SINDIKAT PENULIS
Silakan login dahulu, biar lebih asyik.
Kalau belum bisa login, silakan daftar dahulu.
Setelah itu, selamat bersenang-senang...


Kami adalah penulis, dan kami tidak butuh persetujuan dari siapa pun!
 
IndeksCalendarFAQPencarianPendaftaranLogin
"Jika ada buku yang benar-benar ingin kamu baca, tapi buku tersebut belum ditulis, maka kamu yang harus menuliskannya." ~ Toni Morrison

Share | 
 

 (cerpen) Kemelut

Go down 
Pilih halaman : 1, 2  Next
PengirimMessage
tukangtidur
Penulis Senior
Penulis Senior
avatar

Jumlah posting : 831
Points : 988
Reputation : 19
Join date : 30.04.10
Age : 36
Lokasi : Depok

PostSubyek: (cerpen) Kemelut   Tue 8 Nov 2011 - 13:11

Kemelut

Aku terbiasa menulis di keheningan malam. Ketika suara-suara mulai redam. Ketika beberapa pasang mata mulai terpejam. Aku memulai sebuah tulisan pada saat gang-gang mulai lengang, pada saat kesunyian mulai menggenang. Tentu saja masih ada suara-suara yang tersisa: tetesan air di bak kamar mandi, dengung kipas angin, dan suara napasku sendiri. Namun suara-suara semacam itu tidaklah mengganggu aktivitas menulisku.

Entah mengapa, aku tidak terbiasa menulis dalam suasana bising. Bukan hanya tidak terbiasa, melainkan tidak bisa. Pepatah “bisa karena terbiasa” menurutku tidak sepenuhnya bisa dipercaya. Aku sudah mencoba membiasakan diri untuk menulis di pagi atau siang hari, berkali-kali, tapi selalu gagal. Suara pedagang sayur menjajakan dagangannya. Suara seorang ibu memanggil anaknya. Suara anak kecil berlari. Suara tukang ketoprak memukul tepian piring dengan sendok besi. Suara seseorang menyalakan mesin motor. Suara-suara semacam itu sungguh mengganggu dan selalu membuatku gagal menulis. Berbeda sekali jika aku menulis pada saat usia malam mulai matang. Keheningan malam telah berhasil membuat imajinasiku menari bebas. Kata-kata mengalir deras.

Hingga akhirnya datanglah tetangga sialan itu. Mereka adalah sepasang suami-istri menyebalkan. Lima hari yang lalu mereka menempati rumah kontrakan yang berada tepat di samping rumah kontrakanku. Setiap malam mereka selalu bertengkar. Sang istri berteriak. Sang suami membentak. Pintu ditendang. Piring dibanting. Hingga hilang segala hening. Hingga pecah segala bising. Lima hari mereka menempati rumah itu, lima hari itulah aku tidak bisa menulis. Bisa dibayangkan betapa jengkelnya aku. Dan, malam ini mereka bertengkar lagi. Padahal waktu sudah menunjukkan pukul dua malam. Brengsek!

Dari balik tembok kamar, aku mendengar pertengkaran itu.

“Laki-laki bangsat kamu! Monyet!”

“Kamu yang monyet. Mulut kamu tuh busuk!”

“Saya menyesal memiliki suami macam kamu. Tidak pernah bisa diandalkan. Malas seperti kucing!”

“Kamu pikir saya tidak menyesal menikah sama kamu? Najis nikah sama kamu! Anjing!”

Prang!

“Banting saja semua piringnya! Banting semua!”

“Saya yang membeli piring-piring itu. Mau saya banting kek, mau saya lempar ke muka kamu kek, itu hak saya!”

“Ya sudah, sekarang lempar piring itu ke muka saya! Lempar! Buruan, Anjing!"

Prang!

“Hahaha! Kenapa? Kamu tidak berani melempar piring itu ke muka saya? Kamu tidak berani, heh?”

“Najis! Perempuan najis!”

“Kamu tuh yang najis! Bangsat!”

Aku duduk di lantai, bersandar tembok kamar. Pertengkaran mereka terdengar jelas, sejelas suara petir di keheningan malam. Aku menghela napas panjang. Mengapa mereka selalu bertengkar setiap malam? Apa yang sebenarnya sedang mereka permasalahkan? Dalam menjalin suatu hubungan, aku mengerti betul, pasti selalu ada saja pertengkaran di sana sini. Sebab, hubungan tanpa pertengkaran adalah hubungan yang patut dicurigai. Itulah yang membuatku malas menjalin hubungan istimewa dengan seseorang, baik hubungan pertemanan maupun hubungan pernikahan. Keduanya mampu menuai benih dendam. Aku tidak ingin mengambil risiko. Hubunganku dengan manusia hanyalah hubungan yang sekadarnya. Tak ada yang perlu diistimewakan. Orang lain adalah neraka, begitu kata filsuf, dan aku menghayati betul pernyataan itu. Namun aku benar-benar tidak mengerti, mengapa tetangga sialanku itu bertengkar setiap malam? Tidak pernah sejenak pun aku mendengar mereka berkasih sayang. Dari mulut mereka selalu meluncur kata-kata jahanam.

“Diam! Kamu tidak malu sama tetangga sebelah? Seharusnya kamu tuh malu!”

“Kenapa harus malu? Kamu yang bajingan, harusnya kamu yang malu!”

“Diam kamu!”

Brak!

Aku belum pernah berjumpa dengan sepasang suami-istri menyebalkan itu. Dari suaranya, aku kira usia mereka sekitar 30 tahun. Aku tidak tahu wajah mereka seperti apa, dan aku merasa itu tidaklah penting. Lagipula, aku memang jarang sekali keluar rumah—kecuali jika ada keperluan yang agak mendesak seperti membeli makanan, membayar kontrakan, mengambil honor tulisan di ATM, atau pergi ke warung untuk sekadar membeli sabun, odol, dan tisu. Selebihnya aku selalu berada di dalam rumah. Tidak kemana-mana. Tidak bertemu siapa-siapa.

“Kamu dengar baik-baik, ya! Kalau kamu terus-terusan begini, lebih baik kita cerai! Cerai!”

“Ya sudah, kalau kamu maunya begitu, terserah!”

“Kalau begitu, keluar dari rumah ini sekarang! Keluar! Kamu bukan suami saya lagi!”

“Eh, kamu bangsat banget, ya. Kamu tidak punya malu banget sih teriak-teriak kayak orang gila begitu!”

“Kayak kamu tidak berteriak saja! Suara kamu lebih kencang dari suara saya!”

“Saya bicara keras begini juga gara-gara kamu, supaya kamu diam!”

Komputer aku biarkan menyala. Tak ada satu kata pun muncul di layar putih itu. Bagi seorang penulis sepertiku, menatap halaman kosong adalah sama seperti sedang berdiri di tepi jurang. Halaman kosong adalah ancaman yang menakutkan. Namun aku juga tidak bisa menjejakkan kata-kata di halaman kosong itu. Malam ini terlalu bising. Benar-benar bising. Aku kehilangan fokus. Aku kehilangan kesabaran. Bangsat! Sampai kapan pertengkaran mereka selesai?

Aku mengepalkan tangan dan kemudian memukul tembok kamar. Berkali-kali. “Sudah malam, Bung! Besok saja pertengkaran itu kalian lanjutkan!” teriakku dengan napas memburu.

Setelah itu hening. Pertengkaran terhenti. Aku mendengar sang suami berbisik, “Tuh, apa saya bilang? Malu ditegur begitu sama tetangga sebelah!” Aku mendengar sang istri mendengus sambil menggebrak sesuatu.

Kemudian kebisingan menyirna. Aku menghela napas lega. Beberapa menit kemudian, setelah yakin pertengkaran itu benar-benar usai, aku mendekati komputer yang sejak tadi tidak aku hiraukan. Terdengar suara tetesan air di bak kamar mandi, dengung kipas angin, dan suara napasku sendiri. Keheningan mulai membuai. Aku mulai menulis. Kata demi kata berjajar rapi, terus memanjang serupa gerbong kereta api. Lima hari tidak menulis membuat imajinasiku menumpuk, mendesak, dan kemudian meledak seperti dinamit.

Namun ternyata keheningan itu tidak berlangsung lama.

Pertengkaran kembali terjadi. Sialan!

“Saya tidak tahan hidup sama kamu! Pokoknya saya mau cerai!”

“Kenapa sih kamu mulai lagi? Kamu tidak dengar tadi tetangga sebelah sudah menegur kita? Hah, kamu tuli, ya?”

“Pokoknya saya mau cerai!”

“Bikin malu saja! Kalau kamu tidak mau diam juga, saya bunuh kamu!”

“Coba kalau berani! Bunuh saya sekarang! Bunuh saya!”

Napasku kembali memburu. Jantungku berdetak hebat. Pertengkaran sepertinya semakin gawat. Bagaimana kalau laki-laki itu benar-benar membunuh istrinya? Dalam suasana kalut seperti itu, tentu hal itu mudah saja terjadi.

Aku kembali memukul tembok kamar. Berkali-kali.

“Diam! Kamu jangan ikut campur!” Aku mendengar sang suami berteriak. Sepertinya teriakan itu untukku.

“Ini masalah keluarga saya!” teriak sang suami melanjutkan, “Kamu tidak usah ikut campur!”

Brengsek juga orang itu. Bukannya malu, dia malah memarahiku. Sang istri terus meraung-raung, “Cepat bunuh saya! Lebih baik saya mati daripada hidup sama kamu! Bunuh saya! Cepat!”

Entah karena marah lantaran dibentak, entah karena cemas lantaran khawatir sang istri dibunuh, aku segera bangkit berdiri dan segera keluar kamar. Aku melihat jam dinding. Pukul 02:42. Aku membuka pintu rumah. Angin malam menyambut. Rumah tetangga sialan itu tampak gelap. Dengan langkah gegas aku mendatangi rumah gelap itu.

Aku menggedor pintu rumah kontrakan itu. Berkali-kali.

“Bung, kalau kau laki-laki, keluar sekarang!”

Tak ada jawaban.

“Bung, mari kita selesaikan di luar!”

Tetap tak ada jawaban.

Tanpa pikir panjang, karena emosiku sudah tak dapat lagi ditahan, aku segera mendobrak pintu rumah itu dengan beberapa kali tendangan.

Pintu rumah itu terbuka. Aku segera memasukinya.

Aku langsung terperanjat. Aku tidak menemukan siapa-siapa di dalam rumah itu.

Kosong. []

Depok, 10-13 Mei 2011
Kembali Ke Atas Go down
http://zonakosong.tk
ilhammenulis
Penulis Senior
Penulis Senior
avatar

Jumlah posting : 1111
Points : 1200
Reputation : 18
Join date : 23.07.11
Age : 28
Lokasi : Bandung

PostSubyek: Re: (cerpen) Kemelut   Tue 8 Nov 2011 - 14:06

EDYAAAAAAN... sumpah endingnya unpredictable.. Top Top

_________________
~Orang bilang menulis butuh keterampilan dan bakat, saya bilang menulis cuma butuh kertas dan pulpen~
Kembali Ke Atas Go down
http://www.ilhammenulis.wordpress.com
tukangtidur
Penulis Senior
Penulis Senior
avatar

Jumlah posting : 831
Points : 988
Reputation : 19
Join date : 30.04.10
Age : 36
Lokasi : Depok

PostSubyek: Re: (cerpen) Kemelut   Tue 8 Nov 2011 - 14:11

Malu
ah bang ilham bisa ajaaaah!


Lidah
Kembali Ke Atas Go down
http://zonakosong.tk
ilhammenulis
Penulis Senior
Penulis Senior
avatar

Jumlah posting : 1111
Points : 1200
Reputation : 18
Join date : 23.07.11
Age : 28
Lokasi : Bandung

PostSubyek: Re: (cerpen) Kemelut   Tue 8 Nov 2011 - 14:13

sumpah bang.. tadinya bingung ini cerita mau dibawa kemana.. dan endingnya menjawab semua.. hahahaha licik

_________________
~Orang bilang menulis butuh keterampilan dan bakat, saya bilang menulis cuma butuh kertas dan pulpen~
Kembali Ke Atas Go down
http://www.ilhammenulis.wordpress.com
khairani mukhlis
Penulis Senior
Penulis Senior
avatar

Jumlah posting : 1250
Points : 1309
Reputation : 32
Join date : 13.10.11
Age : 24
Lokasi : padang

PostSubyek: Re: (cerpen) Kemelut   Tue 8 Nov 2011 - 14:40

wuisss kereeeennnnn bg tidur
gak nyangka endingnya gtu

jadi yg bertengkar itu hantu yah bg
lol!
Top Top Top
Kembali Ke Atas Go down
tukangtidur
Penulis Senior
Penulis Senior
avatar

Jumlah posting : 831
Points : 988
Reputation : 19
Join date : 30.04.10
Age : 36
Lokasi : Depok

PostSubyek: Re: (cerpen) Kemelut   Tue 8 Nov 2011 - 14:43

khairani mukhlis wrote:

jadi yg bertengkar itu hantu yah bg
lol!
Top Top Top
Hahaha! Inilah yang gue takutin. Sebenarnya gue mau bikin cerpen psikologis yang tokohnya itu seorang skizofrenic. Tapi akhirnya ada yang bilang bahwa tetangganya itu hantu. Jadi cerpen di atas mirip cerita misteri. Hihihi....
Nangis Nangis Nangis
Kembali Ke Atas Go down
http://zonakosong.tk
Ruise V. Cort
Penulis Parah
Penulis Parah
avatar

Jumlah posting : 6382
Points : 6522
Reputation : 45
Join date : 28.04.11
Age : 25
Lokasi : *sibuk dengan dunianya sendiri jadi nggak tahu sekitar*

PostSubyek: Re: (cerpen) Kemelut   Tue 8 Nov 2011 - 15:28

Ah...
delusi, eh?

Tapi... memang kalau shizofrenic batas minimalnya hanya seilusi ya Kak? ._."

Nya~~
Dalam satu tempat, itu penulis sama dengan Rui ^^
Tengah malam bergadang buat mantengin laptop Razz

_________________
...
Kill me softly...
Kembali Ke Atas Go down
http://ruise.wordpress.com/
ilhammenulis
Penulis Senior
Penulis Senior
avatar

Jumlah posting : 1111
Points : 1200
Reputation : 18
Join date : 23.07.11
Age : 28
Lokasi : Bandung

PostSubyek: Re: (cerpen) Kemelut   Tue 8 Nov 2011 - 18:29

saya tengah melem tidur, ngantuk.. ngantuk

_________________
~Orang bilang menulis butuh keterampilan dan bakat, saya bilang menulis cuma butuh kertas dan pulpen~
Kembali Ke Atas Go down
http://www.ilhammenulis.wordpress.com
Ruise V. Cort
Penulis Parah
Penulis Parah
avatar

Jumlah posting : 6382
Points : 6522
Reputation : 45
Join date : 28.04.11
Age : 25
Lokasi : *sibuk dengan dunianya sendiri jadi nggak tahu sekitar*

PostSubyek: Re: (cerpen) Kemelut   Tue 8 Nov 2011 - 18:40

Saya nggak bisa tidur kucing

_________________
...
Kill me softly...
Kembali Ke Atas Go down
http://ruise.wordpress.com/
khairani mukhlis
Penulis Senior
Penulis Senior
avatar

Jumlah posting : 1250
Points : 1309
Reputation : 32
Join date : 13.10.11
Age : 24
Lokasi : padang

PostSubyek: Re: (cerpen) Kemelut   Tue 8 Nov 2011 - 21:27

tukangtidur wrote:
khairani mukhlis wrote:

jadi yg bertengkar itu hantu yah bg
lol!
Top Top Top
Hahaha! Inilah yang gue takutin. Sebenarnya gue mau bikin cerpen psikologis yang tokohnya itu seorang skizofrenic. Tapi akhirnya ada yang bilang bahwa tetangganya itu hantu. Jadi cerpen di atas mirip cerita misteri. Hihihi....
Nangis Nangis Nangis

cup..cup atuh bg tidur
wow
Kembali Ke Atas Go down
Muhammad Haekal_haekalism
Pendatang Baru
Pendatang Baru
avatar

Jumlah posting : 37
Points : 72
Reputation : 0
Join date : 08.11.11
Age : 28
Lokasi : Aceh

PostSubyek: Re: (cerpen) Kemelut   Tue 8 Nov 2011 - 22:59

Main Gitar
wow!
mantap, kak!
larut saya dalam suasana!
hehe
makan
Kembali Ke Atas Go down
http://kalword.blogspot.com
de_wind
Penulis Sejati
Penulis Sejati
avatar

Jumlah posting : 3494
Points : 3669
Reputation : 52
Join date : 29.03.11
Age : 33
Lokasi : Bekasi

PostSubyek: Re: (cerpen) Kemelut   Wed 9 Nov 2011 - 0:57

keren, bg...endingny bener2 gak ketebak tp pas bgt... Top
ng...susahny ilmu psikologi di indonesia gtu bg, tumpang tindih sama kepercayaan sama jin, dll. msh bnyk takhayul ny...
aku juga udh rada curiga sama ni cerpen pas ada kata2 : "tidak bertemu siapa-siapa." Very Happy
klo mau mainin persepsi pembaca mah oke, kok...tp klo mau ngarahin ke sisi psikologis, mending ada satu scene lg, soalny masih ngegantung, klo begini ini kayak cerpen misteri biasa...
btw, klo denger2 suara kayak gitu, itu namanya halusinasi, kalo delusi sekedar keyakinan yg tidak nyata...klo ilusi??? lupa wkwkwkkk...
Kembali Ke Atas Go down
Ruise V. Cort
Penulis Parah
Penulis Parah
avatar

Jumlah posting : 6382
Points : 6522
Reputation : 45
Join date : 28.04.11
Age : 25
Lokasi : *sibuk dengan dunianya sendiri jadi nggak tahu sekitar*

PostSubyek: Re: (cerpen) Kemelut   Wed 9 Nov 2011 - 8:39

Kebanyakan istilah... tumpang tindih juga otakku kucing

Nah!
Itu dia Kak ._.
Kalau mau bikin adegan psikologis kayak gini, supaya nggak tumpang tindih sama kepercayaan mistis, tantangan tersendiri jadinya...

_________________
...
Kill me softly...
Kembali Ke Atas Go down
http://ruise.wordpress.com/
tukangtidur
Penulis Senior
Penulis Senior
avatar

Jumlah posting : 831
Points : 988
Reputation : 19
Join date : 30.04.10
Age : 36
Lokasi : Depok

PostSubyek: Re: (cerpen) Kemelut   Wed 9 Nov 2011 - 9:01

haekalism wrote:
Main Gitar
wow!
mantap, kak!
larut saya dalam suasana!
hehe
makan
Makasih kakak. Aduh pakai larut segala, semoga tidak hanyut ya. Hehehe
lol!
de_wind wrote:

mending ada satu scene lg, soalny masih ngegantung, klo begini ini kayak cerpen misteri biasa...
Nah itu dia, ada masukan gak kira-kira scene tambahannya kayak apa ya? Bener-bener butuh nih.
iri
Kembali Ke Atas Go down
http://zonakosong.tk
ilhammenulis
Penulis Senior
Penulis Senior
avatar

Jumlah posting : 1111
Points : 1200
Reputation : 18
Join date : 23.07.11
Age : 28
Lokasi : Bandung

PostSubyek: Re: (cerpen) Kemelut   Wed 9 Nov 2011 - 10:08

hmmm kalo saya sih bakal nambahain beberapa kalimat implisit yang ngejelasin tentang kondisi yang menggambarkan delusi/halusinasi.. jadi mindset pembaca pas liat ending langsung teringat ke paragraf itu

teliti

_________________
~Orang bilang menulis butuh keterampilan dan bakat, saya bilang menulis cuma butuh kertas dan pulpen~
Kembali Ke Atas Go down
http://www.ilhammenulis.wordpress.com
tukangtidur
Penulis Senior
Penulis Senior
avatar

Jumlah posting : 831
Points : 988
Reputation : 19
Join date : 30.04.10
Age : 36
Lokasi : Depok

PostSubyek: Re: (cerpen) Kemelut   Wed 9 Nov 2011 - 10:13

ilhammenulis wrote:
hmmm kalo saya sih bakal nambahain beberapa kalimat implisit yang ngejelasin tentang kondisi yang menggambarkan delusi/halusinasi.. jadi mindset pembaca pas liat ending langsung teringat ke paragraf itu

teliti
Contoh kalimatnya kayak gimana, Ham?
Kembali Ke Atas Go down
http://zonakosong.tk
ilhammenulis
Penulis Senior
Penulis Senior
avatar

Jumlah posting : 1111
Points : 1200
Reputation : 18
Join date : 23.07.11
Age : 28
Lokasi : Bandung

PostSubyek: Re: (cerpen) Kemelut   Wed 9 Nov 2011 - 11:05

hmmm.. kira kira loh ya bang ini..

"...Banyak orang takut akan kengerian malam, remang, gelap, penuh misteri. akupun sebenarnya begitu. Bukan, ini sama sekali bukan masalah klenik atau takhayul. Aku terkadang merasa ngeri dengan imajinasiku sendiri, dengan otakku yang sering meracau, melantunkan simfoni delusif, yang terkadang terasa sangat nyata.."

kayak gitu bukan sih?

tik

_________________
~Orang bilang menulis butuh keterampilan dan bakat, saya bilang menulis cuma butuh kertas dan pulpen~
Kembali Ke Atas Go down
http://www.ilhammenulis.wordpress.com
Ruise V. Cort
Penulis Parah
Penulis Parah
avatar

Jumlah posting : 6382
Points : 6522
Reputation : 45
Join date : 28.04.11
Age : 25
Lokasi : *sibuk dengan dunianya sendiri jadi nggak tahu sekitar*

PostSubyek: Re: (cerpen) Kemelut   Wed 9 Nov 2011 - 16:32

Itu seperti sudah bilang dia gila dari awal kucing

Saya kesindir, sungguh tik

_________________
...
Kill me softly...
Kembali Ke Atas Go down
http://ruise.wordpress.com/
ilhammenulis
Penulis Senior
Penulis Senior
avatar

Jumlah posting : 1111
Points : 1200
Reputation : 18
Join date : 23.07.11
Age : 28
Lokasi : Bandung

PostSubyek: Re: (cerpen) Kemelut   Wed 9 Nov 2011 - 16:38

itu kan kira-kira, mungkin bisa diperhalus sama bang tuti.. biar lebih implisit. hehehe centil

_________________
~Orang bilang menulis butuh keterampilan dan bakat, saya bilang menulis cuma butuh kertas dan pulpen~
Kembali Ke Atas Go down
http://www.ilhammenulis.wordpress.com
Ruise V. Cort
Penulis Parah
Penulis Parah
avatar

Jumlah posting : 6382
Points : 6522
Reputation : 45
Join date : 28.04.11
Age : 25
Lokasi : *sibuk dengan dunianya sendiri jadi nggak tahu sekitar*

PostSubyek: Re: (cerpen) Kemelut   Wed 9 Nov 2011 - 17:12

Perkiraan yang menohok ulu hati ._.
Tapi... kalau diperhalus lagi memang bisa pas dan bagus lho kucing

_________________
...
Kill me softly...
Kembali Ke Atas Go down
http://ruise.wordpress.com/
de_wind
Penulis Sejati
Penulis Sejati
avatar

Jumlah posting : 3494
Points : 3669
Reputation : 52
Join date : 29.03.11
Age : 33
Lokasi : Bekasi

PostSubyek: Re: (cerpen) Kemelut   Wed 9 Nov 2011 - 22:00

sbnernya sih kata2 bg ilham bagus jg...tp soal simfoni delusi...krena sharusny delusi itu keyakinan jd rasany gak mungkin dia sadar klo dia ngalamin delusi...

mgkin diganti sama ... "namun entah mengapa suara2 semakin menggangguku. telingaku seakan menangkap setiap jentikan api dan keresahan desau angin. bergemerisik hingga menjadi sisik di telingaku. semua orang seakan hendak menggangguku, seakan berteriak ke dalam kepalaku. tak ada lagi ruang kosong di kepalaku. ia serasa mau pecah berserak."

usul...klo mnurutku sih ini mulai ngegambarin kegilaan yg mulai merasuk pelan2... nah gmn mnurut yg lain...??? dan bg tukangtidur sendiri...??
Kembali Ke Atas Go down
ilhammenulis
Penulis Senior
Penulis Senior
avatar

Jumlah posting : 1111
Points : 1200
Reputation : 18
Join date : 23.07.11
Age : 28
Lokasi : Bandung

PostSubyek: Re: (cerpen) Kemelut   Thu 10 Nov 2011 - 7:18

semacam cerpen tell tale heart bikinan edgar allan poe~ aaah, ciamiiiikkk wow

*bersyukur ikutan forum ini

_________________
~Orang bilang menulis butuh keterampilan dan bakat, saya bilang menulis cuma butuh kertas dan pulpen~
Kembali Ke Atas Go down
http://www.ilhammenulis.wordpress.com
tukangtidur
Penulis Senior
Penulis Senior
avatar

Jumlah posting : 831
Points : 988
Reputation : 19
Join date : 30.04.10
Age : 36
Lokasi : Depok

PostSubyek: Re: (cerpen) Kemelut   Fri 11 Nov 2011 - 8:40

Contoh kalimat yang Ilham kasih oke juga. Dan tambahan contoh kalimat de_wind di atas juga keren banget. Tapi permasalahannya, tuh kalimat ditaruh di mana ya? Di awal-awal cerita aja kali ya?
Kembali Ke Atas Go down
http://zonakosong.tk
ilhammenulis
Penulis Senior
Penulis Senior
avatar

Jumlah posting : 1111
Points : 1200
Reputation : 18
Join date : 23.07.11
Age : 28
Lokasi : Bandung

PostSubyek: Re: (cerpen) Kemelut   Fri 11 Nov 2011 - 13:24

selipin di bagian awal menuju tengah.. biar gak terlalu keliatan. hehehe siul

_________________
~Orang bilang menulis butuh keterampilan dan bakat, saya bilang menulis cuma butuh kertas dan pulpen~
Kembali Ke Atas Go down
http://www.ilhammenulis.wordpress.com
de_wind
Penulis Sejati
Penulis Sejati
avatar

Jumlah posting : 3494
Points : 3669
Reputation : 52
Join date : 29.03.11
Age : 33
Lokasi : Bekasi

PostSubyek: Re: (cerpen) Kemelut   Sat 12 Nov 2011 - 20:32

mnurutku sih bagus di taro di bagian awal pas narasi dari dia ny...
Kembali Ke Atas Go down
Sponsored content




PostSubyek: Re: (cerpen) Kemelut   

Kembali Ke Atas Go down
 
(cerpen) Kemelut
Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 2Pilih halaman : 1, 2  Next
 Similar topics
-
» Pengen bagi2 cerita ttg safety riding

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
SINDIKAT PENULIS :: Arena Diskusi :: Cerpen-
Navigasi: