SINDIKAT PENULIS
Silakan login dahulu, biar lebih asyik.
Kalau belum bisa login, silakan daftar dahulu.
Setelah itu, selamat bersenang-senang...


Kami adalah penulis, dan kami tidak butuh persetujuan dari siapa pun!
 
IndeksCalendarFAQPencarianPendaftaranLogin
"Jika ada buku yang benar-benar ingin kamu baca, tapi buku tersebut belum ditulis, maka kamu yang harus menuliskannya." ~ Toni Morrison

Share | 
 

 ..... M .....

Go down 
PengirimMessage
prutprut
Penulis Pemula
Penulis Pemula
avatar

Jumlah posting : 117
Points : 161
Reputation : 6
Join date : 23.06.11
Age : 31
Lokasi : Malang

PostSubyek: ..... M .....   Sat 18 Jan 2014 - 15:59

M
Lucunya Pagi ini. Ada hal-hal yang membuat orang-orang se kampung tertawa lepas. Itu karena lama sekali Sofia berada di tempat yang tidak seharusnya. Gadis mungil berusia 13 tahun itu sedang jongkok di pinggir sungai depan rumah gubuknya. Tidak mengenakan rok. Dari perut sampai kaki dibiarkan tenggelam. Sambil tak bosan bermain ciprat-ciprat air sungai yang keruh. Kadang, sampah plastik bekas snack yang mengalir, ia ambil untuk dibuat mainan. Dibolak balik, disobek-sobek, lalu dibuang. Dan main ciprat-ciprat lagi.
Ceritanya, pagi tadi jam enam-an. Sofia masih tidur pulas di kamar kardusnya. Ibunya. Bu Ninik, sudah sarapan, dan mau berangkat mulung.
“Sof! Jangan siang-siang bangun!” Ujar Ibu. “Nanti setelah sarapan jangan lupa bantuin Mak Cik di toko, biar dapat upah!”
Sofia yang masih merem, mendengar suara ibunya, mengangguk sebentar. Lalu tidur lagi.
Udara siang masuk ke rumah. Melewati sela-sela bingkai jendela, lalu merambat ke kamar kardus Sofia. Dia bangun. “Ya ampuunn! Sudah siang!” katanya sambil bangkit dari kasur tanpa mengucek mata. Tapi mendadak dia terpaku. Menatap kasurnya yang basah. Ini tak lazim! Sebab, sudah lima tahun dia tidak pernah ngompol. Sofia menyibak roknya dan…
“Aaaaggrrhhhh!!!!!” Sofia menjerit histeris! Lalu menangis menjadi-jadi saat tahu ada darah mengalir di bawah tubuhnya. Di bagian vital.
“Buuukkk!!!!!” Dia memanggil ibunya. “SOFIA MAAUU MAATTIIII!!!” teriaknya.
Tak ada yang datang.
“Buuukk!!! Sofiaa maauu maattiiii!!!” dia kembali berteriak. Tapi tak ada yang datang. Dia terus melakukan itu sampai suaranya mau habis. Lantas menyerah, diam sambil menunggu sisa tangisnya habis.
Sesaat berlalu, Sofia mencoba berdiri. Berjalan pelan-pelan dengan membuka selangkangan seperti cara berjalan anak yang baru disunat. Baru saja ia mengenakan rok, mendadak darah keluar lagi.
“Aaaaaaa!!!!” Sofia berteriak. “Sebentar lagi Sofia kekurangan darah buukk!!!” katanya. Dia buru-buru ke dapur mengambil kain lap. Tapi beberapa kain lap tampak bersih dan masih wangi. Itu baru dicuci. Kalau Sofia pakai untuk membersihkan darah, Ibu bisa marah. Dia juga tidak ingin menggunakan baju atau celananya untuk membasuh darah itu. Dia tidak mau ibu marah-marah nantinya. Sebab, pakaian di rumahnya cuma sedikit, dan Ibu tidak mampu beli karena tidak punya uang. Jadi, cukuplah satu rok dan seprei kasurnya yang basah kena darah. Jangan ada lagi kain-kain yang lain. Pikirnya.
“Buukkk!! Sofia harus bagaimana?” dia bicara seolah ada ibu di situ. “Sofia belum mau mati buuukk!!”

Oke! Sofia di sini sendiri. Dan harus bertahan! Dia membatin. Menyemangati diri. Sofia harus kuat! Dan sebelum melihat ibu untuk terakhir kali, Sofia tidak boleh mati dulu!
Tanpa panjang lebar, Sofia mengambil kain sepreinya, lalu membalut badan bagian bawah dengan kain itu agar tertutup. Dia lupa tentang semua hal. Tentang Sarapan. Juga membantu Mak Cik di toko. Yang dia pikirkan hanya menyelesaikan masalah ini. Karena darah itu kembali mengalir di kakinya. Lalu ke lantai/ Membuatnya berpikir bahwa sebentar lagi akan mati.
Sofia keluar rumah. Wajahnya sedih. Masih ada bekas air mata di pipi. Ada tetangga yang lewat. Melihat Sofia bermuka merah seperti itu, ia bertanya.
“Kenapa Sofia? Habis sarapan sambel ya? Makanya, jangan pedas-pedas. Tuh, jadinya sampai nangis kan.” Kata tetangga itu. Sofia hanya diam. Dia tidak mau menceritakan ‘Aib’ (baginya) ini. Dia berpikir, harus merahasiakan penyakitnya ini sampai kedua orang tuanya pulang. Mungkin nanti sebelum dhuhur.
Sofia bergegas ke sungai di depan rumahnya. Tidak jauh. Hanya beberapa meter dari depan rumahnya. Lalu dia menenggelamkan bagian tubuhnya ke sungai.
Beberapa tetangga kembali lewat. Melihat Sofia jongkok. Mereka bertanya.
“Sof! Ngapain disitu? Bukanyya di rumahmu sudah ada WC?” kata tetangga satu.
Sofia hanya menggeleng. Sambil ciprat-ciprat air.
“Jangan lama-lama, nanti kedinginan.” Kata tetangga dua.
Sofia hanya menggeleng. Dia takut kalau keluar dari air, darahnya bisa menetes di mana-mana. Itu sebabnya Sofia terus jongkok di situ.
Beberapa tetangga lewat lagi. Dan semakin lama semakin banyak. Semua sama. Ingin tahu apa yang dilakukan Sofia di sungai. Sebab, Sofia hanya menggeleng-geleng saat ditanya. Bahkan, ada satu orang yang mendekat. Sofia langsung beteriak.
“STOOPP!! Dilarang mendekat!!” katanya.
Tetangga-tetangga itu mulai khawatir dengan tingkah Sofia. Beberapa dari mereka berupaya mencari Bu Ninik. Ibu Sofia. Dan kejadian itu berlangsung selama lebih dari satu jam. Sampai akhirnya Bu Ninik datang. Langkah beliau cepat, cemas, dan bingung.
“Sofi! Ada apa nak?” tanya Ibu. Dia ikut nyebur ke sungai. Mendekati anaknya.
“Sini… sini…” kata Sofia sambil mengayunkan tangan. Lalu membisiki ibunya.
“Maaf bu… Sofia tidak bisa membahagiakan ibu… Sofia masih belum bisa membelikan ibu apa-apa. Maaf bu..” katanya sambil terisak.
“Lho? Memangnya kenapa nak?”
“Sofia sudah tidak kuat lagi… Sofia sudah banyak kehilangan darah. Sofia mau mati buuk…” katany sambil terisak.
Bu Ninik diam. Mikir sebentar.
“Apa darahnya keluar dari itumu?”
Sofia mengangguk. “Banyak bu, sampai seprei ibu ikut basah.”
Bu Ninik menghela nafas. Lalu berdiri. Menghadap ke para tetangga yang berkerumun tidak jauh darinya.
“Ibu-ibu, bapak-bapak… ini, kata anak saya, dia mau mati…”
“HAH!” kompak mereka kaget.
“Ternyata cuma M ibu-ibu, bapak-bapak…” kata Bu Ninik. “Maklum… pertama kali.” Tambahnya sambil tersenyum.
Dan kejadian ini pun diakhiri dengan tawa para tetangga. Hanya Sofia yang makin sebal.
‘Kok, orang mau mati malah ditertawain? Dasar!’ batinnya. ‘Mana belum sarapan lagi!’
TAMAT
 Muka Ijo
Kembali Ke Atas Go down
 
..... M .....
Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
SINDIKAT PENULIS :: Arena Diskusi :: Cerpen-
Navigasi: