terlalu membuang waktu disini, “terima kasih ya mas…” ucap Linda lembut.
“Terima kasih ya mas” ucap mereka semua secara bergantian, “ya sama-sama”, “awas mas Aldy” teriak Linda. Boris yang aku tidak sadar bahwa dia masih disini sebagai zombie bukan manusia!, mencengkeram tanganku dari belakang, dan segera menancapkankan gigi-giginya tepat dileherku. “Mati kau” ucapnya…
………
Aku terbangun, ditempat yang sama ketika aku dihisap darahnya tadi –teman-temanku sudah tidak lagi disini, mereka sudah tidak lagi disini, aku tak bisa melindunginya, apa gunaku?. Kuberdiri dan dengan langkah yang agak lemas aku berjalan mengikuti instingku. Apa sebentar lagi aku akan menjadi zombie-zombie itu juga?, apa yang aku harus lakukan ketika harapan mereka semua akan berbalik menjadi kematian bagi mereka. Mataku seperti melihat cahaya putih tepat didepan mata ku kemudian makin mendekat sehingga ia seperti masuk kedalam mataku, aku terjatuh duduk –menggeleng-gelengkan kepalaku untuk menghilangkan efek cahaya tersebut, ini seperti terlahir kembali. Aku merasakan kekuatan yang sangat besar berada didalam diriku, entah apa ini. Tapi sekarang harapan kalian teman,,, akan segera jadi kenyataan –tanpa pikir panjang aku berlari dan lagi hanya mengikuti instingku karena disepanjang jalan memang tak ada petunjuk apapun. Tak lama aku berlari ada sebuah pintu besar yang memang akhir dari lorong-lorong container ini, ku pukul dengan tangan kosong dan anehnya pintu itu langsung bolong, ini luar biasa. Ku perhatikan kedua tanganku dari mulai lengan sampai ketelapak tanganku, “tidak ada yang aneh, tunggu,” jari-jari ku menampakkan kuku-kuku yang amat runcing dan amat tajam –sekarang aku benar-benar separuh setan dan separuh manusia. Aku lebarkan lubang dipintu itu dengan cakar milikku, sekarang ruangan apa lagi ini?, ruangannya amat luas lagi-lagi –aku memasukinya dan langsung mendapat sambutan hangat dari para zombie, mereka berjumlah kira-kira ratusan dan siap menyerangku. Dari kejauhan kulihat, itu Lori, Iman, Paldi, Sony, Fahmi dan terakhir Boris, “oh tidak… kau memang bajingan! Galianth!...” aku berlari menghajar satu persatu dari mereka semuanya, yang aku tidak ingin melawannya. “Maafkan aku” sambil mengayunkan kampak ku ke kepala Lori, Iman, Sony, Paldi –aku memukul kepala Boris, dan menusuk dadanya dengan cakar ku hingga tembus.
“Maafkan aku Boris” aku berlari lagi, mengahajar zombie yang masih amat banyak itu, pukul, tusuk,tebas dengan kuku ku yang amat runcing dan tajam, sampai-sampai aku pun sempat mengigit leher mereka, dan rasanya memang sangat luar biasa, sesekali aku melihat sekeliling ruangan ini. mencari tahu dari mana zombie-zombie ini masuk itulah jalan keluarku. “Ha.. pintu keluar” diujung tempat para zombie keluar berdesakkan untuk kearahku ada sedikit cahaya putih terlihat, “minggir kau, kau… dan… kau” aku menebas zombie terakhir sebelum aku mencapai pintu keluar yang masih saja dipadati oleh setan-setan ini. Aku berhasil melewatinya dan pintu itu lalu tertutup dengan sendirinya dengan hanya menyisakan beberapa zombie disini, aku menghajarnya lagi, dan dengan beberapa gerakkan juga aku melumpuhkan mereka. Ternyata ini adalah kapal laut, aku berada ditengah lapangan luas kapal laut yang terbuka yang biasanya digunakkan untuk mendaratkan sebuah pesawat jenis Helikopter. Ini persis seperti apa yang dikatakan Iman, tapi lebih parahnya lagi, kita berada ditengah laut, sial!. Seseorang berjalan kearahku, entah dari mana asalnya ia muncul begitu saja bersama Linda yang ia cengkeram dengan lengannya, ia memakai jubah yang menutupi sekujur tubuhnya hingga kepalanya. “Hahaha…… Bagus-bagus, ternyata berhasil, kau adalah hasil eksperimen ku yang berhasil, hahaha… tidak kusangka kita akan bertemu disini. Aldy” ia membuka tudung kepala yang sedari tadi menutupi kepalanya. “Rudi, harusnya aku sudah tahu semenjak awal bahwa kau dalangnya,, bajingan.. lepaskan Linda atau aku akan merobekmu!!”, “Hahaha, aku bukan Rudi, panggil aku Galianth, atau Dewa Galianth, hahaha… memangnya bisa apa kau, merobekku?” ia melemparkan Linda kelantai melepas jubah yang telah lama menutupi sekujur tubuhnya. Nampak jelas, tubuh nya sudah terlalu banyak ia gunakkan untuk eksperimennya sendiri, berwarna kebiru-biruan dengan urat-urat nya yang menonjol terlihat jelas –otot-ototnya amat kekar, cakar-cakar yang panjang, terakhir giginya yang bagaikan pisau katana dideretkan sampai 32 buah didalam mulutnya. Aku tak kan gentar begitu saja, namun belum sempat aku melangkah, Galianth sudah berada disampingku memukul perut ku hingga aku terpental sejauh sepuluh meter dan akhirnya dihentikan tembok container yang kokoh sampai-sampai membuatnya remuk kedalam. Dadaku sesak sekali, aku belum sanggup untuk berdiri, jika yang dipukulnya adalah manusia biasa, pasti ia sudah mati. Galianth berjalan meninggalkanku, mengambil Linda yang masih terkapar tidak berdaya setelah ia melemparnya ke lantai baja kapal ini dan menyeretnya kearahku.
“Aku ingin kau memberikan sampel darah mu, kalau tidak wanita ini akan kuubah menjadi mahluk yang sama seperti kita” sambil menjambak rambut Linda yang tidak berdaya. “Ini” ia melemparkan sebuah botol suntikkan lengkap dengan jarum suntiknya kearahku. “Kenapa kau tidak ambil sendiri saja dari tubuhku setelah kau membunuhku?” ucapku pelan.
“Haha… aku tidak ingin membunuhmu, kau akan kukendalikan dengan ilmu gaibku ini, dan menjadi pengawalku yang setia seumur hidup, hahaha… lagi pula aku lebih suka melihat seseorang menderita ketika melakukan hal yang tidak ia inginkan”
“Kau…… sial!,,, lalu untuk apa kau inginkan darah ini?”
“Itu untuk menyembuhkanku dari kutukan busuk ini, agar aku bisa menjadi manusia semula lagi dan menciptakan monster-monster lebih banyak lagi dan mengendalikannya untuk menguasai dunia… cukup! kau sudah terlalu banyak tahu tentang semua ini, lebih baik cepat kau suntikkan jarum suntik itu ke tubuh mu atau kau akan menyaksikan wanita mu ini menjadi zombie sama seperti kita berdua, haha” ucapnya.
“Jadi begitu” aku sudah tahu sekarang, aku menyuntikkan jarum suntik nya ke lenganku, menarik penekan nya hingga botol suntik nya hampir penuh. “Ini dia, hadiah dariku” aku tersenyum, berdiri dan melangkah perlahan ke arahnya.
“Oh ya, satu lagi, apa kau tidak takut aku akan menyerangmu ketika kau sudah tidak berwujud monster lagi?” tanyaku meledek.
“Apa, tentu saja tidak, bodoh… aku melakukan ritual terlebih dahulu untuk dapat mengendalikanmu barulah aku merubah wujudku menjadi manusia normal lagi, pintar kan? Haha… iya lah aku kan Dokter, dan kau haha… Dasar Pecundang!” katanya dengan bahagia.
“Oh ya,” sebenarnya aku hanya mengulur waktu sampai Linda benar-benar terbangun dan aku bisa melemparkan darah ini untuk dia suntikkan ketubuh Galianth. “Linda… “ apa kau sudah terbangun, aku menghentikan langkahku.
“Untuk apa kau memanggilnya, sekarang lebih baik kau lemparkan darah itu, cepat kataku!”
“Baiklah, ini” aku melemparkannya merendah hampir mengenai lutut Galianth, karena memang aku melemparnya bukan untuk dia tapi untuk Linda, Linda menangkapnya dengan lemah. Aku meloncat kearah Galianth yang sedang terpaku pada botol suntikkan nya, “aku menangkapmu” ucapku sambil menahan tangan dan kakinya sebisaku, “Linda cepat suntikkan!!” Linda menyuntikkan alat suntik itu ke lengan Galianth yang sedang ku tahan, menekan nya hingga semua darah yang tadinya terisi penuh disitu menjadi kosong seketika.
“AAARRGGHHHHH……… bedebah kalian!!!!” teriak Galianth, ia berontak dan melemparkan ku jauh sekali sehingga aku tak dapat menolong Linda.
Terlihat dari jauh, Galianth yang amat marah langsung berdiri dengan tubuh yang masih bergejolak oleh darahku tadi, ia mengangkat kepalanya Linda dengan menjambak rambutnya dan digigitnya Linda tepat dilehernya. “Tidakkkkk… dasar sialan! Akan kubunuh kau!” aku berjalan tertatih-tatih kesana, namun itu telah terjadi. “Haha… rasakan itu… Oh kenapa… Tidak, tidak sekarang, tidak…” Galianth berteriak kencang, dan kini sambil ia bergelinjang tak karuan dilantai ia terbaring tepat didekat Linda yang sedang bergejolak ingin berubah wujud juga. Galianth kini menjadi manusia lagi, dan ia masih terbaring disamping Linda yang mulai berubah menjadi zombie –sesegera Linda langsung menyergap Galianth atau bisa kupanggil Rudi yang masih terbaring lemah dan segera menghisap darahnya dengan brutal, Rudi menggelepar dan mati, tidak berubah lagi menjadi menjadi zombie, mungkin karena ia sudah merasakannya sekali dihidupnya jadi ia tak dapat berubah lagi. Sekarang Linda menatapku berlari kearahku dan meloncat, aku menghindarinya, berlari mengambil alat suntik didekat mayat Rudi. “Ini harus cepat” aku menyuntikkan nya kelenganku sekali lagi sampai penuh, ia datang, “Argggh…” Linda menggeram, aku tangkap lehernya dengan tangan kananku seperti mencekik tetapi tidak terlalu kencang, menahannya dilantai –ia sempat meronta-ronta hingga akhirnya aku menyuntikkan alat suntik itu dengan menggunakkan tangan lainnya. Linda lalu bergejolak lagi tapi tidak seperti tadi, kali ini lebih pelan –“anti virusnya sedang bereaksi”.
………
Aku mengambil jam tangan milik Rudi, berjalan agak jauh untuk melihat matahari yang hampir tenggelam, sekarang hampir pukul enam sore. “Apa yang terjadi, apa Galianth sudah mati?” sebuah tangan lembut memegang pundakku dari arah belakang. “Linda … Kau…” aku memeluknya, “kau selamat, terima kasih tuhan” ucapku pelan. Kami mencari sekoci untuk segera melarikan diri dari tempat ini, setelah kutemukan memang hanya tinggal satu-satunya, “Kau duluan” ucapku “Oke, thanks”. Kami mendayung sekoci menuju ke kota kami yaitu Jakarta… “apa semua zombie-zombie itu suda mati?” Tanya Linda
“Aku tak tahu, yang pasti” aku melihat jam tangan milik Rudi lagi.
“Sudah 24 jam berlalu dari pukul enam sore kemarin, ini semua dimulai hingga aku terlibat dengan semua hal ini sampai akhirnya sekarang pukul enam sore lagi dan ini semua telah berakhir” lanjutku.
“Ayo kita pulang…” ucap Linda.
“Ayo …” aku menatap matanya dalam-dalam, dan aku bisa melihat masa depanku disana.
………
Setelah kami datang ke Jakarta atau bisa kusebut Kota Karantina, kami menyebarkan anti virus tersebut ke semua zombie yang masih hidup, dibantu oleh beberapa orang yang juga masih belum terinfeksi. Setelah beberapa hari, semua penduduk kota sembuh karena apabila seseorang yang sudah terobati oleh darahku seluruh keluarga yang punya hubungan darah dengannya yang juga terinfeksi akan sembuh dengan sendirinya. Jakarta kembali hidup, tidak seperti Kota Mati lagi, rasanya… satu hari itu memang terasa seperti berbulan-bulan, padahal hanya 24 jam.
(Semua kejadian itu akhirnya menyisakan sesuatu yang tidak kuduga sebelumnya, kekuatan Separuh Setan dan Separuh Manusia –dan kini aku hidup sebagai manusia biasa yang kadang menolong seseorang yang sedang terancam kejahatan dengan kekuatan istimewaku ini, karena seseorang yang baik pun pasti dapat menjadi jahat jika ia mengiginkannya)
[/center]
Kembali Ke Atas Go down
lonelybear
Pendatang Baru
Pendatang Baru
avatar

Jumlah posting : 13
Points : 19
Reputation : 0
Join date : 08.02.13
Age : 31
Lokasi : In My Mind - (DEPOK)

PostSubyek: Re: Cerpen "24 Jam"   Mon 1 Apr 2013 - 11:42

Saya mau baca, tetapi pas lihat kamu mostingnya kek begitu. Ngebuat saya jadi malas.
Kembali Ke Atas Go down
 
Cerpen "24 Jam"
Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1
 Similar topics
-
» Pengen bagi2 cerita ttg safety riding
» SHARING PENGALAMAN - MODIFIKASI MOTOR !!!!!!
» GENG "[b]MOTOR[/b]" YANG ANARKIS ??
» Cerita Plester (plesetan Misteri) "Ninja Menangis di Tengah Malam"
» Crime Story #2 : Akhir Petualangan "Whitey Bulger"

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
SINDIKAT PENULIS :: Arena Bebas :: Pamer Karya-
Navigasi: