SINDIKAT PENULIS
Silakan login dahulu, biar lebih asyik.
Kalau belum bisa login, silakan daftar dahulu.
Setelah itu, selamat bersenang-senang...


Kami adalah penulis, dan kami tidak butuh persetujuan dari siapa pun!
 
IndeksCalendarFAQPencarianPendaftaranLogin
"Jika ada buku yang benar-benar ingin kamu baca, tapi buku tersebut belum ditulis, maka kamu yang harus menuliskannya." ~ Toni Morrison

Share | 
 

 RINDU UNTUK ADINDA

Go down 
PengirimMessage
iin yakub
Penulis Muda
Penulis Muda
avatar

Jumlah posting : 178
Points : 199
Reputation : 3
Join date : 30.08.12
Age : 34
Lokasi : PALEMBANG

PostSubyek: RINDU UNTUK ADINDA   Mon 3 Sep 2012 - 21:06

RINDU UNTUK ADINDA
Oleh: Iin Yakub



Sudah sebulan berlalu sejak peristiwa itu, Adinda. Kau masih memunggungiku. Menatap jendela di luar sana sepanjang hari. Aku tahu kau sedang meredam air mata. Rasanya aku ingin memaksamu membuka mata, Dinda. Menatapku lekat-lekat seperti dahulu. Lihatlah, aku selalu datang kepadamu untuk berbagai cahaya. Tak lama lagi Ramadhan tiba. Aku bukan mimpi atau segala hal yang memberimu sepi. Akulah tempat yang rindumu selalu kujaga, lukamu kurawat sabar.
* * *

Aku memaksakan kaki tetap teguh membopongmu menembus malam dingin. Aku tahu tubuhku tak kokoh untuk menggendongmu. Namun, hati dan jiwaku memiliki kekuatan yang tak pernah kau bayangkan. Tetap saja, harus kuakui saat ini aku begitu lemah dan hampir menangis meraung. Aku merangkulmu dalam dekapan. Menatap wajahmu yang sepucat rembulan, tubuh lunglai, dan darah berderai dari rahimmu. Rasanya aku ingin memaksa malaikat agar membawaku menemui Tuhan. Di sana aku akan menyembah menyerahkan separuh usia dan seluruh amalku, “Biarkan aku yang merasakan sakit itu. Jangan dia. Tidak pula anak kami. Allah, aku mohon biarkan aku yang menanggung sakit itu. Dia dan anakku terlalu lemah, sudah terlalu lama berbagi nyawa—nafas—asa berdua.”

Aku terduduk lemas di pintu ruang operasi. Kubiarkan suster dan dokter memberikan pertolongan pertama padamu. Aku tak tahu harus melakukan apa. Memohon pada Tuhan agar sedikit berbaik hati padaku, padamu, juga pada anak kita. Aku meminta pada-Nya, jangan biarkan Izrail mendekati ruanganmu malam ini.
* * *

Sudah sebulan sejak peristiwa itu, Adinda. Kau masih memunggungiku. Padahal aku sungguh rindu merapatkan jemari kita berdua. Dinda, remahan rinduku masih tersisa segenggam di tangan. Sebagian telah kutebar di tengah gerimis siang ini. Kuharap ia ceritakan itu padamu, betapa aku sungguh merindukan sekuntum senyummu.

Adinda, aku minta maaf telah membawa mimpi buruk dalam hidupmu. Maafkan aku. Pilihan yang ditawarkan padaku malam itu begitu sulitnya. Aku harus memilih. Memilih cinta mana yang harus kupertahankan walaupun aku mencintai kalian berdua sepenuh jiwaku, sama besarnya.


“Kondisinya labil, kita harus memilih.”

Ah… saat itu, aku kehabisan cahaya berikut oksigen yang biasanya memenuhi dunia kita. Alangkah pelitnya dokter itu memberikan pilihan. Kau atau anak kita? Saat kutanyakan, bolehkan aku memilih keduanya?? Dokter menggeleng. Kuputuskan untuk memilihmu. Dinda, jika semesta membutuhkan malam dan pagi untuk menemani hari, aku membutuhkanmu untuk menemani hidupku.

Adinda, maafkan aku. Malam itu aku juga mencerabutkan mimpimu untuk menimang anak kita. Bukan aku pemilik kehidupan di dunia ini, aku hanya memilih. Jundi kecil kita sempat menangis, tetapi amat lemah suaranya. Kau mungkin mendengarnya. Dia memanggilmu ibu dalam tangisnya, tapi saat itu kau pun selemah tangisnya. Aku mempertahankan eksistensi jiwaku saat menggendongnya pulang—tanpa sempat mengumandangnkan azan ditelinganya—lalu memandikannya. Dibantu ayah, aku membungkusnya dengan kafan dan mengantarnya ke pelukan paling hangat pemilik kehidupan. Adinda janganlah bersedih meskipun kau tak sempat menatap wajah tampannya. Saat ini ia sedang tertawa, bermain, dan menghafal Al Quran di raudhatul jannah. Kelak, dia akan menjemputmu saat semua orang kesepian di yaumil akhir. Dia akan menemanimu, Adinda, menghapus sepi dan dukamu di hari semua orang merasa bersedih. Dia hanya menginginkanmu untuk menemaninya bermain di tepian salsabila. Adinda jangan menangis. Andai dapat kurapal mantera yang bisa menghapus duka, mungkin tak akan susah aku merinduimu seperti ini. Saat jermari kita tak lagi bersentuhan, kenangan hanyalah penghibur saat kesepian menggila seperti ini.
* * *

“Kita harus mengangkat rahimnya.”

Aku terbelalak. Cobaan apa lagi ini? Belum cukupkah duka untukmu? “Apa ada yang tidak beres dengan rahimnya?”

“Kita harus menghentikan pendarahannya. Hanya itu satu-satunya jalan jika tetap ingin mempertahankan nyawanya.”

Ya Rabb… bagaimana nanti aku bercerita padanya saat harus menyampaikan semua kenyataan pahit ini. Bagaimana nanti dia tetap bertahan sebagai istriku dengan semua yang sudah tercerabut dari kebanggaannya sebagai ibu. Pertama anak, lalu kini hartanya paling berharga harus pula ia langsaikan. Namun, aku mengangguk juga. “Selamatkan dia, bagaimanapun caranya.”
* * *

Sudah sebulan berlalu sejak peristiwa itu. Kau tetap memunggungiku. Menghabiskan waktu sepanjang hari dengan menatap taman rumah sakit. Mungkinkah kau melihat pangeran kecilmu berlarian di taman itu? Aku tak berhak marah padamu. Malah seharusnya aku bersujud simpuh memohon maaf padamu karena anggukan kepalaku malam itu. Jika tidak? Entahlah. Mungkin aku hanya akan berjudi dengan waktu. Kalau saja malam itu aku tidak menganggukkan kepala, mungkin saat ini dengan kuasa Tuhan kau tetap hidup dengan rahimmu. Atau bisa jadi, kau telah berpeluk dengan pangeran kecilmu. Aku memohon maaf atas keegoisanku mempertahankanmu hanya untuk hidupku. Adinda, aku hanya ingin kau pahami bahwa sudah kuadukkan namamu dalam bejana rindu di tungku kalbuku. Merah bara kasih sayangku padamu. Di sana, terdidih tirta kasih yang kureguk agar dirimu merasuk selamanya menjadi penggenap tulang rusukku.

Adinda, sudah sebulan berlalu sejak peristiwa itu. Kau masih saja memunggungiku. Menghabiskan ribuan detik milikmu hanya untuk menatap cemara tua di luar sana. Aku ingin mendengarmu bertanya padaku, “Mengapa kau selalu datang?” Tahukah kau, jawabannya? Karena rindu selalu mengantarku pada sebuah rumah bernama ‘KAMU’ tanpa kenal waktu.
* * *

Wanita itu tersenyum dalam tidurnya. Cahaya mentari di luar sana menerobos masuk celah jendela memberi rona di wajahnya. Nafasnya bergerak teratur. Ia sedang berlari mengejar bocah laki-laki berambut ikal dan bermata bulat. Tawa bocah itu renyah jenaka laksana gemerick air gunung di sudut rimba cinta. “Tunggu ibu, Nak…” ia mengulurkan tangan saat bocah itu mendaki sebuah cadas besar. Ia hanya sempat melihat sesaat sebelum bocah gempal berkulit putih itu kehilangan pegangan.

Wanita itu terbelalak. Namun, tak ada cadas hitam besar dan tinggi yang menggelincirkan putranya. Di hadapannya hanya sebuah jendela bening bertirai putih yang memantul cahaya matahari pagi. Sebatang cemara masih berdiri kokoh menatapnya.

“Mana anak kita?”

“Allah mengasuhnya.”

Ia meremas air mata mengingat kalimat itu.

“Aku kenapa?”

“Maafkan aku, Dinda,” ia melihat lelaki terbaik itu menangis. Mencium puncak kepalanya. Nafasnya terdengar berat. “Mereka mengangkat rahimmu.”

Wanita itu bergeming. Air matanya runtuh. Pelukan laki-laki itu terasa hampa. Laksana daun yang berguguran saat kemarau datang, ia merasa jiwanya hilang. Perlahan. Dialah ranting kesedihan yang ditinggalkan masa.
* * *

Adinda, aku telah mengizinkanmu tataplah ragu selama kau mau. Sebersikeras cahaya matamu, tapi jangan cegah cintaku memandang tulus hatimu. Hari ini, sebulan telah berlalu. Biarkan kuseka air matamu. Sebentar lagi Ramadhan tiba. Aku rindu Ramadhan seperti dulu bersamamu. Di sepenjang sudut jalan Ramadhan nanti, aku (mungkin) hanya akan menyusuri kenangan kita. Berharap dapat memungut kembali serpihan hati yang tercecerkan.


Adinda, sebulan telah berlalu sejak peristiwa itu. Semoga kau masih ingat kataku dulu, aku adalah kereta pembawa gerbong penuh terisi rindu, berpacu dengan jarak dan waktu untuk menuju stasiun bertulis namamu. Hingga hari ini, hampir dua tahun pernikahan kita, aku tetaplah kereta itu. Kumohon jangan lagi memunggungiku, tataplah aku, Dinda. Aku rindu senyum dan indah mata zaitunmu. Janganlah kau biarkan aku berteman hampa. Berilah isyarat apa pun yang kau bisa agar aku tahu koordinatku di ruang hatimu.

Adinda, sebulan telah berlalu sejak peristiwa itu. Lihatlah di terang malam di luar sana. Bulan sabit itu umpama dirimu, Adinda. Umpama kau yang sedang menimang anakku. Entah sedang merayu meminta senyumnya atau merajuk karena tangisnya. Semua itu kudamba dalam benakku, Dinda. Mendamba menatapmu berkasih-kasihan dengan kekasih baru kita.

“Alhamdulillah...”

Aku hampir menangis saat kau membalikkan badan dan berusaha menegakkan punggungmu. Kau menatapku untuk pertama kali sejak satu bulan terakhir. Senyummu masih seindah kamboja di tengah belukar rinduku. Matamu adalah sihir yang mengajakku melabuhkan rindu. Aku memelukmu erat sekali. “Maafkan aku,” bisikku.

“Aku ibu,” bisikmu parau. Tanganmu mencengkram erat punggungku. “Anakku?” bisikmu tepat di telingaku.

Sebutir mutiara bening berdenting hangat di bahuku. Aku tahu itu dari bendungan patah hatimu. Sesak di dadaku kian menjadi. Aku tahu bahumu terguncang oleh sedan. Detik berikutnya, aku tak tahu kau dapat kekuatan dari mana. Tubuhku terlempar ke lantai kamar rumah sakit. Kudengar kau meraung histeris. Kulihat kau lemparkan semua yang dapat kau raih dengan jemari lentik yang biasa kugenggam hampir dua tahun ini. Setelah itu, teriakmu lenyap. Kau malah menertawakan aku yang merana melihat tatapan hampamu.

Adindaku sedalam itukah luka oleh cinta? Aku kehilangan kata. Tak bisakah rinduku menjadi penenangmu? Mungkin inilah saat aku akan terlupakan atau bahkan tersisih dari ingatan dan hatimu. Saat kau pilu, terpukul, dan terluka seperti ini, yakinkan hatimu, Dinda. Yakinlah aku selalu ada untukmu, Adinda. Andai dapat kuulang waktu, aku tak akan menyesal membiarkanmu tetap bersama cinta barumu yang kau semai sembilan bulan lamanya di rahimmu. Andai dapat kuputar waktu, aku tak akan menyesal membiarkan kau melanjutkan hidup bersama cinta yang kita semai di alam baru yang di tepian salsabila. Namun, maafkan aku, Adinda. Maafkan keegoisanku membuatmu kehilangan semuanya. Tahukah kau, Dinda? Rindu inilah semakin menjadi candu. Membuatku terhuyung-huyung dalam menjajari langkahmu yang seolah hendak pergi jauh dariku.
* * *
Kembali Ke Atas Go down
http://angan-kirana.blogspot.com
de_wind
Penulis Sejati
Penulis Sejati
avatar

Jumlah posting : 3494
Points : 3669
Reputation : 52
Join date : 29.03.11
Age : 33
Lokasi : Bekasi

PostSubyek: Re: RINDU UNTUK ADINDA   Mon 3 Sep 2012 - 21:34

aku suka bgt diksinya, puitis abis.... jempol
tp klo berdasarkan seleraku, terlalu puitis jg sih.. Laughing
Kembali Ke Atas Go down
iin yakub
Penulis Muda
Penulis Muda
avatar

Jumlah posting : 178
Points : 199
Reputation : 3
Join date : 30.08.12
Age : 34
Lokasi : PALEMBANG

PostSubyek: Re: RINDU UNTUK ADINDA   Mon 3 Sep 2012 - 21:46

de_wind wrote:
aku suka bgt diksinya, puitis abis.... jempol
tp klo berdasarkan seleraku, terlalu puitis jg sih.. Laughing


So... Perlu editting ulan gak??? tik
Kembali Ke Atas Go down
http://angan-kirana.blogspot.com
Blassreiter
Penulis Senior
Penulis Senior
avatar

Jumlah posting : 537
Points : 591
Reputation : 8
Join date : 27.07.12
Age : 27

PostSubyek: Re: RINDU UNTUK ADINDA   Mon 3 Sep 2012 - 22:58

de_wind wrote:
aku suka bgt diksinya, puitis abis.... jempol
tp klo berdasarkan seleraku, terlalu puitis jg sih.. Laughing
siapa juga yang peduli selera kakak
*kabur ke kolong meja
iin yakub wrote:
de_wind wrote:
aku suka bgt diksinya, puitis abis.... jempol
tp klo berdasarkan seleraku, terlalu puitis jg sih.. Laughing


So... Perlu editting ulan gak??? tik
menurutku sih udah bagus, ini kan gaya penulisan kakak sendiri, jangan diubah-ubah Top
Kembali Ke Atas Go down
iin yakub
Penulis Muda
Penulis Muda
avatar

Jumlah posting : 178
Points : 199
Reputation : 3
Join date : 30.08.12
Age : 34
Lokasi : PALEMBANG

PostSubyek: Re: RINDU UNTUK ADINDA   Mon 3 Sep 2012 - 23:03

menurutku sih udah bagus, ini kan gaya penulisan kakak sendiri, jangan diubah-ubah Top [/quote]

Makasih Adek... joget joget

(hhahhahh... narsis jdnya... )
Kembali Ke Atas Go down
http://angan-kirana.blogspot.com
de_wind
Penulis Sejati
Penulis Sejati
avatar

Jumlah posting : 3494
Points : 3669
Reputation : 52
Join date : 29.03.11
Age : 33
Lokasi : Bekasi

PostSubyek: Re: RINDU UNTUK ADINDA   Fri 7 Sep 2012 - 16:00

iin yakub wrote:

So... Perlu editting ulan gak??? tik

gak kok, kan mslh selera aja...
kcuali klo ada salah pnulisan ato kata2 yg ganjil itu baru di edit...
ini bagus kok... Top

Blassreiter wrote:

siapa juga yang peduli selera kakak
*kabur ke kolong meja

oh jd gitu blass.... marah
nyiapin boneka voodoo pake avatar blass marah
Kembali Ke Atas Go down
iin yakub
Penulis Muda
Penulis Muda
avatar

Jumlah posting : 178
Points : 199
Reputation : 3
Join date : 30.08.12
Age : 34
Lokasi : PALEMBANG

PostSubyek: Re: RINDU UNTUK ADINDA   Fri 7 Sep 2012 - 19:33

Blassreiter wrote:

siapa juga yang peduli selera kakak
*kabur ke kolong meja

oh jd gitu blass.... marah
nyiapin boneka voodoo pake avatar blass marah
[/quote]



hei... hei..heiiii kabur
jangan berantem di sini duuunkkk...
K-Wind.. jgn pake boneka voodoo... langsung disantet aja.. nyengir
Kembali Ke Atas Go down
http://angan-kirana.blogspot.com
Blassreiter
Penulis Senior
Penulis Senior
avatar

Jumlah posting : 537
Points : 591
Reputation : 8
Join date : 27.07.12
Age : 27

PostSubyek: Re: RINDU UNTUK ADINDA   Fri 7 Sep 2012 - 19:48

voodoo? santet?

pada becanda nih



*nyiapin daun kelor
Kembali Ke Atas Go down
iin yakub
Penulis Muda
Penulis Muda
avatar

Jumlah posting : 178
Points : 199
Reputation : 3
Join date : 30.08.12
Age : 34
Lokasi : PALEMBANG

PostSubyek: Re: RINDU UNTUK ADINDA   Fri 7 Sep 2012 - 19:52

Blassreiter wrote:
voodoo? santet?

pada becanda nih



*nyiapin daun kelor


tenang Blas... ini cuma uji kelayakan pada kostum avatarmu itu...
antisantet gak tuh kostum..... girang
Kembali Ke Atas Go down
http://angan-kirana.blogspot.com
Blassreiter
Penulis Senior
Penulis Senior
avatar

Jumlah posting : 537
Points : 591
Reputation : 8
Join date : 27.07.12
Age : 27

PostSubyek: Re: RINDU UNTUK ADINDA   Fri 7 Sep 2012 - 20:06

iin yakub wrote:
Blassreiter wrote:
voodoo? santet?

pada becanda nih



*nyiapin daun kelor


tenang Blas... ini cuma uji kelayakan pada kostum avatarmu itu...
antisantet gak tuh kostum..... girang
tentu donk, itu kan buatan smart brain rokok
Kembali Ke Atas Go down
de_wind
Penulis Sejati
Penulis Sejati
avatar

Jumlah posting : 3494
Points : 3669
Reputation : 52
Join date : 29.03.11
Age : 33
Lokasi : Bekasi

PostSubyek: Re: RINDU UNTUK ADINDA   Mon 10 Sep 2012 - 23:28

walaaaah pd nyampah ini di trit orang...
ck ck ck...



kabur
Kembali Ke Atas Go down
vera astanti
Penulis Senior
Penulis Senior
avatar

Jumlah posting : 1658
Points : 1715
Reputation : 3
Join date : 14.05.12
Age : 27
Lokasi : Bojonegoro

PostSubyek: Re: RINDU UNTUK ADINDA   Tue 11 Sep 2012 - 11:39

ceritanya bagus,
Nangis

bikin sedih....

*mengabaikan orang-orang di atas

_________________
Catatan Pembolang Baru
Kembali Ke Atas Go down
iin yakub
Penulis Muda
Penulis Muda
avatar

Jumlah posting : 178
Points : 199
Reputation : 3
Join date : 30.08.12
Age : 34
Lokasi : PALEMBANG

PostSubyek: Re: RINDU UNTUK ADINDA   Tue 11 Sep 2012 - 11:52

vera astanti wrote:
ceritanya bagus,
Nangis

bikin sedih....

*mengabaikan orang-orang di atas



thank's Vera... centil
temen2 di FB jg bilang gitu... tapi... iin dah baca berkali2 gak dapet feel sedihnya... ngupil
padahal saya sendiri yg nulis... Very Happy
Kembali Ke Atas Go down
http://angan-kirana.blogspot.com
vera astanti
Penulis Senior
Penulis Senior
avatar

Jumlah posting : 1658
Points : 1715
Reputation : 3
Join date : 14.05.12
Age : 27
Lokasi : Bojonegoro

PostSubyek: Re: RINDU UNTUK ADINDA   Tue 11 Sep 2012 - 11:57

iin yakub wrote:
vera astanti wrote:
ceritanya bagus,
Nangis

bikin sedih....

*mengabaikan orang-orang di atas



thank's Vera... centil
temen2 di FB jg bilang gitu... tapi... iin dah baca berkali2 gak dapet feel sedihnya... ngupil
padahal saya sendiri yg nulis... Very Happy


yah kadang karya memang belum tentu bisa menguras air mata penulis. Very Happy
fb nya apa mbak?

_________________
Catatan Pembolang Baru
Kembali Ke Atas Go down
iin yakub
Penulis Muda
Penulis Muda
avatar

Jumlah posting : 178
Points : 199
Reputation : 3
Join date : 30.08.12
Age : 34
Lokasi : PALEMBANG

PostSubyek: Re: RINDU UNTUK ADINDA   Tue 11 Sep 2012 - 12:02

vera astanti wrote:



yah kadang karya memang belum tentu bisa menguras air mata penulis. Very Happy
fb nya apa mbak?

tapi... sering lho...saat nulis saya jg kebawa emosi sendiri... (saya yg nulis.. saya marah atau nangis sendiri)
tapi gak tau cerpen yg ini nggak ngaruh feelnya... iri

fb saya... kirimi_iin@yahoo.co.id
Kembali Ke Atas Go down
http://angan-kirana.blogspot.com
vera astanti
Penulis Senior
Penulis Senior
avatar

Jumlah posting : 1658
Points : 1715
Reputation : 3
Join date : 14.05.12
Age : 27
Lokasi : Bojonegoro

PostSubyek: Re: RINDU UNTUK ADINDA   Tue 11 Sep 2012 - 12:08

wekekeke
aku kalo itu sih juga sering mba..
gak tahu kenapa.
kalau dipikir aneh juga, yang nulis diri sendri kok bisa-bisanya nangis atau marah2. Very Happy

udah aku add. aprove ya mbaa

_________________
Catatan Pembolang Baru
Kembali Ke Atas Go down
iin yakub
Penulis Muda
Penulis Muda
avatar

Jumlah posting : 178
Points : 199
Reputation : 3
Join date : 30.08.12
Age : 34
Lokasi : PALEMBANG

PostSubyek: Re: RINDU UNTUK ADINDA   Tue 11 Sep 2012 - 12:11

Top
Kembali Ke Atas Go down
http://angan-kirana.blogspot.com
m0nd0
Penulis Senior
Penulis Senior
avatar

Jumlah posting : 1446
Points : 1487
Reputation : 17
Join date : 11.07.12
Age : 30
Lokasi : Jakarta-Bandung

PostSubyek: Re: RINDU UNTUK ADINDA   Sun 16 Sep 2012 - 17:09

Aku suka gaya bahasanya. Terus dilema perasaannya juga dapet penjiwaannya, kebayang gitu gimana perasaan sang istri dan suaminya. Keren nih In Very Happy
Kembali Ke Atas Go down
http://mimondo.tumblr.com
iin yakub
Penulis Muda
Penulis Muda
avatar

Jumlah posting : 178
Points : 199
Reputation : 3
Join date : 30.08.12
Age : 34
Lokasi : PALEMBANG

PostSubyek: Re: RINDU UNTUK ADINDA   Sun 16 Sep 2012 - 19:28

m0nd0 wrote:
Aku suka gaya bahasanya. Terus dilema perasaannya juga dapet penjiwaannya, kebayang gitu gimana perasaan sang istri dan suaminya. Keren nih In Very Happy



Thanks Mas Mondo... narsis

Kembali Ke Atas Go down
http://angan-kirana.blogspot.com
Sponsored content




PostSubyek: Re: RINDU UNTUK ADINDA   

Kembali Ke Atas Go down
 
RINDU UNTUK ADINDA
Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1
 Similar topics
-
» Ban untuk harian bagusnya apa ya...?
» bantuin ane dong
» (Tanya)modifikasi arm untuk ninja250
» WTA about Pilot Jet n Main Jet [nubie]
» Knalpot Two Brothers racing

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
SINDIKAT PENULIS :: Arena Diskusi :: Cerpen-
Navigasi: