SINDIKAT PENULIS
Silakan login dahulu, biar lebih asyik.
Kalau belum bisa login, silakan daftar dahulu.
Setelah itu, selamat bersenang-senang...


Kami adalah penulis, dan kami tidak butuh persetujuan dari siapa pun!
 
IndeksCalendarFAQPencarianPendaftaranLogin
"Jika ada buku yang benar-benar ingin kamu baca, tapi buku tersebut belum ditulis, maka kamu yang harus menuliskannya." ~ Toni Morrison

Share | 
 

 Cerbung "Love Resistance" Part 2

Go down 
PengirimMessage
Dwiya A Rizkani
Penulis Pemula
Penulis Pemula
avatar

Jumlah posting : 102
Points : 153
Reputation : 1
Join date : 08.07.12
Age : 28
Lokasi : Makassar

PostSubyek: Cerbung "Love Resistance" Part 2   Sun 8 Jul 2012 - 20:43

“Apa kabar di Indonesia?” Sapa suara bas di seberang telepon. Maya tersenyum mendengar suara kekasihnya yang tengah kuliah di Singapura itu. Kekesalan hatinya karena kejadian siang tadi berangsur-angsur hilang saat mendengar suara itu.
“Seperti biasa. Sama dan membosankan. Aku mau nyusul kamu ‘ah.” Kata Maya dengan nada merajuk. Hanya pada Anwar, kekasih yang sudah dipacarinya sejak SMA ia bisa bermanja-manja seperti itu.
Terdengar tawa riang di seberang telepon.
“Kau harus kemari tentunya. Tapi untuk S2. Kau tidak bisa meninggalkan kuliahmu yang hampir selesai begitu saja kan?” Tanya Anwar.
Maya terdiam sambil menggigit bibir dan mulai berguling ke samping tempat tidurnya.
“Aku kangen…”Ucap Maya.
“Aku juga.” Anwar membalas ucapan Maya.
“Ada apa?” Anwar tiba-tiba bertanya pada Maya.
“Ada apa kenapa maksudnya?”Maya yang tak mengerti balik bertanya.
“Kamu berbeda sayang. Kayak sedang sedih apa gitu.”Ah.. Anwar memang selalu peka dengan perasaan Maya.
“Dia datang kembali, Anwar…” Kata Maya akhirnya.
“Dia? Dia siapa?”Anwar bingung
Maya menarik napas panjang sebelum melanjutkan kata-katanya.
“Guntur.” Ucap Maya pelan.
Sejenak tak ada suara di seberang telepon. Maya mengira Anwar sudah memutuskan teleponnya.
“Apa yang ia lakukan? Apa ia menyakitimu?” Tiba-tiba nada bicara Anwar berubah. Ia kedengaran sangat marah dan kesal.
Maya menggeleng. Lalu sadar kalau Anwar tak mungkin melihatnya ia lalu menggumamkan kata tidak.
“Dengar Maya, dia tidak boleh dan tidak akan bisa menyakitimu. Jangan pernah biarkan dia mendekatimu.” Geram Anwar.
“Ya, akan kuusahakan. Meskipun sebaiknya ia merasakan apa yang dirasakan sahabatku dulu.” Ucap Maya pelan. Dia berbaring dengan gagang telepon masih ditelinganya dan menutup mata.
Terdengar Anwar menarik nafas panjang dan berat di seberang telepon.
“Aku harus pergi, Maya. Aku akan menelponmu lagi sebentar. Tolong jaga cintaku disana.” Pinta Anwar. Ia kedengaran lelah dan sangat terkejut setelah mendengar nama Guntur.
“Aku akan selalu menjaganya, sayang. Selalu.” Janji Maya.
Maya lalu mematikan telepon dan kembali berbaring menatap langit-langit kamarnya.
***
“Dina!” sebuah suara mengejutkan Dina yang sedang berjalan sendiri di koridor Mall. Matanya mencari asal suara dan menemukan Guntur sedang duduk di sebuah Café dengan segelas minuman di hadapannya. Melambai ke arah Dina sembari memamerkan senyum memesonanya.
Rasa kaget bercampur dengan senang, Dina lalu berjalan mendekati Guntur. Lebih cepat dan tampak tidak menyembunyikan antusiasmenya.
“Hai!” Sapanya riang.
Guntur membalas senyum Dina dan mempersilahkan ia duduk.
“Sendiri aja, nih? Biasanya di kampus barengan dengan Maya kan?”
Dina sedikit terkejut dengan kata-kata Guntur. Berarti selama ini Guntur memperhatikannya. Rasa gembira yang meluap-luap membanjiri hati Dina. Ia tidak berhenti tersenyum.
“Aku lagi belanja buat pemotretanku, Maya sedang sakit jadi nggak bisa menemani.” Jelas Dina sambil menatap Guntur.
“Oh, kamu model yah?” Tanya Guntur.
Dina mengangguk.
“Kamu sendiri ngapain kesini?”
Guntur tidak menjawab melainkan tersenyum dan mengaduk-aduk minumannya.
“Cuma iseng aja. Biasakan kalo lagi nggak ada kerjaan aku pasti nongkrong disini.” Jawab Guntur akhirnya.
“Oh…” Dina ber-oh panjang. Diliriknya sekilas kaca di bagian samping café. Semoga dandananku nggak berantakan sekarang, Dina membatin.
“Ngomong-ngomong, kamu keberatan nggak nemenin aku disini? Atau kamu masih mau belanja?” Guntur bertanya pada Dina sambil menatap matanya.
Dina yang sementara terpesona oleh wajah Guntur tidak langsung menjawab. Tetapi gelagapan dengan pertanyaan Guntur. Seakan tidak percaya. Guntur si idola baru di kampus memintanya untuk menemaninya.
“Hah? Apa tadi kamu bilang?”Ulang Dina tidak focus.
“Aku nanya sama kamu, mau nggak nemenin aku disini?”
Tidak berpikir dua kali, Dina lalu mengiyakan permintaan Guntur, sangat antusias bahkan.
Mereka lalu mengobrol santai di Café itu. Dina yang kebetulan belum makan siang memesan makanan. Guntur juga memesan menu yang sama dengan Dina. Bahkan berkata pada Dina bahwa pilihan Dina adalah makanan kesukaannya. Dina tersipu dengan kata-kata Guntur dan membuat hatinya berbunga-bunga. Setelah puas makan dan mengobrol, Guntur lalu mengajak Dina pulang, sebenarnya karena Dina terus menerus melihat jamnya karena sudah hampir waktu pemotretan. Meskipun enggan beranjak dari Guntur, Dina lalu mengiyakan ajakan Guntur.
Guntur bahkan mengantar Dina sampai ke tempat pemotretan. Berkeinginan untuk menunggui Dina pulang, tetapi ditolak dengan halus oleh Dina. Karena manajer barunya yang akan mengantarnya pulang. Selama pemotretan, Dina sulit berkonsentrasi. Juru foto yang memotretnya berulang kali menyuruh Dina mengulang posenya. Tapi Dina tidak mengeluh. Sebaliknya, Dina tampak sangat bersemangat. Impiannya untuk berkenalan dan mengobrol dengan Guntur terkabul sudah. Lalu ia teringat akan satu hal. Aduh!! Ia lupa meminta nomor telepon Guntur. Mungkin lain kali ia akan memintanya. Dina lalu teringat akan Maya dan menelpon Maya untuk menceritakan kejadian hari itu pada Maya. Tapi sepertinya HP Maya sedang tidak aktif. Sehingga Dina mengurungkan niatnya dan kembali ke kegiatan pemotretannya.
***
Maya baru saja pulang setelah bertemu Prof. Asrul untuk mengkonsultasikan proposal skripsinya. Hari sudah hampir malam. Lampu-lampu di tempat parkir sudah mulai menyala. Maya berjalan dengan cepat sambil mendekap buku-bukunya. Tidak disadarinya Guntur yang mencegatnya di depan jalan masuk parkiran.
“Sampai kapan kau mau lari dariku?” Tanya Guntur.
Maya tersentak kaget menyadari kehadiran Guntur yang tiba-tiba. Jalanan sudah mulai sepi dan sekitar gedung kampus juga mulai berkurang penghuninya.
“Dan sampai kapan kau mau menggangguku. Aku sudah berulang kali mengatakan agar tidak menggangguku.” Maya berusaha menerobos tapi Guntur masih gigih menghalangi jalannya.
“Aku mencintaimu.”
“Aku tidak. Apa kau sudah gila?? Berhenti menggangguku. Aku masih mengingat perbuatanmu terhadap Laras dan Aku hanya mencintai Anwar sampai kapanpun. Dan---“
“Kau pikir dengan berpura-pura seperti ini, memanfaatkan Anwar dengan memacarinya, bahkan ketika kau tahu kau tak punya perasaan dengannya bisa membuatku meninggalkanmu lagi?” Guntur berteriak-teriak memotong kata-kata Maya.
Dan Maya menampar pipi Guntur. Guntur terdiam. Melongo kaget dan menatap Maya dengan ngeri.
“Aku tidak pernah memanfaatkan Anwar. Aku mencintainya. Kamu terlalu picik untuk mengakui bahwa Anwar lebih pantas mencintaiku daripada kamu. Anwar mencintaiku! Dan aku mencintainya!” Ujar Maya sengit. Entah kenapa dorongan untuk menampar wajah Guntur begitu memuncak dan ia tidak mengubah pikirannya saat memukulnya lagi. Lalu Maya berlari meninggalkan Guntur yang jatuh terduduk di taman itu.
“Kau akan menyesal Maya!! Kau akan menyesal telah menyianyiakan cintaku padamu!” Seru Guntur di belakang Maya yang terus berlari. Tampak ia menendang bebatuan di sekitarnya.
Tapi Maya tidak mengindahkannya. Ia berjalan, bahkan setengah berlari dengan cepat meninggalkan tempat itu. Wajahnya tampak keras. Ia berusaha menahan air matanya. Ia segera menaiki mobilnya dan menjalankannya. Ia tak perduli dengan sekelilingnya. Di mobil, air matanya tumpah dengan deras.
Pikirannya tiba-tiba sejernih Kristal saat kilatan masa lalu itu menyambar benaknya. Pagi itu, saat ia baru saja akan berangkat ke sekolah, setelah lebih dari 2 minggu Laras menghilang dan menolak menemuinya, sebuah SMS masuk ke dalam HP-nya. Yang hingga hari itu tak pernah ia hapus dari HP-nya. Pesan dari Laras
Maya, Selamat Jalan
Semoga kau berbahagia bersama Guntur….
Terkejut membaca beberapa baris pesan singkat itu, Maya segera menghubungi handphone Laras. Tapi ternyata sudah tidak aktif. Dan saat Maya mendatangi rumah Laras yang terletak hanya beberapa meter dari rumahnya, teriakan histeris Ibu Laras mengejutkannya. Maya lalu menghambur masuk ke dalam rumah Laras. Ia tertegun saat melihat Ibu Laras sudah pingsan di lantai depan kamar Laras. Dan saat ia memasuki kamar Laras, tubuh Laras sudah tergantung di atas plafon, masih bergerak-gerak dan dari kedua tangannya mengalir darah. Laras memotong urat nadi di tangannya sebelum menggantung dirinya.
Diliputi kepanikan yang amat sangat, Maya berteriak-teriak seperti kesetanan meminta pertolongan. Beberapa menit kemudian, setelah Laras diturunkan dari gantungan, ambulans membawanya ke rumah sakit. Laras sempat koma selama 3 hari sebelum akhirnya meninggal. Laras tak pernah sadarkan diri setelah upaya bunuh dirinya itu. Tak memberikan kesempatan pada Maya untuk bertanya apa maksud kata-katanya.
Pikirannya kembali ke masa sekarang saat ia hampir melindas gerobak seorang penjual bakso yang akan menyebrang. Ia mengerem mobilnya dengan cepat . Ia lalu melambaikan tangannya dan meminta maaf pada si penjual bakso yang terdiam shock. Si penjual itu lalu kembali menyebrang. Mulutnya tampak menggerutu tak jelas. Maya menarik napas panjang. Dan setelah beberapa kali beristigfar, ia kembali menjalankan mobilnya.
***
Hari ini Dina datang berkunjung ke rumah Maya setelah pulang kuliah. Rencananya mereka akan mengerjakan tugas gambar bersama lalu menonton DVD di kamar Maya. Dina kebetulan sedang libur dari kegiatan modelingnya. Sesampainya di rumah Maya yang besar, Dina langsung masuk. Kebetulan Ibu dan Ayahnya tengah mengurus proyek diluar kota jadi rumahnya sepi dan hanya ditinggali oleh pembantu Maya yang sudah mengenal Dina dengan baik.
“Eh, nak Dina. Mau belajar bareng nak Maya, yah?” Tanya Bi Sum dengan ramah.
“Iya nih, Bi. Bi, bikinin aku bakwan special yah.” Kata Dina.
Bi Sum mengangguk sambil tersenyum. Maya sendiri menggeleng-geleng melihat kelakuan sahabatnya itu.
Dina lalu masuk ke dalam kamar Maya yang tertata rapi. Lebih rapi dari milik Dina meskipun tak sebesar miliknya. Dina lalu menghempaskan tubuhnya di kasur empuk milik Maya. Dan tersadar, ada sebuah bingkai foto dengan selembar foto di atasnya. Tampak Maya dan seorang gadis yang tidak dikenalnya tersenyum ramah di dalam.
“May, ini siapa?” Tanya Dina heran.
Maya yang baru saja berganti baju dalam kamar mandi mendekati Dina. Maya merapikan rambutnya dan duduk di sebelah Dina. Maya lalu meraih bingkai foto itu dan tiba-tiba wajahnya berubah menjadi sendu.
“Ini Laras. Sahabat aku waktu SMA.” Terang Maya.
“Sekarang dia dimana? Kok gak pernah dikenalin sama aku.” Gumam Dina.
“Dia udah meninggal.” Jawab Maya singkat.
Dina tampak terkejut dan menutup mulutnya dengan sebelah tangannya.
“Maafin aku. Aku gak tahu.” Sesal Dina lalu merangkul bahu Maya.
“Gak apa-apa kok. Toh, sudah lama banget. Dia pasti udah tenang di sana.”
Dina terdiam mendengar kata-kata Maya. Dia lalu berusaha mengalihkan pikiran Maya. Dinyalakannya DVD meskipun Maya protes bahwa mereka seharusnya mengerjakan tugas terlebih dulu sebelum menonton film. Tidak mengacuhkan kata-kata Maya, Dina terus saja mengobrak-abrik tasnya mencari film yang akan ditonton dari tumpukan DVD yang dimilikinya.
***
“Oh, aku tahu! Kamu suka kan sama Guntur? Makanya kamu terus-terusan ngelarang aku supaya deketin dia! Iya kan?”seru Dina kesal.
“Aku nggak pernah bilang gitu. Aku dan Guntur gak punya hubungan apa-apa.” Maya berusaha menjelaskan kepada Dina.
“Hah! Kamu pasti dulu pernah pacaran sama dia. Dan kamu masih suka sama dia. Kamu emang gak bisa dipercaya! Aku menyesal berteman sama kamu. Oh iya. Aku ingat. Guntur pernah bilang kalo sahabat kamu, Laras, dulu bunuh diri kan? Dia bunuh diri karena kamu ngambil Guntur dari dia. Kamu---“
“Cukup!!” pekik Maya. Ditatapnya Dina dengan pandangan garang. Maya benar-benar marah mendengar kata-kata Dina.
“Kamu tahu apa soal itu?? Kamu tidak pernah tahu apa-apa kan??” seru Maya. Diambilnya tasnya dan meninggalkan Dina di ruang kelas itu.
Dina menatap kepergian Maya dengan pandangan menghina.
“Berani benar dia membentakku seperti itu? Aku memang tidak tahu apa-apa. Tapi sekarang aku tahu, kalau dia, tidak lebih dari pengkhianat.” Pikir Dina dalam hati.
Ia lalu bergegas meninggalkan kelas tanpa menyadari, sesosok mata tengah memperhatikan mereka sedari tadi.
Kembali Ke Atas Go down
m0nd0
Penulis Senior
Penulis Senior
avatar

Jumlah posting : 1446
Points : 1487
Reputation : 17
Join date : 11.07.12
Age : 30
Lokasi : Jakarta-Bandung

PostSubyek: Re: Cerbung "Love Resistance" Part 2   Thu 19 Jul 2012 - 19:36

Halo Dwiya, Ceritamu bagus. Mengalir lancar... enak kalau dikembangin buat novel. Ditunggu yaa kelanjutannya.

Buat kritik-kritiknya kita tunggu para penghuni-penghuni lain...
Kembali Ke Atas Go down
http://mimondo.tumblr.com
 
Cerbung "Love Resistance" Part 2
Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1
 Similar topics
-
» [share] Tips Serba Serbi Limbah Moge

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
SINDIKAT PENULIS :: Arena Diskusi :: Cerpen-
Navigasi: