SINDIKAT PENULIS
Silakan login dahulu, biar lebih asyik.
Kalau belum bisa login, silakan daftar dahulu.
Setelah itu, selamat bersenang-senang...


Kami adalah penulis, dan kami tidak butuh persetujuan dari siapa pun!
 
IndeksCalendarFAQPencarianPendaftaranLogin
"Jika ada buku yang benar-benar ingin kamu baca, tapi buku tersebut belum ditulis, maka kamu yang harus menuliskannya." ~ Toni Morrison

Share | 
 

 Polesan Make Up

Go down 
PengirimMessage
jeditamon
Pendatang Baru
Pendatang Baru
avatar

Jumlah posting : 11
Points : 13
Reputation : 0
Join date : 22.11.12
Age : 30
Lokasi : Universitas Indonesia

PostSubyek: Polesan Make Up   Thu 22 Nov 2012 - 16:05

POLESAN MAKE UP
Di kamar tidurnya yang sebesar lapangan bulu tangkis, Syabillah atau Sibil biasa ia dipanggil, duduk di depan meja riasnya yang terbuat dari ukiran kayu jati. Cermin besar yang datar dan mulus sempurna memantulkan rupa dan perawakannya yang cantik. Polesan make up modern dari negeri lain sukses menyembunyikan goresan-goresan di kulit wajahnya. Goresan penuaan yang selalu membuatnya tidak percaya diri saat dia sedang bersosialisi dengan orang-orang. Sibil sudah lama sekali memainkan perannya sebagai wanita yang berpengaruh. Dia adalah seorang Lolita di masa remaja, Queen Bee di universitasnya, femme fatale di awal karirnya, dan bisa menjadi Nyonya Besar di masa sekarang. Dia adalah pewaris tunggal kerajaan mantan suaminya yang meninggal karena serangan jantung di malam pertama pernikahan mereka. Suaminya meninggal dengan mata melotot di atas tempat tidur yang sekarang berada di dalam kamar tersebut. Menurut hasil fisum, persenggamaan disinyalir memacu kerja jantung Tuan Besar yang sudah masuk masa pensiun, dan akhirnya memecahkan pembuluh darahnya.

Banyak pria yakin Sibil masih suci dan mereka berebut untuk bisa menjadi yang pertama menodainya, namun Sibil menolak. Bagaikan sebuah takdir, Sibil memang bag bidadari dongeng merantau ke dunia fana untuk menjadi godaan para lelaki normal. Kulitnya seputih porselein, suaranya manja dan mendesah-desah kalau berbicara, rambutnya panjang bergelombang lembut bag sutra China, dan tubuhnya yang tidak terlalu tinggi namun berisi merupakan gambaran wanita-wanita cantik dari lukisan-lukisan jaman renaissance.

“Tok, tok, tok,” pintu kamar Sibil diketuk. “Siapa?” Sibil mengintip pintu itu melalui pantulan cermin dihadapannya.
Seorang pria berbadan besar membuka pintu dan masuk lalu berdiri di depan pintu. “Maaf, Nyonya. Pak Ubas sudah datang.”
“Suruh dia tunggu sebentar.”
“Baik, Nyonya.”

Sibil bangkit dari meja riasnya dan berjalan menuju lemari pakaiannya. Dia membuka lemari tersebut dan mulai memilah-milih pakaian mewah mana yang akan dikenakannya.

Tidak berapa lama, Sibil menemui Ubas, rekan bisnisnya di ruang tamu yang besarnya dua kali dari kamar tidurnya. Ubas yang berperawakan sedang dan gendut datang berpakaian seragam lengkap karena dia langsung dari tempat kerjanya. Saat Sibil datang, ia sigap berdiri dan mencium tangan Sibil dengan penuh wibawa. Sibil dengan anggun duduk di sofa terbesar, singgasananya, baru dia mempersilahkan Ubas duduk kembali.

Ubas membuka percakapan dengan basa-basi ala seorang menteri yang menanyakan kesehatan Ratunya, kemana saja Ratunya dan pengalaman baru apa saja yang didapat, akan tetapi Sibil terlihat tidak sabar dan dengan sedikit gerakan jari telunjuknya, Ubas berhenti berkalimat. Sibil benci basa-basi sebagaimana dia membenci iklan di layar kaca. Ocehan-ocehan yang tidak berguna, pikirnya. Ubas meletakkan sebuah koper hitam yang dibawanya di atas meja. Dengan sangat hati-hati dia mengatur tiga angka kombinasi yang mengunci koper tersebut.

666… Klik, koper tersebut terbuka setelah tiga angka dengan tepat disusun oleh Ubas. Saat dibuka, koper tersebut bag memancarkan sinar berlian yang memukau membuat yang melihatnya tidak berkedip.
“Masih hangat, baru tiga jam turun dari pesawat. Langsung didatangkan dari Mexico,” ucap Ubas.

Sibil lalu meminta sebuah pisau lipat kepada seorang pengawalnya. Dia tusukkan pisau yang diterimanya ke sebuah bungkusan di antara puluhan bungkusan transparan lainnya yang terdapat di dalam koper tersebut. Di ambilnya serbuk putih dalam bungkusan tersebut dengan pisau, lalu didekatkan ke hidungnya, dan mulailah dia menghirup serbuk tersebut.

Seketika, tubuh Sibil terasa ringan. Dia mulai melayang dan berputar-putar di dalam ruang tamu itu seperti seorang penyihir sambil tertawa terbahak-bahak. Sibil lalu terbang menabrak atap rumahnya yang megah dan tinggi. Sibil terus terbang hingga dia berpapasan dengan seekor elang yang sedang membawa seekor tikus di cakarnya, sebuah pesawat terbang dan terus terbang hingga menembus tumpukan awan. Dia terus meroket hingga menembus atmosfer bumi dan sempat singgah di sebuah stasiun luar angkasa milik Rusia. Dia lalu menemukan sebuah satelit milik negeri tercinta. Dirusaknya satelit itu agar tiada lagi yang bisa mendeteksi keberadaannya saat di darat. Setelah puas, Sibil terus terbang hingga jauh meninggalkan gugusan bima sakti dan BAM… Sibil jatuh kembali ke sofa dia semula berada.

“Ah..,” dia menghela nafasnya terdengar seperti habis mengalami orgasme puncak yang maha luar biasa. “Ini sungguh menakjubkan,” komentarnya.
Tidak lama, dengan jentikan jarinya saja, Sibil memerintahkan anak buahnya untuk mengambil koper lain yang ditaruhnya di sebuah atas meja kerjanya dan memintanya untuk menyerahkan koper tersebut kepada Ubas.
“Anak buahmu?” tanya Sibil.
“Seluruh anak buah saya di bandara dan orang-orang cukai sudah saya paksa tutup mulut,” Nyonya tenang saja.

Ubas pun pergi dengan tergesa-gesa sambil membawa koper yang diberikan oleh Sibil yang walau belum dibuka oleh Ubas, Ubas yakin bahwa isi koper tersebut sudah seperti yang dijanjikan Sibil, uang senilai beberapa ratus juta rupiah.
Tidak lama setelah Ubas pergi, Sibil sambil membawa koper penuh serbuk putihnya lalu pergi dengan kuda besinya yang dikendarai oleh seorang supir tua yang mungkin lebih tua dari usia negeri ini. Dia sudah mengabdi selama puluhan tahun kepada mantan Tuan Besar. Betapa dia sebenarnya enggan mengabdi kepada seorang wanita yang sangat asing baginya kecuali kenyataan bahwa Nyonya Besarnya sekarang adalah isteri sehari majikannya terdahulu. Di belakang mobilnya, beberapa pengawal membuntutinya dengan dua buah mobil yang berbeda. Baru sepuluh menit berada di dalam mobilnya, Sibil merasa kulit wajahnya basah. Telunjuknya spontan menyentuh pipinya, dan Sibil terkejut melihat make-upnya luntur di tangannya. Make up barunya sepertinya tidak terlalu bagus, pikirnya.

“Hai, supir bodoh. Tidakkah kau merasa panas? Kenapa tidak kau nyalakan AC nya?” bentak Sibil kepada supir tua itu.
“Maaf Nyonya, sudah saya nyalakan.”
“Kalau begitu, maksimalkan dinginnya. Panas ini membuat make-up ku luntur.”

Supir tua itu mengintip dari cermin depan mengecek nyonya besarnya. Dia seketika terkejut melihat sebagian kecil kulit wajah Nyonyanya yang tidak tertutup make-up. Sibil sadar akan hal itu, lalu dia menatap tajam ke arah cermin depan. “Apa kau lihat-lihat? Tidak pernah melihat wanita cantik?” bentak Sibil. “Tetap pada kemudimu. Sedikit goresan pada mobilku berarti beberapa goresan di wajahmu.” Supir tua itu pun tidak bernyali lagi mengintip ke cermin depan, sementara Sibil memoles ulang wajahnya dengan make-up yang dibawanya.

Perjalanan Sibil dimulai dari sebuah lapas di Ibukota. Sibil masuk ke dalam lapas ditemani empat orang pengawalnya dari pintu belakang. Sibil tidak lupa memberi uang tips kepada penjaga pintu belakang. Ke dalam lagi, Sibil melewati pintu lain, dia kembali memberi tips kepada penjaganya. Semakin ke dalam, Sibil bertemu dengan kepala lapas dan Sibil sempat berbicara sebentar dengannya lalu menyerahkan sebuah amplop tebal yang diterima oleh kepala lapas dengan senyum sumringah. Sibil lalu diantar oleh seorang sipir ke sebuah sel di mana Atnes, saudari Sibil mendekam.

“Sibil? Akhirnya kau datang,” kata Atnes ketus.
Sibil lalu menyuruh sipir tersebut pergi dengan tidak lupa memberikan lagi uang tips kepadanya.
“Kau tidak mengharapkanku?” tanya Sibil manis.
Atnes aslinya tidak kalah menarik dengan Sibil jikalau dia tidak sedang mengenakan pakaian napi dan bisa bersuara lebih lembut “Kapan kau akan membebaskanku? Hakim gila itu sudah memvonisku hukuman mati.”
“Tentu saja. Dua puluh kilogram serbuk putih. Hukuman mati pantas untukmu,” Sibil menyindir, Atnes terlihat tidak suka, raut wajahnya memperlihatkannya. “Tapi hakim itu sudah menemui ajal sebelum kau. Orangku sudah mengurusnya. Tidak lama kebebasanmu akan datang.”

Sibil berada di sel itu cukup lama. Mereka berbicara tentang bisnis barang haram mereka tanpa merasa takut seperti tidak ada seorang petugas lapas pun yang akan mau merekam atau minimal menggubris pembicaraan mereka.
Saking lamanya berada dalam sel tak ber AC, make up Sibil kembali luntur. Atnes kemudian memberitahunya bahwa make-up nya sudah luntur banyak. Atnes lalu mengejek Sibil yang tidak pandai memakai make up atau memilih make up yang salah. Atnes lalu mengeluarkan peralatan make-up pribadinya dari bawah kasurnya. Dia lalu meminta izin untuk memoles kembali wajah Sibil dengan make-up nya yang menurutnya lebih tahan lama. Sibil mengizinkannya. Setelah wajahnya selesai dipoles ulang, Sibil memberikan Atnes sebungkus serbuk putih lalu pergi meninggalkan lapas tersebut.

Tujuan selanjutnya, dia pergi ke Mahkamah Tertinggi. Di sana, Sibil kembali menebar pesona dan kekuasaan. Seperti di lapas, dia kembali membagi-bagikan uang ke setiap petugas pengadilan yang dikenal ataupun diketemuinya. Terakhir dia bertemu dengan Hakim Tertinggi. Sibil tidak panjang lebar, dia hanya meminta kebebasan saudarinya, Atnes. Hakim Agung yang sudah disodorkan sekoper uang pun dengan senang hati menjanjikan kebebasan tersebut entah bagaimana caranya nanti.

Tujuan ketiga Sibil adalah Lembaga Penegak Kebenaran, Kepolisian. Sibil kembali mengulang ulahnya sama seperti di kedua lembaga yang dia datangi sebelumnya. Toh demikian, tidak ada yang berani menentangnya, semuanya malah menyambut Sibil dengan gembira. Sibil pun lalu meninggalkan sejumlah uang yang sama ke Kepala Polisi, dan memintanya untuk menghilangkan seluruh bukti bisnis barang haramnya. Kepala Polisi pun menyalami Sibil, tanda setuju.

Tujuan terakhir Sibil adalah sebuah rumah besar. Rumah besar di sebuah kawasan elit. Di rumah itu, Sibil rupanya sudah ditunggu oleh banyak sekali orang. Orang-orang yang berasal dari berbagai golongan elit. Ada para selebritis, pembantu presiden, wakil rakyat, pengusaha kelas kakap, bahkan terselip dua atau tiga orang pemuka agama yang biasa bersiul-siul di depan umum untuk selalu menyembah Tuhan. Di rumah besar itulah, Sibil pun lalu menjual daganganya, sekoper penuh serbuk putih yang didapatnya tadi pagi. Dagangannya pun laris dalam hitungan menit.

Sibil pun pulang setelah itu. Dia lalu kembali ke kamar tidurnya dan kembali duduk di depan meja riasnya. Sibil lalu menghubungi Atnes melalui handphonenya dan memberitahu Atnes bahwa semua sudah diurus, Atnes hanya harus menunggu saja hingga kebebasannya diumumkan.

Di depan cermin, telunjuk Sibil lalu menyentuh wajahnya. Tidak ada bekas make up di jarinya. Make up milik Atnes memang lebih berkualitas. Dengan perlahan, Sibil lalu mulai menghapus make up di wajahnya dengan sebuah kapas dan air bersih. Make up pun mulai terangkat dari kulit aslinya. Kulit asli yang berwarna merah seperti daging yang terpanggang. Beres dengan wajahnya, Sibil lalu menarik wig… Oh bukan! Bukankah itu rambut asli Sibil? Ternyata tidak. Sibil lalu menarik wig dari kepalanya dan tampaklah sepasang tanduk di kepalanya yang sejak tadi pagi ditutupi oleh wig tersebut. Cermin di dinding pun tak kuasa memantulkan wajah asli Sibil, dan pecah menjadi kepingan.

Depok, November 14, 2012
Kembali Ke Atas Go down
jeditamon
Pendatang Baru
Pendatang Baru
avatar

Jumlah posting : 11
Points : 13
Reputation : 0
Join date : 22.11.12
Age : 30
Lokasi : Universitas Indonesia

PostSubyek: Re: Polesan Make Up   Thu 22 Nov 2012 - 16:06

Sori nih, baru register udah langsung masang karya. Mohon reviewnya dari sesepuh yang udah jagoan. Smile
Kembali Ke Atas Go down
wilfran
Penulis Pemula
Penulis Pemula
avatar

Jumlah posting : 56
Points : 76
Reputation : 0
Join date : 02.10.12
Age : 27
Lokasi : Yogyakarta

PostSubyek: Re: Polesan Make Up   Thu 22 Nov 2012 - 18:51

sebelumnya salam kenal dulu, kak (sis atau bro nih? Razz )

cerpennya bagus jempol
saya dibuat penasaran sampe paragraf terakhir. saya juga nggak nyangka kalo ternyata ceritanya membahas hal yang cukup berat.

memang masih ada beberapa kalimat yang polanya agak membingungkan, seperti:
Ubas membuka percakapan dengan basa-basi ala seorang menteri yang menanyakan kesehatan Ratunya, kemana saja Ratunya dan pengalaman baru apa saja yang didapat, akan tetapi Sibil terlihat tidak sabar dan dengan sedikit gerakan jari telunjuknya, Ubas berhenti berkalimat.
menurut saya sih terlalu banyak koma. mungkin lebih baik jika dibagi menjadi 2 kalimat:
Ubas membuka percakapan dengan basa-basi ala seorang menteri yang menanyakan kesehatan ratunya; ke mana saja ratunya dan pengalaman baru apa saja yang didapat. Akan tetapi Sibil terlihat tidak sabar dan dengan sedikit gerakan jari telunjuknya, Ubas berhenti berkalimat.

tapi nggak masalah. itu bisa diurus belakangan Razz

saya pribadi suka sama "basa basi puitis" di cerpen kakak. sampe nyinggung soal jaman renaissance, stasiun luar angkasa milik Rusia, dll.. sangat indah untuk menghiasi sebuah karya sastra.. porsinya pun nggak berlebihan sehingga pembaca dapat fokus pada inti cerita tanpa harus dibuat kebingungan apabila terlalu banyak "ornamen penghias" yang nongol..

terakhir, saya boleh nebak sesuatu? kalo salah, saya siap menanggung malu karena udah sotoy kok lol!
oke, here it is: Sibil memang dengan sengaja membunuh suaminya.
Kembali Ke Atas Go down
jeditamon
Pendatang Baru
Pendatang Baru
avatar

Jumlah posting : 11
Points : 13
Reputation : 0
Join date : 22.11.12
Age : 30
Lokasi : Universitas Indonesia

PostSubyek: Re: Polesan Make Up   Thu 22 Nov 2012 - 19:06

salam kenal juga. Ini bro nih. @ Wilfran, terima kasih komentarnya. Komentar kamu persis dengan komentar adik saya. Tampaknya saya masih belum bisa menyederhanakan kalimat atau memotongnya dengan benar.

Untuk ornamen penghias, itu memang jadi kebiasaan saya dalam menulis karena saya memang suka memberi "pakaian" untuk tulisan saya.

Untuk tebakanmu... itu benar. hehehehe Very Happy

Saya juga sudah baca beberapa cerpenmu. Gak kalah bagus juga kok.

Trims ya.
Kembali Ke Atas Go down
vera astanti
Penulis Senior
Penulis Senior
avatar

Jumlah posting : 1658
Points : 1715
Reputation : 3
Join date : 14.05.12
Age : 26
Lokasi : Bojonegoro

PostSubyek: Re: Polesan Make Up   Wed 28 Nov 2012 - 11:37

aku suka cerpen yang bau-bau area bingungan. hehehe
jujur, saya harus mengulang beberapa kali membacanya. karena tidak terbiasa dengan cerpen dengan kategori seperti ini. walaupun saya menikmatinya dan menyukainya. hanya saja mungkin lebih ke faktor kebiasaan ya.
kebiasaan baca yang ringan2. kayak kapas. loh? Razz

ngomong -ngomong itu Sibil bukan manusia yak?
*rada lemot...

_________________
Catatan Pembolang Baru
Kembali Ke Atas Go down
jeditamon
Pendatang Baru
Pendatang Baru
avatar

Jumlah posting : 11
Points : 13
Reputation : 0
Join date : 22.11.12
Age : 30
Lokasi : Universitas Indonesia

PostSubyek: Re: Polesan Make Up   Wed 28 Nov 2012 - 12:26

Sebenernya itu metaphor sih niatnya. Kalau lebih detail aku juga pake anagram untuk nama Sibil dan Atnes - hayo apa kata aslinyaa? Heheheh.
Btw, thanks buat reviewnya
Kembali Ke Atas Go down
vera astanti
Penulis Senior
Penulis Senior
avatar

Jumlah posting : 1658
Points : 1715
Reputation : 3
Join date : 14.05.12
Age : 26
Lokasi : Bojonegoro

PostSubyek: Re: Polesan Make Up   Wed 28 Nov 2012 - 12:58

iblis dan setan ya???

malu-malu

_________________
Catatan Pembolang Baru
Kembali Ke Atas Go down
jeditamon
Pendatang Baru
Pendatang Baru
avatar

Jumlah posting : 11
Points : 13
Reputation : 0
Join date : 22.11.12
Age : 30
Lokasi : Universitas Indonesia

PostSubyek: Re: Polesan Make Up   Wed 28 Nov 2012 - 13:28

Iya sih hehehe. Saya gak pinter buat nama, jadi sering saya pake anagram sama tokoh dari film aja.
Kembali Ke Atas Go down
vera astanti
Penulis Senior
Penulis Senior
avatar

Jumlah posting : 1658
Points : 1715
Reputation : 3
Join date : 14.05.12
Age : 26
Lokasi : Bojonegoro

PostSubyek: Re: Polesan Make Up   Fri 30 Nov 2012 - 14:59

boleh boleh tuh. kalau aku hunting nama di drama, komik, film, sering juga nama temenku aku comot begitu saja. Very Happy

_________________
Catatan Pembolang Baru
Kembali Ke Atas Go down
wilfran
Penulis Pemula
Penulis Pemula
avatar

Jumlah posting : 56
Points : 76
Reputation : 0
Join date : 02.10.12
Age : 27
Lokasi : Yogyakarta

PostSubyek: Re: Polesan Make Up   Sat 1 Dec 2012 - 15:33

Hunting nama!!! yes

belakangan ini saya sering banget hunting nama..
saya hunting di gramedia. samperin rak buku perihal bayi dan ibu, cari buku tentang nama-nama bayi, terus baca di tempat.
saya bisa menghabiskan waktu lebih dari 2 jam hanya untuk cari nama-nama keren dari A sampe Z, terus catat di HP. selama saya melakukan itu, bisa dipastikan akan ada ibu-ibu yang menghampiri dan bingung setengah mati ngeliatin saya; anak cowok, keliatan belum cukup umur untuk punya anak, baca-baca buku yang ditujukan untuk ibu-ibu muda. saya sih cuek-cuek aja; bocah nggak tau malu seperti saya, kalo cuma segitu aja sih, enteeeng... jalan

mbak vera kalo suka hunting nama di komik, berarti hunting nama-nama jepang ya? atau mbak vera bacanya komik lokal?
Kembali Ke Atas Go down
vera astanti
Penulis Senior
Penulis Senior
avatar

Jumlah posting : 1658
Points : 1715
Reputation : 3
Join date : 14.05.12
Age : 26
Lokasi : Bojonegoro

PostSubyek: Re: Polesan Make Up   Sat 1 Dec 2012 - 17:55

aku baca komik jepang.
tapi jarang tak pake nama jepang.
lah gimana aku sering bikin kisah rakyat kecil. masa nenek jualan nasi aking mau dikasih nama "hinata/Shizu"? kkkk~
gak sinkron donk...


aku belom tahu komik indo.
hehehe

kalo untuk koleksi sih suka nama-nama jepang, hehe

Eh? kamu suka baca buku nama-nama bayi?
keren
Betahnyaa...
Very Happy

_________________
Catatan Pembolang Baru
Kembali Ke Atas Go down
wilfran
Penulis Pemula
Penulis Pemula
avatar

Jumlah posting : 56
Points : 76
Reputation : 0
Join date : 02.10.12
Age : 27
Lokasi : Yogyakarta

PostSubyek: Re: Polesan Make Up   Sat 1 Dec 2012 - 21:57

sebenarnya intinya hunting nama sih.. nggak harus nama bayi.. cuma kan kebanyakan buku-buku tentang nama bayi.. jadinya hunting nama bayi deh..
saya hunting nama bayi, tapi dipake bukan untuk menamai bayi melainkan untuk menamai tokoh cerpen dan novel lol!
Kembali Ke Atas Go down
jeditamon
Pendatang Baru
Pendatang Baru
avatar

Jumlah posting : 11
Points : 13
Reputation : 0
Join date : 22.11.12
Age : 30
Lokasi : Universitas Indonesia

PostSubyek: Re: Polesan Make Up   Sun 2 Dec 2012 - 22:21

Waduh, pake buku nama bayi segala.... hahaha.

Tapi boleh juga dicoba. Saya sendiri sering nyomot nama temen, tapi biasanya untuk tokoh utama sengaja saya cari nama yang gak klise, tp mudah diingat. Saya suka tuh nama-nama yang dibuat Om George Lucas kan keren2 tuh kaya Indiana Jones, Han Solo, Skywalker... berbeda tapi juga catchy Very Happy
Kembali Ke Atas Go down
m0nd0
Penulis Senior
Penulis Senior
avatar

Jumlah posting : 1446
Points : 1487
Reputation : 17
Join date : 11.07.12
Age : 29
Lokasi : Jakarta-Bandung

PostSubyek: Re: Polesan Make Up   Sat 15 Dec 2012 - 23:36

hai-hai jeditamon selamat datang Smile

Kembali Ke Atas Go down
http://mimondo.tumblr.com
sagitany
Penulis Sejati
Penulis Sejati
avatar

Jumlah posting : 4863
Points : 4905
Reputation : 8
Join date : 06.04.12
Age : 26
Lokasi : medan

PostSubyek: Re: Polesan Make Up   Tue 19 Feb 2013 - 22:48

#tandai juga, masih belum sempat baca Laughing
Kembali Ke Atas Go down
Sponsored content




PostSubyek: Re: Polesan Make Up   

Kembali Ke Atas Go down
 
Polesan Make Up
Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1
 Similar topics
-
» gan mo nanya buat yg udah make kaki2 Moge buat ninin nya..
» (ask) ada yg make knalpot merek nob1 gk ?
» enaknya pelumas rantai make apaan ya..??
» CYCLONE5 , make your MOTORCYCLES fuel EFFICIENT & go FASTER !
» (Ask)Tempat poles motor,bisa ngilangin baret halus..yg top di bandung....

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
SINDIKAT PENULIS :: Arena Diskusi :: Cerpen-
Navigasi: