SINDIKAT PENULIS
Silakan login dahulu, biar lebih asyik.
Kalau belum bisa login, silakan daftar dahulu.
Setelah itu, selamat bersenang-senang...


Kami adalah penulis, dan kami tidak butuh persetujuan dari siapa pun!
 
IndeksCalendarFAQPencarianPendaftaranLogin
"Jika ada buku yang benar-benar ingin kamu baca, tapi buku tersebut belum ditulis, maka kamu yang harus menuliskannya." ~ Toni Morrison

Share | 
 

 Aku dan Suamiku

Go down 
Pilih halaman : 1, 2  Next
PengirimMessage
wilfran
Penulis Pemula
Penulis Pemula
avatar

Jumlah posting : 56
Points : 76
Reputation : 0
Join date : 02.10.12
Age : 28
Lokasi : Yogyakarta

PostSubyek: Aku dan Suamiku   Sun 7 Oct 2012 - 5:02

Waktu sudah menunjukkan pukul lima sore. Satu jam lagi suamiku akan pulang dari kantor tempat ia bekerja. Aku sudah tidak sabar lagi. Kali ini aku pasti akan berhasil membuatnya mengakui kemampuanku dalam memasak. Lihat saja, masakanku akan memaksanya menghujaniku dengan kalimat-kalimat pujian, dan semoga dibarengi kecupan lembut sebagai bonusnya.

Empat puluh lima menit berlalu, aku masih setia menunggu. Rumah sudah kubersihkan, bahkan hingga beberapa kali saking tidak sabarnya menunggu. Hidangan sudah kusiapkan, lengkap dengan lilin, lagu-lagu terbaik dari Kenny G, serta aroma romantis yang menyelimuti seisi ruang makan. Aku semakin tidak sabar lagi. Malam ini pasti akan menjadi malam terindah bagiku dan suamiku, seperti halnya malam pertama kami sebulan yang lalu.

Tepat jam tujuh malam. Agaknya suamiku terlambat pulang ke rumah. Dan harus kukatakan bahwa ini adalah kejadian pertama di mana ia terlambat pulang tanpa memberi kabar sama sekali. Aku merasa agak khawatir. Biasanya ia tidak pernah terlambat lebih dari setengah jam. Kekhawatiranku pun mulai mengendalikan khayalanku. Apalagi belakangan ini sering terjadi kasus kriminal di kawasan pemukiman tempat kami tinggal. Jangan-jangan terjadi apa-apa pada Papa. Yang benar saja? Kami masih pengantin baru! Aku langsung membuang jauh-jauh pikiran negatif itu dan mencoba menjernihkan pikiran.

Waktu terus berlalu. Tak ada yang berubah. Kekhawatiranku semakin menjadi-jadi. Alunan saxophone yang diperdengarkan Kenny G pun sudah tidak mempan lagi untuk menenangkanku. Aku tidak mungkin tinggal diam. Aku harus berbuat sesuatu. Akhirnya aku meraih ponselku dan langsung menghubungi Papa. Awalnya aku tidak mau melakukannya, karena aku yakin Papa baik-baik saja. Dan aku tidak ingin perasaan rinduku padanya dihapus oleh suaranya yang kudengar dari ponsel. Jika ada yang dapat menghapus rasa rinduku, maka itu haruslah kehadirannya di depan pintu rumah kami. Tetapi aku sudah tidak mungkin lagi menunggu. Aku pun menghubunginya.

“Nomor yang Anda tuju, sedang…,” belum selesai wanita itu berbicara, aku langsung memotongnya. Aku mencoba menghubungi Papa lagi. Namun apa daya, wanita itu tidak pernah bosan menjawab panggilanku.

Aku tidak menyerah. Kali ini aku mencoba menghubungi rekan kerja Papa di kantor yang sama. Hanya Sylvan satu-satunya harapanku. Jika ia pun tidak mengangkatnya, maka aku tidak tahu lagi harus berbuat apa.

“Van! Sylvan! Ini gua, Vionna,” aku langsung menyambar begitu mantan adik kelasku semasa SMA itu menjawab panggilanku.

“Iya, gua tau. Gua punya nomor lu kok. Kenapa, Vi?” jawab Sylvan dengan nada suara yang aneh.

“Van, jangan-jangan lu lagi mabok ya? Ah, lu tau suami gua di mana?” tanyaku tergesa-gesa.

“Si Steffan? Ah, katanya sih, dia masih di kantor. Iya, iya, tadi dia bilang ke gua begitu. lu nggak usah khawatir. Dia lagi ada meeting mendadak. Lu nggak usah ngeganggu dia.”

Meeting? Kok dia nggak ngabarin gua?”

“Dia nggak sempet. Soalnya dia sibuk banget. Ya udah ya, gua juga lagi sibuk nih. Byeee,” setelah mengucapkan itu, Sylvan pun memutus sambungannya.

Rasa khawatirku mulai hilang diganti perasaan curiga. Meeting? Apa susahnya memberitahuku. Jangan-jangan sekarang Papa sedang mabuk-mabukkan di tempat yang tidak-tidak. Ia pasti bersekongkol dengan Sylvan untuk membohongiku. Ya, pasti begitu. Jelas-jelas tadi Sylvan sedang mabuk.

Aku kembali mencoba menghubungi ponsel Papa. Namun suara yang kudengar tidak pernah berubah sejak pertama kali aku mencoba menghubunginya. Saat aku hendak menghubunginya untuk yang kesekian-puluh-kalinya, ponselku berdering pertanda ada SMS yang masuk.

Jgn ganggu dlu.. papa lg sibuk

Habis sudah kesabaranku. Ia benar-benar mengecewakanku. Di saat aku bersusah payah di rumah menyiapkan segala yang terbaik baginya, ia malah bersenang-senang dengan orang-orang yang tidak jelas. Emosiku memuncak. Kini, aku sudah tidak sabar lagi memulai pertengkaran pertama kami sebagai sepasang suami istri.

Setengah jam lagi kedua jarum jam di seluruh Jakarta dan wilayah lain dengan waktu yang sama akan saling tumpang tindih menunjuk angka dua belas. Papa masih belum juga memperlihatkan batang hidungnya. Aku sudah berhenti menghubunginya sejak ia mengirimkan pesan omong kosong itu. Aku sudah tidak peduli lagi. Akan kumarahi suamiku habis-habisan.

tok tok tok

Akhirnya bunyi yang sudah kutunggu-tunggu selama sehari penuh itu terdengar juga. Aku langsung membuka pintu depan rumah. Dan benar saja, suamiku berdiri di sana lengkap dengan pakaiannya yang berantakan.

“Ngapain Papa pulang? Kenapa nggak sekalian aja nginep di sana sama si bocah kurang ajar itu?” aku menyambutnya dengan nada suara yang baru kali ini kuperdengarkan kepadanya.

“Ngg, Ma. Maaf ya, Papa pulang terlambat dan nggak sempet ngasih kabar.”

“Cuma itu? Mama kira Papa udah nyiapin alasan yang lebih hebat lagi. Udah pasrah ya? Atau nggak sanggup mikirin alasan yang lebih bagus gara-gara mabok semalaman?” semprotku kepadanya.

“Ngg, Mama.”

“Hah! Mama, Mama, Mama. Sana balik ke tempat pelacur yang kamu tidurin tadi!” bentakku yang seketika itu juga langsung ingin menarik kembali ucapanku.

Papa hanya bisa membisu. Ia tampak sangat menyesal dari raut wajahnya yang memelas. Ia tidak mengucapkan sepatah kata pun. Ia hanya berjalan masuk ke rumah dan melepaskan sepatu serta jasnya tanpa sedikit pun menoleh ke arahku. Aku merasa agak kasihan. Aku menyesal sudah memarahinya, bahkan sampai mengucapkan kata-kata yang tidak semestinya kuucapkan. Aku harus meminta maaf. Aku memang tidak merasa berada dalam posisi yang perlu untuk meminta maaf. Bahkan seharusnya akulah yang mendengarkan pernyataan maaf dari Papa. Tetapi aku harus mengalah demi kelangsungan kebersamaan hidup kami. Aku pun memberanikan diri menghampirinya untuk meminta maaf.

“Pa, ma…,” belum selesai aku bicara, Papa langsung memotong pembicaraanku.

“Ma, maafin Papa ya. Papa udah menyakiti hati Mama. Papa terima kok semua keluh kesah Mama. Tapi tolong, maafin Papa,” ucap suamiku dengan wajah polos yang dihiasi oleh senyum terikhlas yang pernah kulihat pada wajahnya.

Aku langsung terhentak. Saat itu juga aku langsung merasa bersalah. Papa memang telah berbuat salah. Tetapi itu hal yang wajar. Bukankan dalam setiap kehidupan pernikahan pasti diwarnai permasalahan? Yang terutama bukanlah membela diri dan saling menyalahkan, tetapi bagaimana agar dapat saling memahami dan memaafkan demi kepentingan bersama.

Aku langsung berjalan menuju kamar tidur. Aku hendak tidur lebih dulu. Ini adalah pertama kalinya aku melakukan ini sejak kami menikah. Aku hanya ingin merenung dalam kegelapan. Aku ingin tidur secepat mungkin, dengan harapan setelah bangun nanti aku sudah tidak emosi lagi. Aku ingin memperbaiki jalinan hubungan kami. Dan aku tak akan bisa melakukannya selama pikiranku masih uring-uringan begini.

Sekarang waktu telah menunjukkan pukul enam pagi. Aku terbangun dari tidurku dengan suasana hati yang tenang dan damai. Ya, aku yakin aku dapat memperbaiki hubungan kami di pagi hari yang indah ini.

“Pagi, Ma. Papa udah siapin sarapan tuh,” sapa Papa yang tampak sudah segar di saat penampilanku masih berantakan di tempat tidur.

“Pa, Mama mau ngomong sama Papa,” aku harus meminta maaf kepadanya sekarang juga di saat suasana hatiku sedang bagus-bagusnya.

“Mama mau minta maaf sama Papa. Mama udah ngomong keterlaluan semalam. Maafin Mama ya,” entah mengapa, perasaanku terasa sangat damai ketika aku mengucapkan kalimat itu dari lubuk hatiku yang terdalam.

“Iya, Papa juga minta maaf,” sambut Papa dengan raut wajah yang sangat lembut.

Aku merasa sangat bahagia. Semua permasalahan ini memang berasal dari Papa. Tetapi aku senang dapat meminta maaf kepadanya. Ya, inilah yang terbaik. Aku tidak boleh memaksakan egoku. Aku harus rela dan berani mengalah demi masa depan kami. Tak disangka, pertengkaran pertama kami dalam pernikahan ini malah memberi pelajaran dan pengalaman yang berharga bagi kami. Aku langsung beranjak dari tempat tidurku dan seketika itu juga menghampiri dan memeluk suamiku seerat-eratnya.

“Jadi Mama udah maafin Papa nih?” tanya Papa setelah aku melepaskan pelukanku.

“Udah, Mama udah maafin Papa. Yang penting, Papa jangan berbuak kayak begitu lagi ya,” ucapku sambil tersenyum.

“Berarti, sekarang Papa udah bisa ngenjelasin yang sesungguhnya,” ucap Papa.

Ucapan Papa sedikit menghentakku. Aku tidak tahu apa maksudnya. Yang kurasakan hanyalah firasat bahwa ia sedang ingin merusak suasana yang sedang bagus-bagusnya itu.

“Papa ngomong apa sih? Mama udah maafin semuanya kok. Papa nggak usah ngungkit-ngungkit masalah itu lagi.”

“Ma, sebenarnya…,” ucapan Papa terhenti. Ia tampak bingung memilih kata-kata. Awalnya aku ingin menghentikannya. Tetapi akhirnya aku memilih untuk diam dan membiarkannya melakukan apa yang ia mau.

“Sebenarnya semalam Papa pulang terlambat karena ada meeting mendadak di kantor. Papa sama sekali nggak sempet ngasih kabar ke Mama karena Papa sibuk banget semalaman.”

Aku menghela napas. Kupikir ia ingin mengucapkan sesuatu yang menyebalkan. Ternyata suamiku ini masih juga mencari-cari alasan. Tidakkan ia sadar bahwa aku sudah memaafkannya sepenuh hati?

“Pa, Papa nggak usah ngomongin itu lagi. Mama ngerti kok. Mama juga udah bilang kalau Mama udah maafin Papa kan? Ngapain Papa masih juga cari-cari alasan,” aku mulai merasa sedikit kesal.

“Papa nggak cari-cari alasan. Papa ngomong yang sesungguhnya.”

“Pa, udah deh. Nanti Mama malah…,” aku mulai kehilangan kesabaran.

“Papa semalam ada meeting mendadak di kantor. Papa sama sekali nggak sempet ngasih kabar ke Mama karena Papa sibuk banget semalaman. Itulah yang sebenarnya terjadi. Papa bersumpah demi cincin yang kita pakai dan demi anak yang sekarang ada di dalam kandungan Mama,” ucap Papa dengan ketegasan yang tidak pernah kulihat darinya sebelumnya.

Aku langsung terkejut mendengarnya. Ia sama sekali tidak terlihat seperti orang yang sedang membual. Sedikit demi sedikit aku mulai mempercayainya. Akhirnya aku pun membentaknya.

“Jadi Papa benar-benar meeting? Jadi Sylvan benar-benar mengucapkan yang sesungguhnya?” tanyaku dengan suara lantang.

“Apa Papa perlu mengucapkan janji sumpah lagi?” tanya Papa.

“Ya ampun. Kalau begitu kenapa nggak dari kemarin aja bilang yang sesungguhnya? Kalau Papa langsung bilang, Mama nggak perlu marahin Papa kan?” aku menyesali perbuatan suamiku.

“Oh ya? Yakin Mama akan langsung percaya begitu aja kalau kemarin Papa ceritakan yang sesungguhnya?”

“Ya iya lah. Kan…,” ucapanku terhenti ketika terbayang kembali akan perasaanku semalam.

Papa tampak diam sejenak. Sepertinya ia ingin memberiku kesempatan untuk berpikir. Ya, memikirkan akan jadi separah apa keributan yang terjadi jika saja kemarin Papa mengucapkan alasan yang bagiku akan terdengar sebagai bualan penuh omong kosong belaka. Kebisuan itu berlangsung belasan detik lamanya. Akhirnya Papa pun memecah keheningan.

“Kalau kemarin Papa ngomong yang sesungguhnya, Papa yakin Mama nggak akan percaya. Mama pasti akan menganggap bahwa Papa sedang mencari-cari alasan. Iya kan? Buktinya kemarin Mama bilang bahwa Mama udah siap dengan segala bentuk alasan dari Papa. Lalu apa Mama pikir akan ada gunanya kalau kemarin Papa jelasin yang sesungguhnya ke Mama?”

Aku tidak bergerak sedikit pun mendengarkan pengakuan dari Papa. Hanya raut wajahku yang bereaksi terhadap ucapan Papa. Papa pun melanjutkan ceritanya.

“Sebenarnya kemarin Papa bisa aja bersikeras membela diri. Toh Papa nggak bersalah. Tapi yang akan terjadi jika Papa melakukan itu adalah, Mama semakin memarahi Papa dan semakin tidak percaya pada Papa. Papa pun akan melakukan hal yang serupa. Papa akan semakin bersikeras membela diri karena merasa tidak bersalah. Jika terus begitu, bisa-bisa terjadi hal yang tidak diinginkan. Karena itulah Papa tidak melakukan itu. Papa memilih untuk mengalah dan menerima perlakuan yang tidak seharusnya Papa terima, demi kehidupan rumah tangga kita. Papa yakin Mama akan memaafkan Papa jika Papa meminta maaf dengan tulus. Lalu ketika Mama sudah tidak emosi lagi, maka saat itulah Papa bisa menjelaskan kejadian yang sesungguhnya. Ketika hati Mama sudah tenang, saat itulah Mama baru bisa menerima penjelasan yang sesungguhnya dari Papa.”

Aku terdiam mendengar ucapan Papa. Secara tidak langsung ucapan Papa memang mempersalahkanku. Tetapi aku merasakan kedamaian yang sangat luar biasa setiap kali Papa melontarkan pengakuannya kata demi kata. Aku yang belajar sendiri untuk memaknai arti pertengkaran kami, malah diajarkan untuk menyikapi hidup ini dengan lebih bijaksana oleh suamiku. Ia mengajarkanku bahwa membela apa yang benar tidak selamanya merupakan hal yang baik. Ada kalanya kita harus berpikir jauh ke depan demi yang terbaik bagi masa depan, sekalipun untuk itu kita harus mengalah dan mendapatkan perlakuan yang tidak seharusnya kita terima. Lagi-lagi, untuk yang kesekiankalinya aku bersyukur karena telah menjadikan Steffan sebagai suamiku. Bagiku, ia adalah suami terbaik di dunia. Aku pun memeluknya lagi. Tidak seerat sebelumnya, tetapi jauh lebih lembut. Dan kali ini aku memberinya sedikit bonus berupa kecupan lembut.
Kembali Ke Atas Go down
Blassreiter
Penulis Senior
Penulis Senior
avatar

Jumlah posting : 537
Points : 591
Reputation : 8
Join date : 27.07.12
Age : 27

PostSubyek: Re: Aku dan Suamiku   Mon 8 Oct 2012 - 22:22

Ente punya suami?

-------------
Ninggalin jejak dulu, belum sempet baca




Jangan dianggap serius, cuma becanda kakak. Cuma tiba2 terlintas di pikiran
Kembali Ke Atas Go down
wilfran
Penulis Pemula
Penulis Pemula
avatar

Jumlah posting : 56
Points : 76
Reputation : 0
Join date : 02.10.12
Age : 28
Lokasi : Yogyakarta

PostSubyek: Re: Aku dan Suamiku   Tue 9 Oct 2012 - 0:20

Blassreiter wrote:
Ente punya suami?

-------------
Ninggalin jejak dulu, belum sempet baca




Jangan dianggap serius, cuma becanda kakak. Cuma tiba2 terlintas di pikiran

sayangnya, belum dan nggak akan pernah punya. Smile
ayo, silakan dibaca.. ditunggu pendapat, kritik, dan sarannya.
Kembali Ke Atas Go down
vera astanti
Penulis Senior
Penulis Senior
avatar

Jumlah posting : 1658
Points : 1715
Reputation : 3
Join date : 14.05.12
Age : 26
Lokasi : Bojonegoro

PostSubyek: Re: Aku dan Suamiku   Tue 9 Oct 2012 - 14:37

Blassreiter wrote:
Ente punya suami?

-------------

ngakak ngakak ngakak

Blass emang jagonya penggosip deh..
jempol

@wilfran
cerpennya bagus, kekhawatiran istri. tapi berlebihan aaaah....
mungkin bisa dijelaskan kenapa dia seperti itu...
atau bisa dilibatkan yang lebih extrem.
si suami beneran selingkuh, dan si istri membuntuti sampai kantor gitu, begimane ye???
dendam

_________________
Catatan Pembolang Baru
Kembali Ke Atas Go down
Blassreiter
Penulis Senior
Penulis Senior
avatar

Jumlah posting : 537
Points : 591
Reputation : 8
Join date : 27.07.12
Age : 27

PostSubyek: Re: Aku dan Suamiku   Tue 9 Oct 2012 - 16:43

vera astanti wrote:
Blassreiter wrote:
Ente punya suami?

-------------

ngakak ngakak ngakak

Blass emang jagonya penggosip deh..
jempol

@wilfran
cerpennya bagus, kekhawatiran istri. tapi berlebihan aaaah....
mungkin bisa dijelaskan kenapa dia seperti itu...
atau bisa dilibatkan yang lebih extrem.
si suami beneran selingkuh, dan si istri membuntuti sampai kantor gitu, begimane ye???
dendam
Terus suaminya digorok pukau
Kembali Ke Atas Go down
vera astanti
Penulis Senior
Penulis Senior
avatar

Jumlah posting : 1658
Points : 1715
Reputation : 3
Join date : 14.05.12
Age : 26
Lokasi : Bojonegoro

PostSubyek: Re: Aku dan Suamiku   Wed 10 Oct 2012 - 11:22

sudah ahlinya Blass membuat cerita begitu....
Dan darahnya membasahi semua lantai, tercium amis di mana-mana, sang istri seolah belom puas dengan itu semuanya. diburulah selingkuhannya.

ngupil

_________________
Catatan Pembolang Baru
Kembali Ke Atas Go down
Blassreiter
Penulis Senior
Penulis Senior
avatar

Jumlah posting : 537
Points : 591
Reputation : 8
Join date : 27.07.12
Age : 27

PostSubyek: Re: Aku dan Suamiku   Wed 10 Oct 2012 - 13:38

emang pernah ya aku bikin cerita kek gitu trus dipost di sini? geli
Kembali Ke Atas Go down
vera astanti
Penulis Senior
Penulis Senior
avatar

Jumlah posting : 1658
Points : 1715
Reputation : 3
Join date : 14.05.12
Age : 26
Lokasi : Bojonegoro

PostSubyek: Re: Aku dan Suamiku   Wed 10 Oct 2012 - 13:44

beluuum, tapi kamu pasti membelokkannya menjadi seperti itu...
teliti

_________________
Catatan Pembolang Baru
Kembali Ke Atas Go down
iin yakub
Penulis Muda
Penulis Muda
avatar

Jumlah posting : 178
Points : 199
Reputation : 3
Join date : 30.08.12
Age : 34
Lokasi : PALEMBANG

PostSubyek: Re: Aku dan Suamiku   Wed 10 Oct 2012 - 19:41

@ Blas >>> iya keren tuh idenya Vera...
lebih dramatis dan horor joget


@Wilfran
(1) konsistensi dalam penyebutan tokoh
>>>>kamu dah pake sudut pandang (SP) O1, ... kalo si aku lagi bernarasi... untuk menyebut orang kedua, selalu gunakan kata suami.... di cerita kamu, tidak konsisten,, kadang suami, kadang papa.... nah, saat dalam dialog baru gunakan kata papa ...

(2) Konflik : gak seru
pertengkaran karena suami nggak pulang dg alasan meeting tuh dah biasa, nah, biar jadi luar biasa 'bumbunya' harus sedap. Misal, dia emang meeting,tapi nggak lama. nah, pas pulang dia nabrak orang. orang itu adalah mantan istrinya. si istri tetep aja marah coz suaminya dianggap bohong, dan dia cari tempat curhat dan itu adalah si mantan pacar. Nah.. mantan pacar ini terserah kamu deh mo dijadiin apa .. tokoh tetragonis atau tokoh antagonis pelengkap bumbu

(3) endingnya nggak logis..
masa' dialog saat bertengkar dg bermaafan mengangkat topik yg sama. maksudnya gini, semalem kan dia dah ngomongin kalimat itu tapi istrinya gak percaya...

trus paginya kalimat itu diulang lagi, dan istrinya percaya...
harus ada benang merah apa yg bisa membuat istrinya percaya, misal si istri mengintip suaminya yang tertidur di tumpukan berkas-berkas yang masih harus diselesaikannya, trus si istri jg diam-diam baca sms di ponsel suaminya yg ternyata ada temannya mengingatkan ttg pekerjaan yg masih harus dikerjakannya
tanpa dialog, situasi ini jg bisa menjadi dramatis bwt meredam kemaran dan dijadikan alasan untuk ending...

salam... Smile
Kembali Ke Atas Go down
http://angan-kirana.blogspot.com
Blassreiter
Penulis Senior
Penulis Senior
avatar

Jumlah posting : 537
Points : 591
Reputation : 8
Join date : 27.07.12
Age : 27

PostSubyek: Re: Aku dan Suamiku   Wed 10 Oct 2012 - 20:08

@Kak Iin
Memang hebat kalau pakarnya langsung yang memebri saran dan kritik, saya juga bisa mengambil ilmunya Top
Kembali Ke Atas Go down
iin yakub
Penulis Muda
Penulis Muda
avatar

Jumlah posting : 178
Points : 199
Reputation : 3
Join date : 30.08.12
Age : 34
Lokasi : PALEMBANG

PostSubyek: Re: Aku dan Suamiku   Wed 10 Oct 2012 - 20:56

Blassreiter wrote:
@Kak Iin
Memang hebat kalau pakarnya langsung yang memebri saran dan kritik, saya juga bisa mengambil ilmunya Top



apaan sih... biasa aja x...
iin kan cuma asal bicara aja tuh... xixxiii
Kembali Ke Atas Go down
http://angan-kirana.blogspot.com
wilfran
Penulis Pemula
Penulis Pemula
avatar

Jumlah posting : 56
Points : 76
Reputation : 0
Join date : 02.10.12
Age : 28
Lokasi : Yogyakarta

PostSubyek: Re: Aku dan Suamiku   Wed 10 Oct 2012 - 21:52

iin yakub wrote:
@ Blas >>> iya keren tuh idenya Vera...
lebih dramatis dan horor joget


@Wilfran
(1) konsistensi dalam penyebutan tokoh
>>>>kamu dah pake sudut pandang (SP) O1, ... kalo si aku lagi bernarasi... untuk menyebut orang kedua, selalu gunakan kata suami.... di cerita kamu, tidak konsisten,, kadang suami, kadang papa.... nah, saat dalam dialog baru gunakan kata papa ...

(2) Konflik : gak seru
pertengkaran karena suami nggak pulang dg alasan meeting tuh dah biasa, nah, biar jadi luar biasa 'bumbunya' harus sedap. Misal, dia emang meeting,tapi nggak lama. nah, pas pulang dia nabrak orang. orang itu adalah mantan istrinya. si istri tetep aja marah coz suaminya dianggap bohong, dan dia cari tempat curhat dan itu adalah si mantan pacar. Nah.. mantan pacar ini terserah kamu deh mo dijadiin apa .. tokoh tetragonis atau tokoh antagonis pelengkap bumbu

(3) endingnya nggak logis..
masa' dialog saat bertengkar dg bermaafan mengangkat topik yg sama. maksudnya gini, semalem kan dia dah ngomongin kalimat itu tapi istrinya gak percaya...

trus paginya kalimat itu diulang lagi, dan istrinya percaya...
harus ada benang merah apa yg bisa membuat istrinya percaya, misal si istri mengintip suaminya yang tertidur di tumpukan berkas-berkas yang masih harus diselesaikannya, trus si istri jg diam-diam baca sms di ponsel suaminya yg ternyata ada temannya mengingatkan ttg pekerjaan yg masih harus dikerjakannya
tanpa dialog, situasi ini jg bisa menjadi dramatis bwt meredam kemaran dan dijadikan alasan untuk ending...

salam... Smile

saya tanggapi ya kakak Smile
(1) Saya konsisten kok. Dalam narasi, si istri selalu menyebut suaminya sebagai orang ketiga; bukan orang kedua, sebab orang kedua adalah si pembaca yang diibaratkan sebagai orang yang sedang mendengarkan celotehan si istri. Dalam narasi, si istri selalu menyebut suaminya sebagai "suamiku", "Papa", dan "ia". Semuanya adalah kata ganti orang ketiga. Kata "Papa" selain dapat digunakan sebagai orang kedua, dapat juga digunakan sebagai orang ketiga. Misalnya ketika Anda sedang ngobrol dengan orang lain mengenai suami Anda, tentunya Anda dapat menyebut suami Anda sebagai Papa di hadapan orang lain tersebut.

(2) Konfliknya memang nggak seru Smile . Cerpen ini tidak menekankan kepada storyline yang mendalam, tetapi lebih kepada pesan moral yang ingin disampaikan. Kalau cerpen dengan storyline yang mendalam, saya rasa sudah sangat banyak di forum ini. Jadi saya mencoba memposting sesuatu yang beda.

(3) This is the point: "Semalam si suami sama sekali tidak ngomongin kalimat itu kepada istrinya". Jadi keliru jika dikatakan bahwa paginya ia "mengulang" kalimat yang sama. Kan udah dijelasin di ceritanya bahwa si suami sengaja untuk tidak mengucapkan alasan tersebut di malam harinya karena ia ingin menyampaikannya di pagi harinya.
Kembali Ke Atas Go down
iin yakub
Penulis Muda
Penulis Muda
avatar

Jumlah posting : 178
Points : 199
Reputation : 3
Join date : 30.08.12
Age : 34
Lokasi : PALEMBANG

PostSubyek: Re: Aku dan Suamiku   Wed 10 Oct 2012 - 21:56

GLEK!!!

kabuuuuuuuurrrrrrr kabur
Kembali Ke Atas Go down
http://angan-kirana.blogspot.com
Blassreiter
Penulis Senior
Penulis Senior
avatar

Jumlah posting : 537
Points : 591
Reputation : 8
Join date : 27.07.12
Age : 27

PostSubyek: Re: Aku dan Suamiku   Wed 10 Oct 2012 - 22:47

iin yakub wrote:
GLEK!!!

kabuuuuuuuurrrrrrr kabur
ikutan
Kembali Ke Atas Go down
iin yakub
Penulis Muda
Penulis Muda
avatar

Jumlah posting : 178
Points : 199
Reputation : 3
Join date : 30.08.12
Age : 34
Lokasi : PALEMBANG

PostSubyek: Re: Aku dan Suamiku   Wed 10 Oct 2012 - 22:50

Blassreiter wrote:
iin yakub wrote:
GLEK!!!

kabuuuuuuuurrrrrrr kabur
ikutan

hayo Blas kabur bareng....
ke Raja ampat yak!
sekalian kita diving trus minum air laut sampe kembung
---eh, itu diving atau tenggelam yak!!!----
lol!
Kembali Ke Atas Go down
http://angan-kirana.blogspot.com
vera astanti
Penulis Senior
Penulis Senior
avatar

Jumlah posting : 1658
Points : 1715
Reputation : 3
Join date : 14.05.12
Age : 26
Lokasi : Bojonegoro

PostSubyek: Re: Aku dan Suamiku   Thu 11 Oct 2012 - 10:05

ngopi

ngeliatin mba iin sama blass yang main kejar-kejaran

_________________
Catatan Pembolang Baru
Kembali Ke Atas Go down
iin yakub
Penulis Muda
Penulis Muda
avatar

Jumlah posting : 178
Points : 199
Reputation : 3
Join date : 30.08.12
Age : 34
Lokasi : PALEMBANG

PostSubyek: Re: Aku dan Suamiku   Thu 11 Oct 2012 - 11:18

vera astanti wrote:
ngopi

ngeliatin mba iin sama blass yang main kejar-kejaran



Jangan cuma ngeliatin Ve... hayoo ikutan... kabur
lumayan lho... bikin badan sehat...
habis ni kami mo nyebur ke laut, diving,...
nggak tau tuh si Blass bisa berenang gak... kalo nggak, kan lumayan kalo ada kamu Ve...
bisa nolongin dia kalo ntar ketemu hiu
ngupil
Kembali Ke Atas Go down
http://angan-kirana.blogspot.com
vera astanti
Penulis Senior
Penulis Senior
avatar

Jumlah posting : 1658
Points : 1715
Reputation : 3
Join date : 14.05.12
Age : 26
Lokasi : Bojonegoro

PostSubyek: Re: Aku dan Suamiku   Thu 11 Oct 2012 - 11:55

eh, blass kan memang diperuntukkan untuk memancing hiu..
jadi aku bisa ambil, dan menjual hiunya...
mimisan

_________________
Catatan Pembolang Baru
Kembali Ke Atas Go down
Blassreiter
Penulis Senior
Penulis Senior
avatar

Jumlah posting : 537
Points : 591
Reputation : 8
Join date : 27.07.12
Age : 27

PostSubyek: Re: Aku dan Suamiku   Thu 11 Oct 2012 - 12:16

iin yakub wrote:
vera astanti wrote:
ngopi

ngeliatin mba iin sama blass yang main kejar-kejaran



Jangan cuma ngeliatin Ve... hayoo ikutan... kabur
lumayan lho... bikin badan sehat...
habis ni kami mo nyebur ke laut, diving,...
nggak tau tuh si Blass bisa berenang gak... kalo nggak, kan lumayan kalo ada kamu Ve...
bisa nolongin dia kalo ntar ketemu hiu
ngupil
Berenang?
Jangan tanya....



ngambang aja nggak bisa
Kembali Ke Atas Go down
iin yakub
Penulis Muda
Penulis Muda
avatar

Jumlah posting : 178
Points : 199
Reputation : 3
Join date : 30.08.12
Age : 34
Lokasi : PALEMBANG

PostSubyek: Re: Aku dan Suamiku   Thu 11 Oct 2012 - 14:33

@Blass
hahhaaahhaaa.....

hayyo sini, ntar iin ajarin berenang....
hahhhaahh
Kembali Ke Atas Go down
http://angan-kirana.blogspot.com
Blassreiter
Penulis Senior
Penulis Senior
avatar

Jumlah posting : 537
Points : 591
Reputation : 8
Join date : 27.07.12
Age : 27

PostSubyek: Re: Aku dan Suamiku   Thu 11 Oct 2012 - 14:35

Jauhnyoooo..... dead
Kembali Ke Atas Go down
iin yakub
Penulis Muda
Penulis Muda
avatar

Jumlah posting : 178
Points : 199
Reputation : 3
Join date : 30.08.12
Age : 34
Lokasi : PALEMBANG

PostSubyek: Re: Aku dan Suamiku   Thu 11 Oct 2012 - 15:33

kalo belajar berenangnya di palembang,

habis berenang makan empek-empek..
xixiixixi

sadaaaaaaaaapppp... Very Happy
Kembali Ke Atas Go down
http://angan-kirana.blogspot.com
Auryn
Penulis Muda
Penulis Muda


Jumlah posting : 186
Points : 205
Reputation : 1
Join date : 17.05.12

PostSubyek: Re: Aku dan Suamiku   Thu 11 Oct 2012 - 21:33

Kak iin mauu empek2nya
Kak iin komenin cerpenku jg kak kasih kritik butuh masukan
Kembali Ke Atas Go down
m0nd0
Penulis Senior
Penulis Senior
avatar

Jumlah posting : 1446
Points : 1487
Reputation : 17
Join date : 11.07.12
Age : 29
Lokasi : Jakarta-Bandung

PostSubyek: Re: Aku dan Suamiku   Wed 24 Oct 2012 - 6:02

Blass kalo mau bisa ngapung ya lepas dulu armor baja-mu itu....
Kembali Ke Atas Go down
http://mimondo.tumblr.com
m0nd0
Penulis Senior
Penulis Senior
avatar

Jumlah posting : 1446
Points : 1487
Reputation : 17
Join date : 11.07.12
Age : 29
Lokasi : Jakarta-Bandung

PostSubyek: Re: Aku dan Suamiku   Wed 24 Oct 2012 - 6:19

Eh iya Will, aku udah baca semua cerpenmu yang di post di sini Very Happy .
Dan aku senang melihat ada dialog disini. Jadi ingat, aku dulu parah banget, bikin dialog ga bisa dan gak pernah terdengar (terbaca Razz) natural. Akhirnya aku latihan dengan bikin cerpen yang 80% isinya berupa dialog. Kukira menulis sama dengan bidang-bidang kecakapan lainnya yang harus berlatih dan berlatih agar semakin terasah, dari soal ide, tata bahasa, konten, cara menyampaikan, sampai gaya penulisan. Khusus gaya penulisan meskipun dari awal kita merasakan sudah menemukan gaya tersendiri, bukan berarti kita menutup diri dan tidak perlu mengembangkan segi lain. Ambil contoh pelukis dengan gaya abstrak, bukan berarti dia memilih gaya itu karena tidak bisa menggambar natural, namun lebih baik karena 'panggilan jiwanya' yang cocok dengan gaya abstrak. Very Happy

Mari kita berlatih dan mengembangkan diri bersama-sama.
Kembali Ke Atas Go down
http://mimondo.tumblr.com
Sponsored content




PostSubyek: Re: Aku dan Suamiku   

Kembali Ke Atas Go down
 
Aku dan Suamiku
Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 2Pilih halaman : 1, 2  Next

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
SINDIKAT PENULIS :: Arena Diskusi :: Cerpen-
Navigasi: