SINDIKAT PENULIS
Silakan login dahulu, biar lebih asyik.
Kalau belum bisa login, silakan daftar dahulu.
Setelah itu, selamat bersenang-senang...


Kami adalah penulis, dan kami tidak butuh persetujuan dari siapa pun!
 
IndeksCalendarFAQPencarianPendaftaranLogin
"Jika ada buku yang benar-benar ingin kamu baca, tapi buku tersebut belum ditulis, maka kamu yang harus menuliskannya." ~ Toni Morrison

Share | 
 

 [Esai] Kemapanan versus Idealisme

Go down 
PengirimMessage
de_wind
Penulis Sejati
Penulis Sejati
avatar

Jumlah posting : 3494
Points : 3669
Reputation : 52
Join date : 29.03.11
Age : 33
Lokasi : Bekasi

PostSubyek: [Esai] Kemapanan versus Idealisme   Fri 11 Nov 2011 - 2:45

KEMAPANAN VERSUS IDEALISME

Tanggal 10 November adalah hari peringatan Pahlawan di Indonesia. Siaran di televisi menunjukkan nisan-nisan “Pejuang Tak Dikenal.” Mereka berjuang, tetapi tidak seorangpun akan mengingat seperti apa rupa mereka. Tidak ada satupun yang akan mengenang mereka secara individu, di balik penghormatan besar yang telah diberikan kepada mereka berupa Taman Makam Pahlawan, mereka tetap tak dikenal. Namun, mereka memperjuangkan sesuatu, bahkan saat perjuangan itu tidak membuat mereka dikenal.

Perjuangan yang tidak memberikan hasil materiil tersebut tampaknya agak sulit untuk diterapkan pada era baru ini. Memperjuangkan sesuatu yang tidak dikenal oleh lingkungan sosial dan adat kebiasaan di masyarakat adalah sesuatu yang mutlak memerlukan keberanian dan konsistensi. Semua orang akan menghujat, semua orang akan melihat dengan pandangan sebelah mata, mereka bisa saja menyerah untuk mempercayai kita. Namun, haruskah idealisme bertabrakan dengan realita yang dipandang secara serampangan oleh mata telanjang?

Perjuangan dalam kehidupan selalu membutuhkan penghargaan. Ada yang berupa trofi, ada yang berupa medali, ada pula yang berupa pengakuan. Penghargaan menghasilkan kehormatan. Kehormatan merupakan kunci untuk hidup berharkat dan bermartabat di tengah lingkungan sosial. Kehormatan adalah prestasi puncak yang membuat manusia menghalalkan segala cara. Namun, apakah simbol dari kehormatan itu sendiri?

Sekarang ini, kehormatan merupakan sesuatu yang haruslah berupa benda materiil dan kasat mata, seperti slip gaji, jabatan yang bagus, atau titel yang panjang di belakang nama kita. Tanpanya manusia akan jatuh tak berarti. Namun, kehormatan yang sesungguhnya tidak berada pada penglihatan manusia yang picik. Kehormatan bukanlah sesuatu yang dapat ditelanjangi oleh mata manusia. Tidak ada satu manusiapun yang berhak menghakimi atau menentukan harkat dan martabat manusia lainnya. Kebenaran mutlak untuk menghakimi itu hanya dimiliki oleh satu, yaitu Khalik, Tuhan Yang Maha Esa.

Bertentangan dengan kenyataan tersebut, kita semua selalu merasakan kekhawatiran akan pandangan orang lain terhadap kita. Karena pandangan dan persetujuan orang lain atas diri kita akan menjadi kunci dari kehormatan pada diri kita. Untuk melakukan apa yang tidak dilakukan orang lain begitu menakutkan dan karena itu menghanyutkanmu dalam arus massa. Lingkungan kita adalah perwakilan dari pribadi kita. Kita adalah perwakilan dari perilaku lingkungan kita. Kita hanya akan hanyut dalam arus konformitas dan bernafas melalui insang kemapanan. Semua ditentukan oleh satu hal, pemikiran orang lain, pemikiran yang disetujui masyarakat.

Sebagai makhluk sosial, wajar apabila kita begitu peduli akan apa yang dilakukan dan diperhatikan oleh pandangan sosial. Kita tidak bisa hidup sendiri, jauh dari persetujuan mereka. Akhirnya kita akan bertoleransi, berkompromi dengan pandangan mereka. Pandangan yang bukan pandangan mereka adalah sesat. Pandangan yang bukan pandangan mereka adalah buruk. Dan kita terkubur dalam lingkaran setan yang telah diciptakan oleh budaya manusia.
Keberanian untuk menentang semuanya tidak dimiliki oleh sebagian orang, sebagian orang memilih untuk berani melawan arus, dengan resiko pengucilan sosial. Soe Hok Gie pernah menyatakan, "Lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan." Namun, seberapa besar keberanian kita untuk menghadapi pengasingan secara sosial? Seberapa besar keberanian yang diperlukan untuk menghadapi keterasingan secara sosial?

Para pahlawan tanah air yang berani melawan arus kolonialisme Belanda berkali-kali mengalami pengasingan, jauh dari keluarga dan kampung halaman mereka. Setelah 350 tahun, perjuangan dan pengorbanan mereka mencapai hasilnya, negara Indonesia. Bagaimana dengan generasi baru? Semua tampak ketakutan untuk melawan arus dan memilih untuk mengikuti adat tradisi, sekalipun bertentangan dengan pemikiran dan idealisme mereka. Lalu, dengan apa penghormatan dapat dicapai?

Kehormatan kini dapat dicapai dengan besarnya nilai nominal uang. Kehormatan kini cukup dengan memiliki pekerjaan yang layak. Kemapanan tampak menjadi “buruan” dalam hidup, maka berbondong-bondonglah orang yang menyerahkan kehidupan mereka pada genitnya kemapanan. Semakin renta dan keriputlah kehormatan yang berasal dari idealisme dan keyakinan diri. Akankah kita menyerah pada indahnya kemapanan? Ataukah kita lebih memilih berkubang lumpur dalam aktualisasi idealisme?
Kembali Ke Atas Go down
de_wind
Penulis Sejati
Penulis Sejati
avatar

Jumlah posting : 3494
Points : 3669
Reputation : 52
Join date : 29.03.11
Age : 33
Lokasi : Bekasi

PostSubyek: Re: [Esai] Kemapanan versus Idealisme   Fri 11 Nov 2011 - 2:46

ini esai bukan ya??? puyeng
Kembali Ke Atas Go down
leaner
Pendatang Baru
Pendatang Baru


Jumlah posting : 2
Points : 2
Reputation : 0
Join date : 08.02.12

PostSubyek: Re: [Esai] Kemapanan versus Idealisme   Wed 8 Feb 2012 - 20:38

mbak de wind nanya donk??? aku sering punya ide n pengen nulis,,tapi sewaktu aku mo nuangin ke wadah tulisan,,hasilnya kok gak tentu arah gitu,,bagusnya gimana y mbak,,untuk pemula kayak aku.. Smile
Kembali Ke Atas Go down
de_wind
Penulis Sejati
Penulis Sejati
avatar

Jumlah posting : 3494
Points : 3669
Reputation : 52
Join date : 29.03.11
Age : 33
Lokasi : Bekasi

PostSubyek: Re: [Esai] Kemapanan versus Idealisme   Sun 12 Feb 2012 - 4:45

wah sori bru bales Very Happy
kmren mau bales, laptop drebut... marah

klo mnurutku sih, jaga emosi dlm nulis. trutama bwt esai dan artikel yg lebih brpegang pd fakta, ya...jd wktu nulis gak hanya mnuangkan ide dan perasaan, tp otak jd ambil kendali. klopun susah, bisa jg tulis aja smuanya, nnt baru dbaca ulang bwt drevisi...

klo soal artikel itu kan bisa dibilang punya kontrol sosial ke org lain ya...kita bisa ngendaliin opini org lain lwt tulisan kita, nah disini agan leaner mesti ati2 dlm mngarahkan opini publik. sbisa mungkin baca lagi tulisan agan stelah slesai, dan coba liat dari sudut pandang pembaca agan, prkirakan opini apa yg bakalan kebentuk...intiny angle/sudut pandang tulisan mesti dperhatikan...

klo artikel, wlopun itu fakta, kita bisa nampilin fakta2 tertentu yg kita perlukan dlm ngebentuk opini publik, nah ini mah terserah kita, yg namanya tulisan mah pasti subjektif, tp jgn sampai fakta2 yg mendukung gak dtampilin...

aku rasa sih klo poin2 ini udh dtetapin, tulisan agan jg bakalan terarah sndri kok, yg pnting jgn males ngedit tulisan y Smile
Kembali Ke Atas Go down
Sponsored content




PostSubyek: Re: [Esai] Kemapanan versus Idealisme   

Kembali Ke Atas Go down
 
[Esai] Kemapanan versus Idealisme
Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1
 Similar topics
-
» klo ada duid berlebih milih mana Kawasaki ER6 ato Ducati Monster 696
» Knalpot R9 versus Knalpot Sportisi
» Ninja 250R versus CBR 250R

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
SINDIKAT PENULIS :: Arena Diskusi :: Esai dan Artikel-
Navigasi: