SINDIKAT PENULIS
Silakan login dahulu, biar lebih asyik.
Kalau belum bisa login, silakan daftar dahulu.
Setelah itu, selamat bersenang-senang...


Kami adalah penulis, dan kami tidak butuh persetujuan dari siapa pun!
 
IndeksCalendarFAQPencarianPendaftaranLogin
"Jika ada buku yang benar-benar ingin kamu baca, tapi buku tersebut belum ditulis, maka kamu yang harus menuliskannya." ~ Toni Morrison

Share | 
 

 SURTI -Nasib Perawan Jaman Pendudukan Jepang-

Go down 
PengirimMessage
de_wind
Penulis Sejati
Penulis Sejati
avatar

Jumlah posting : 3494
Points : 3669
Reputation : 52
Join date : 29.03.11
Age : 33
Lokasi : Bekasi

PostSubyek: SURTI -Nasib Perawan Jaman Pendudukan Jepang-   Fri 24 Aug 2012 - 14:31

Awan berarak pelan, bermalas-malasan di peraduannya di langit yang pucat. Bukan biru, hanya warna putih yang membosankan. Cuaca yang membuat orang-orang malas untuk beraktivitas, begitu pula Jono. Pria paruh baya yang tubuhnya hanya berupa belulang berlapis kulit tipis yang keriput. Dagingnya mungkin setipis daging sukiyaki, makanan Jepang yang diperkenalkan oleh Dai Nippon, tentara Jepang yang berkuasa di Indonesia sekarang ini. Dia duduk dengan kaki sebelah terlipat, di jendela yang sudah keropos dimakan rayap.

Sementara, istrinya memegang selembar kain yang sudah agak lapuk bermotif kotak-kotak. Tangannya yang mulai keriput, tidak sesuai dengan usianya yang baru mencapai 40-an, gemulai memainkan jarum dan benang. Membentuk liukan indah yang seolah menari di udara. Diciptakan hanya oleh seulas benang tipis. Tampilan istrinya tidak jauh beda, hanya sedikit lebih pendek daripada Jono.

“Bu…”

“Hmm…”

“Udah tau belom? Katanya Jepang lagi diserbu sama Sekutu…”

“Ah, ndak ada urusannya sama kita.”

“Ndak ada hubungannya sama kita gimana toh, bu? Itu artinya kita lepas dari penjajahan Jepang!” Jono menaikkan alisnya, tidak percaya dengan nada skeptis dari istrinya.

“Trus kenapa?”

“Yah, mungkin aja dengan begitu nasib kita bisa lebih bagus, bu…,” jelasnya dengan nada sabar.

Istrinya hanya mendengus tak percaya. Kehidupan mereka memang jauh dari kata sejahtera. Mereka terbiasa makan sekali sehari, itupun hanya berupa nasi aking atau hanya umbi-umbian hasil ladang mereka yang Cuma sepetak, sedikit yang tersisa dari tanah mereka dahulu.

Pria itu memandang arakan awan pemalas itu lagi, menerawang jauh hingga ke masa kecilnya. Ayahnya pernah bercerita dulu beliau pernah merasakan hasil panen sawah keluarga mereka yang berhektar-hektar luasnya. Hal yang tidak pernah dirasakan oleh Jono. Sejak diberlakukannya Undang-Undang Cultuursteel tahun 1830, tanah mereka dirampas begitu saja oleh pemerintah Hindia Belanda. Betapa nasib negara pendudukan, harta berlimpah namun penduduk kurus kering tak berhasil.

“Minimal ndak ada lagi penjajahan di bumi Indonesia, bu…”

“Halaaah, penjajahan itu ada dimana-mana. Sekarang yang ngontrakin rumah kita saja tabiatnya sudah kayak penjajah. Telat bayar barang seminggu saja sudah ngusir-ngusir. Emangnya si Dudung itu kumpeni? Dai Nippon? Pribumi, toh…,” tukas istrinya, semakin sengit.

Jono terdiam lagi. Istrinya ini memang memiliki pemikiran yang cukup keras dan ditambah dengan pendidikan yang pernah dia emban saat penjajahan Belanda beberapa tahun yang lalu, kekerasan itu ditimpali oleh kecerdasan yang belum optimal. Alasannya? Karena hanya diberikan pendidikan sebatas sekolah rakyat. Maklum, dia bukan anak pejabat atau priyayi. Hanya anak kampung. Hasilnya, ya begini. Wanita dengan pikiran yang masih diselimuti oleh emosi-emosi yang tidak stabil.

“Lagian , banyak pribumi yang suka nunduk-nunduk sama Jepang. Kalo orang-orang begitu yang masuk pemerintahan baru, ya sama saja. Sama bejatnya!”

“Ah, ndak mungkin toh, bu.” Jono bersikeras. “Masa ndak ada perasaan senasib sebagai orang yang sebangsa.”

“Mosok??? Si Dudung itu juga suka nyulikin perawan kampung. Si Siti sekarang sudah ndak ketauan rimbanya.”

“Dibawa Dai Nippon, bu.”

Istrinya terdiam, rahangnya menegang. Jono sadar dia telah menyentuh topik yang sensitif. Dia menunduk, tidak bicara lebih banyak.

“Si Parman katanya mau ke Sumatra lho, bu…” Istrinya tidak menjawab. Dia menoleh. Wanita itu sedang menunduk, terisak pelan. “Lho, bu?” sahutnya, berdiri menghampiri istrinya.

“Surti… Surti…” Tangisnya merebak. Jono merangkul bahunya yang kecil dan kurus.

“Sudah, bu… Kita harus ikhlasin…”

“Ndak! Ndak bakalan aku ikhlasin dunia-akherat! Wong Edan! Asu!”

“Bu…!”

“Anak kita, Pak… Sembilan bulan di perutku, lahir susah-payah… Surti, Pak… Ibu kangen…” Dia menepuk-nepuk dadanya dengan keras, seakan mengusir sakit yang menyesakkan dadanya. Air mata Jono meleleh perlahan. Dia mengusapnya. Setahun sejak kepergian Surti. Jono bisa mengingatnya dengan jelas.


***


“No, kamu tau Sendenbu, kan?” Pria yang hampir seumuran dengan Jono, mengangkat kakinya di warung Kopi milih Bi Minah. Jono mengernyit memandangnya.

“Ah, siapa yang ndak tau? Polisi rahasia Jepang itu toh?”

“Katanya mereka lagi cari anak gadis buat dikirim ke Tokyo dan Shonanto…”

“Mosok sih? Buat apa?”

“Katanya sih buat diberi pendidikan. Aku wes ndak percaya. Mereka itu, Jepang itu, haus akan perempuan. Jangan-jangan malah mereka pake sendiri. Hati-hati, Surti diambil mereka, No…”

Jono tercenung. Anak gadisnya itu memang cukup menarik, turunan ibunya. Kulitnya terang, tidak gelap seperti teman-teman perempuannya yang lain. Wajahnya juga cukup manis dengan tubuh yang molek. Ah, jangan sampai Surti diapa-apakan oleh Jepang. Tak lama, dia kembali ke rumahnya.

Sesampainya di rumah, dia memanggil-manggil putri semata wayangnya itu. Surti tergopoh memenuhi panggilan ayahnya, yang terdengar agak panik. Surti mendekatinya dengan dahi berkerut. Istri Jono mengikutinya dari belakang, juga dengan keheranan yang sama dengan Surti.

“Surti… Sini, bapak mau ngomong…”

“Dalem, pak.” Surti menuruti kata-kata ayahnya dan duduk bersimpuh di depannya.

“Bapak mau kamu tinggal saja sama nenek kamu di kampung, bagaimana Surti?”

Surti mengernyitkan dahi. “Ada apa toh, pak? Kok tiba-tiba begini?”

“Bapak kuatir, nduk. Katanya Jepang lagi nyari-nyari anak gadis buat disekolahin di Tokyo…”

Surti tertawa. “Lah, bukannya bagus toh, pak?”

“Ndak. Bapak ndak percaya. Bapak ndak percaya sama bangsa yang kerjaannya menjajah bangsa lain.”

Surti terdiam melihat kebencian menyala di mata bapaknya.

“Bener itu, Surti. Kamu pulang saja ke kampung di Solo.” Suminep menyetujui usul dari suaminya.

“Tapi, bu…”

“Ndak ada tapi-tapian…!” Segera Suminep berdiri dan bergegas ke kamar Surti, tak diragukan lagi, untuk membereskan pakaiannya. Surti hanya menunduk, tak kuasa menolak keinginan orangtuanya. Lagipula, dalam hatinya berdesir rasa takut. Tentara Jepang di Indonesia jarang bersikap ramah, malahan dia sering mendengar banyak sekali kasus pemerkosaan. Yang jadi korban, malah teman-temannya sendiri.

“Kamu ngerti toh, nduk?” Surti mengangguk pelan mendengar perkataan bapaknya.

“Surti sudah banyak denger korban tentara Jepang. Surti juga takut, pak…”

Baru saja Surti selesai mengemas pakaiannya, dia mendengar gelegar teriakan bahasa aneh yang mereka tidak mengerti. Bahasa Jepang, tentara Jepang akhirnya datang ke lingkungan rumah mereka. Wajah Suminep dan Surti kontan memucat.

“Ayo Surti, lewat pintu belakang!” sahut ibunya pelan, seakan tentara Jepang dapat mendengar suara mereka.
Jono sendiri sibuk mengintip keluar jendela. Beberapa gadis telah ditangkap. Beberapa dengan pasrah mengikuti mereka. Para orangtua berkerumun untuk melihat, tetapi tak berani melawan. Salah satu tentara Jepang sedang menjelaskan sesuatu kepada tetangga Jono. Dia menjawab dengan keras, memperlihatkan ketidakpercayaannya. Jono berpikir, Ini tentulah masalah pemberangkatan ke Tokyo dan Shonanto itu.

“Bu, cepat!” Jono menutup tirai rumahnya dan tergopoh-gopoh mendorong Surti dan istrinya ke dapur. Dia melihat beberapa tentara sempat melihat ke arah rumahnya. Tentara Jepang melanjutkan program Wijk en Passenstelsel (Surat Jalan dan Surat Bertempat Tinggal) yang diwariskan dari Pemerintah Belanda, jadi mereka dengan pasti mengetahui keberadaan Surti di sini.

“Aaaa…!!!” Suminep kontan berteriak saat membuka pintu belakang. Seorang tentara Jepang bersiaga di sana dan menoleh ke arah mereka. Dia menunjukkan seringai kemenangan saat melihat Suminep dan Surti, yang beringsut di belakang tubuh ibunya.

“Wong Edan!!!” teriaknya pasrah. “Kamu ndak boleh bawa anak saya kemana-mana!”
Tentara itu berseru, memanggil rekan-rekannya dengan bahasa yang aneh. Suminep semakin memucat. Dia mendorong Surti keluar saat tentara itu menoleh ke arah lain.

“Lari, Surti!! Lari!!!” jeritnya. Surti mengangkat kainnya tinggi-tinggi dan berlari ke arah yang berlawanan. Tak jauh di depannya ada semak-semak dan hutan yang cukup rimbun, dia pasti bisa mengecoh tentara Jepang itu di sana. Warga yang melihat kejadian itu tidak berani bergerak. Mereka hanya berani mendekap mulut mereka dan berdoa dalam hati. Tidak ada yang berani menolong Surti dan keluarganya.

Sekejap saja, usaha Surti menemui kegagalan. Tentara Jepang yang terlatih dalam kemiliteran dengan mudah menyusul Surti dan menangkapnya, menyeretnya ke arah truk tentara yang telah mereka siapkan.

“Surti…!!!” seru Suminep pilu, mengangkat kainnya tinggi-tinggi selagi dia berlari mencoba menyusul Surti. Jono mengambil sebilah kayu panjang dengan amarah luar biasa. Namun, mereka dihalangi oleh warga.

“Jangan, No…! Bisa mampus kamu nanti!!”

“Bapaaak…!!! Ibu…!!!” Surti menangis meraung-raung, mencoba memberontak hingga dihadiahi tamparan keras oleh salah satu tentara yang sedang menariknya. Surti tersedu-sedan, memandangi kedua orangtuanya, meminta pertolongan.

“Minggir, Man!” seru Jono mengamuk, mendorong teman sekampungnya itu, yang menangis putus asa. “Itu anakku! Mereka gak berhak bawa kabur anakku!!!” Suminep mencoba menepis tangan-tangan yang menghalangi tubuhnya dari anaknya.

“Ampuuun, ampuuun, jangan ambil anakkuuu…!!!” Suminep berlutut di tanah, memohon dan bersujud, berulang kali. Surti memandangi ibunya dengan wajah pilu. Dia menggelengkan kepalanya, pasrah, menanti nasib yang akan meremukkan seluruh masa depannya. Dia tersenyum pilu, memberikan bakti terakhirnya kepada kedua orangtuanya.
Senyum yang masih terbayang sebagai pemandangan terindah oleh Jono dan Suminep. Mereka terdiam, berangkulan di kamar yang sempit. Memandang pintunya, seakan berharap Surti akan masuk melalui pintu itu tanpa permisi seperti biasanya. Sekali lagi.


***


Sendal Jono mengeluarkan suara keplak-keplak saat dia berlari tergesa-gesa. Di sekelilingnya, semua orang ikut berlari. Ada yang memakai sepatu, sendal, bahkan bertelanjang kaki. Kegairahan tampak nyata membumbung di udara saat mereka menempuh menembus angin siang hari yang bergelak malas. Semuanya menuju ke satu tempat, balai desa. Di sana sudah menunggu radio kecil yang hari itu menjadi berhala bagi warga sekampung di Tanah Abang.

Sesampainya di balai desa, Jono bahkan tidak mencopot sendalnya seperti biasa. Dia ngeloyor masuk dan ikut dalam barikade yang menutupi radio kecil tersebut.

“Aduh, kowe jangan dorong-dorong!”

“Dieeem, sst…!”

“Mana? Mana?”

“Ono opo iki?”

“SSSTT…!!!”

Samar-samar diselingi dengan suara gemerisik, suara bung Karno tegas melantunkan ayat proklamasi, yang pada hari itu menjadi kitab suci bangsa Indonesia. Mereka menahan nafas mendengar suara itu, hingga kalimat terakhir dibacakan.

“…bangsa Indonesia, tujuh belas Agustus tahun empat lima.”

Terdengar gemuruh sorak-sorai nun jauh dari balik speaker radio kecil itu. Jono terpana mendengar suara jernih dan tegas itu. Tidak penting siapa yang mengucapkannya, atau yang menulis kalimat sederhana pembawa kegempitaan itu. Air matanya kembali meleleh. Jepang telah jatuh, Hiroshima dan Nagasaki dibom atom oleh tentara Sekutu. Tidak berkutik, Jepang kabur tunggang-langgang, meninggalkan berbagai goresan luka yang entah kapan dapat tersembuhkan.

“Kita merdeka…,” gumamnya, seakan tidak mempercayai pendengarannya.

Gemuruh teriakan suka cita melantingkan gumaman Jono yang masih berdiri terpaku. Dia tersentak dan melihat warga sekampungnya merayakan kegembiraan mereka. Ucap syukur dan panjatan doa terdengar bersahut-sahutan, seakan memanggil-manggil Tuhan untuk ikut turun merayakan bersama. Tidak, Tuhan pastilah sedang bersama mereka di sini.

“Puji syukuuuur, gusti Allaaaaahhh….,” seru Jono, berpelukan dengan teman-temannya, tidak lagi peduli apakah mereka telah kenal atau tidak. Semuanya adalah temannya, teman-teman sebangsanya. Yang ikut mnanggung sebagian penderitaan mereka masing-masing.

Jono berlari kencang, pemandangan kiri dan kanannya tidak diacuhkannya. Semuanya hilang, hanya satu pandangan yang pasti, rumahnya. Rumah tempat dia berteduh, berkasih sayang dengan keluarganya. Tempat dia menumpahkan lara dan suka citanya. Dia langsung menggenggam tangan istrinya yang sedang berada di dapur.

“Neeep, kita merdeka, nep! Kita merdeka…,” sahutnya dengan suara bergetar. Seluruh tubuhnya bergetar akan haru yang luar biasa. Air matanya tak terbendung lagi, membasahi seluruh wajahnya. Suminep tersenyum trenyuh.

“Tidak ada lagi kumpeni, tidak ada lagi Dai Nippon…” Dia menciumi tangan istrinya dengan segenap hatinya.

“Surti bisa tenang, bu… Bisa tenang di alam sana…” Air matanya bercucuran. Emosi yang mengendap selama ini tertumpah ruah dalam rentetan puji syukur.

“Surti… Surti…”

Bibir Suminep bergetar mendengar lantunan suaminya. Nama yang menjadi kebahagiaan mereka, nama yang menjadi kesakitan mereka. Nama itu kini tiada lagi, hilang tak berbekas sejalan dengan roda-roda gilasan penjajahan yang tak berbelas kasihan. Entah akan merasakan suka cita yang sama saat proklamasi kemerdekaan berkumandang lewat radio. Entah akan ikut bersyukur akan kebebasan yang telah lama diharapkan dalam hati.


***


Surti hanyalah tokoh fiktif dari korban pendudukan Jepang yang berlangsung hanya selama 3,5 tahun dari tahun 1942-1945. Namun, dalam waktu sesingkat itu, harga diri dan kehormatan bangsa telah dirampas dan dikoyak dengan keji, atas nama perluasan kekuasaan, atas nama martabat di atas peta dunia. Semoga penjajahan dihapuskan di atas muka bumi ini.

“Banyak kalangan yang menilai perbuatan balatentara Jepang tersebut sebagai salah satu tragedi kemanusiaan terbesar abad ke-20. Diperkirakan 200.000 perempuan dari negara-negara Asia yang pernah diduduki Jepang, seperti Korea Selatan, Taiwan, Indonesia, Filipina, dan Burma, termasuk perempuan Jepang sendiri, telah dijadikan budak seks.”
(dikutip dari Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer oleh Pramoedya Ananta Toer).

TAMAT

Kembali Ke Atas Go down
de_wind
Penulis Sejati
Penulis Sejati
avatar

Jumlah posting : 3494
Points : 3669
Reputation : 52
Join date : 29.03.11
Age : 33
Lokasi : Bekasi

PostSubyek: Re: SURTI -Nasib Perawan Jaman Pendudukan Jepang-   Sun 26 Aug 2012 - 0:10

UUUUPPP........... murka
Kembali Ke Atas Go down
Blassreiter
Penulis Senior
Penulis Senior
avatar

Jumlah posting : 537
Points : 591
Reputation : 8
Join date : 27.07.12
Age : 27

PostSubyek: Re: SURTI -Nasib Perawan Jaman Pendudukan Jepang-   Sun 26 Aug 2012 - 0:17

Dan bukannya menghina suatu negara atau apa
Sepertinya budaya sex jepang memang mengakar kuat sampai sekarang
Setiap bulan ratusan judul adult video terbit

Jadi walaupun mempunyai budaya sopan santun yang kuat
Budaya tetaplah budaya
Semua menganggap baratlah yang menyebarkan budaya sex bebas ke timur
Tapi....
Prostitution in japan has a long history
http://en.wikipedia.org/wiki/Sexuality_in_Japan

*sorry agak OOT
Kembali Ke Atas Go down
de_wind
Penulis Sejati
Penulis Sejati
avatar

Jumlah posting : 3494
Points : 3669
Reputation : 52
Join date : 29.03.11
Age : 33
Lokasi : Bekasi

PostSubyek: Re: SURTI -Nasib Perawan Jaman Pendudukan Jepang-   Sun 26 Aug 2012 - 1:03

emang...temenku ada yg pernah ke jepang
ktny mah di gang2 tmpat umum padahal
ada aja lho yg bgtuan...
tp aku blom prnah nyaksiin
jd gak bisa ngomong banyak soal itu Very Happy



KOMEN, BLASSS.....KOMEEEENNN Nangis
Kembali Ke Atas Go down
Auryn
Penulis Muda
Penulis Muda


Jumlah posting : 186
Points : 205
Reputation : 1
Join date : 17.05.12

PostSubyek: Re: SURTI -Nasib Perawan Jaman Pendudukan Jepang-   Sun 26 Aug 2012 - 5:12

Suka dialognya Top
Kembali Ke Atas Go down
Blassreiter
Penulis Senior
Penulis Senior
avatar

Jumlah posting : 537
Points : 591
Reputation : 8
Join date : 27.07.12
Age : 27

PostSubyek: Re: SURTI -Nasib Perawan Jaman Pendudukan Jepang-   Sun 26 Aug 2012 - 8:34

de_wind wrote:
emang...temenku ada yg pernah ke jepang
ktny mah di gang2 tmpat umum padahal
ada aja lho yg bgtuan...
tp aku blom prnah nyaksiin
jd gak bisa ngomong banyak soal itu Very Happy



KOMEN, BLASSS.....KOMEEEENNN
Bagus
-----------
tambahin
hmmm, sepengetahuanku radio dulu itu guede2
Dan juarang buanget yang punya
Banyak rakyat indonesia yang baru tahu kemerdekaan berbulan2 kemudian
kira2 seukuran ini
http://puripurboyo.files.wordpress.com/2008/10/img_0292.jpg

itu aja sih cm masalah detail
yg lain bagus
Kembali Ke Atas Go down
vera astanti
Penulis Senior
Penulis Senior
avatar

Jumlah posting : 1658
Points : 1715
Reputation : 3
Join date : 14.05.12
Age : 27
Lokasi : Bojonegoro

PostSubyek: Re: SURTI -Nasib Perawan Jaman Pendudukan Jepang-   Sun 26 Aug 2012 - 10:13

baguuuuuuuuuuuuuus mbaaa winnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnddddddddddddd

Top Top Top


suka bangeeeeet


_________________
Catatan Pembolang Baru
Kembali Ke Atas Go down
de_wind
Penulis Sejati
Penulis Sejati
avatar

Jumlah posting : 3494
Points : 3669
Reputation : 52
Join date : 29.03.11
Age : 33
Lokasi : Bekasi

PostSubyek: Re: SURTI -Nasib Perawan Jaman Pendudukan Jepang-   Sun 26 Aug 2012 - 11:05

vera n auryn... makasiii... gemes
ada yg aneh lg gak tuh? si blass udh nemu satu keanehan


iya nih salah satu jeleknya org kyk aku yg jarang cek n ricek (pemales!!)
wah makasi ya udh dikasi link sgala... gemes
Kembali Ke Atas Go down
Sponsored content




PostSubyek: Re: SURTI -Nasib Perawan Jaman Pendudukan Jepang-   

Kembali Ke Atas Go down
 
SURTI -Nasib Perawan Jaman Pendudukan Jepang-
Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1
 Similar topics
-
» WTS STANG TOMMASELI ITALI DAN PLOT JEPANG NINJA 250R/FI/Z250
» ninin standar tingting setengah perawan dari harapan indah bekasi

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
SINDIKAT PENULIS :: Arena Diskusi :: Cerpen-
Navigasi: