SINDIKAT PENULIS
Silakan login dahulu, biar lebih asyik.
Kalau belum bisa login, silakan daftar dahulu.
Setelah itu, selamat bersenang-senang...


Kami adalah penulis, dan kami tidak butuh persetujuan dari siapa pun!
 
IndeksCalendarFAQPencarianPendaftaranLogin
"Jika ada buku yang benar-benar ingin kamu baca, tapi buku tersebut belum ditulis, maka kamu yang harus menuliskannya." ~ Toni Morrison

Share | 
 

 Cerpen: Surat Kristal

Go down 
PengirimMessage
Widyanto Gunadi
Pendatang Baru
Pendatang Baru
avatar

Jumlah posting : 8
Points : 16
Reputation : 0
Join date : 06.10.13
Age : 27
Lokasi : Pemalang

PostSubyek: Cerpen: Surat Kristal   Tue 22 Oct 2013 - 11:32

“Surat Kristal”
Oleh: Widyanto Gunadi

Ini adalah ceritaku, Bintang, yang pada akhirnya harus meninggalkan sebuah surat untuk seseorang yang tak pernah menyadari bahwa cinta itu selalu sangat dekat, walaupun terkadang jalannya adalah jalan yang penuh liku. Kita mulai cerita ini dari sejak saat Dian, adikku satu – satunya itu belum bertemu dengan cowok bernama Gilang.

“Dian, kamu nggak biasanya tampil rapi begini? Mau kencan ya?” tanyaku dengan nada yang sedikit menggodanya. Wajah Dian tampak memerah malu tapi dengan cepat dia segera membalas pertanyaanku itu untuk menutupinya. “Aku kan cewek kak. Aku juga ingin tampil cantik sekali – kali,” balas Dian dengan tersipu malu. Dian berjalan ke halaman depan sudah dengan penampilan yang sangat feminin. Ayah pun yang kebetulan sedang ada di teras rumah membaca koran pagi itu ikut melirik Dian dan mengomentari penampilannya yang tak biasa itu. “Wah, anak Ayah cantik sekali hari ini. Nggak biasanya kamu dandan secantik ini buat pergi ke kampus,” komentar Ayah. “ Aku kan cewek Yah. Wajar dong aku tampil cantik,” kata Dian  membela diri. “ Ayah mengerti. Ayah cuma agak kaget kok tiba – tiba anak Ayah berdandan serapih dan secantik ini. Ayah bangga deh sama kamu Dian, “ puji Ayah. “Ya sudah, Bintang, kamu antar adikmu ya. Hati – hati di jalan, “ lanjut Ayah lagi. “ Ah, tidak usah Yah. Aku naik bus saja hari ini. Aku sudah janji akan naik bus bareng Rina kemarin malam,” sambar Dian cepat. Dian pun bergegas pergi setelah berpamitan dan mencium tangan Ayahnya. Aku mengantarkan Dian sampai gerbang depan rumah. “ Ayah, aku juga berangkat kuliah dulu ya,” kataku sambil mengecup tangan Ayah. “Hati – hati di jalan ya nak,” balas Ayah.

Dian menyukai seorang cowok di kelasnya namun tak pernah berani menunjukannya. Namun, dia terus secara sembunyi – sembunyi memperhatikan apa-apa saja hal yang disukai oleh Gilang, cowok idamannya itu supaya bias dia terapkan untuk mulai membuatnya menengok ke arahnya. Terdengar sangat klise memang. Namun itulah yang adikku lakukan untuk menaklukkan hati pangeran incarannya.

“Oh, aku suka cewek yang dandanan dan sifatnya seperti cewek Korea yang banyak ada berseliweran di televisi. Mereka cakep – cakep lagi juga pandai menari. Itu sangat menarik buatku.” Cerita Gilang panjang lebar menjelaskan kriteria cewek idamannya pada teman – teman dekatnya sewaktu jam istirahat di kelas suatu siang.

Tanpa menunggu lama, sepulang dari kampus pun Dian langsung mengubah penampilannya. Dia mulai mencat rambutnya. Memakai kontak lens berwarna biru cerah yang membuat matanya terlihat berbinar dan jujur saja mirip boneka. “Wah, eksperimen gaya baru ya? “ komentarku waktu itu. Tapi Dian hanya menanggapi komentarku itu dengan santai. “ Ini namanya gaya yang trendi dan berkelas kak.” Dian pun mulai juga mempelajari tarian modern khas artis – artis Korea yang sedang naik daun saat ini. Dia mulai meninggalkan dunia tarik suara yang sudah cukup lama digelutinya sejak ia masih duduk di bangku SMP kelas satu dulu. Dan tentu saja yang menjadi fokusnya adalah menarik simpati Gilang dengan bela-belain belajar tarian ala grup – grup musik Korea tersebut. Dia selalu nampak kelelahan setiap pulang ke rumah sehingga langsung tidur di kamarnya.

“Aku juga suka cewek yang punya badan proporsional. Mereka yang seperti itu membuatku ingin memacarinya, “ lagi alasan lain dikemukakan oleh Gilang kepada teman – temannya dengan suara yang sedikit keras hingga bisa terdengar ke seluruh penjuru kelas yang agak sepi waktu istirahat siang hari itu.  Gilang memang cowok tampan yang populer di sekolah. Banyak anak cewek di kampus menganggapnya sebagai sosok cowok sempurna dengan fisik bagus, jago olahraga, juga pintar dan banyak kelebihan lainnya. Paling tidak itulah yang aku dengar dari lingkungan sekitar kampus tentang dirinya. Dampak kepopuleran Gilang nampaknya juga telah memengaruhi Dian adikku.

Semenjak itu pula Dian jadi rajin mengikuti program diet ketat dan juga berolahraga di sebuah pusat kebugaran tiga kali dalam seminggunya. Aku dan Ayah hanya bisa terheran – heran melihat Dian yang setiap hari selalu langsung masuk dan mengunci kamarnya. Wajahnya tampak selalu letih dan kelelahan akibat kegiatannya yang terlalu menguras tenaga. Tapi aku dan Ayah mengira bahwa Dian memang ingin melakukan transformasi besar pada dirinya menjadi pribadi yang lebih baik. Kami pun sepakat untuk mendukungnya. Sudah tiba waktunya bagi Dian untuk menentukan jalan hidupnya sendiri, pikir kami waktu itu.

“ Aku juga suka cewek yang cerdas dan modis. “ Itulah alasan ketiga dan terakhir yang diungkapkan Gilang kepada teman – temannya. Dian pun mengikutinya. Dia belajar semua tentang hal – hal tentang mode demi mendapatkan pengakuan dari Gilang sebagai cewek cerdas dan modis. Semua usahanya itu tak sia – sia.

Dian tersipu ketika dirinya ditembak Gilang. “ Dian, kamu mau jadi pacarku? “ Begitulah kira – kira pertanyaan yang dilontarkan Gilang untuk seketika melelehkan hati Dian untuk mengatakan jawaban yang singkat namun membuat kita melayang hingga ke langit tingkat tujuh saking bahagianya. Jawabannya tentu saja adalah ya. Mereka pun resmi berpacaran. Mereka menjalani hubungan sebagai sepasang kekasih dengan bahagianya seperti kebanyakan pasangan pada umumnya. Namun setelah sekian lama berpacaran, mulai muncul sifat – sifat asli Gilang yang membuat Dian semakin tersiksa secara batiniah. Dian mulai sering pulang dan menangis sendirian di kamarnya tanpa Ayah tahu. Karena Dian pulang pada jam – jam dimana Ayah sedang bekerja di suatu sekolah swasta sebagai seorang kepala sekolah. Hanya aku yang selalu ada di rumah saat itu dan mendengar Dian menangisi dirinya sendiri di kamar.

Awalnya aku hanya bisa diam dan membiarkan Dian sampai dirinya kembali tenang. Aku pun memandangi foto ibu yang terbingkai bingkai foto kayu berwarna coklat tua yang diletakkan di atas meja kecil di sebelah televisi di ruang keluarga. Disitu ibu tampak cantik dengan kebaya warna biru tuanya. Di wajahnya terlukis senyuman yang mirip sekali dengan senyuman Dian. Andai saja ibu masih ada saat ini dan melihat Dian yang demikian pastilah ibu akan sangat sedih.

Hari – hari terus berlalu bagi Dian dengan penuh air mata. “Pokoknya kamu harus menuruti apa kataku! Kalau tidak kau akan terima akibatnya!” begitulah ancaman yang diumumkan oleh Gilang kepada Dian. Sebagai seorang wanita yang secara fisik tentu tak sekuat laki – laki, Dian pun tak berani melawan Gilang. Aku pun tak tahan melihat penderitaan Dian yang semakin menjadi dari hari ke hari. Dian tak pernah mau menceritakan hubungan asmaranya yang sudah sangat pantas untuk segera diakhiri. Hingga suatu hari aku pun akhirnya muak menahan emosi ini sendiri dan membujuk Dian untuk bercerita. "Aku kenal kamu hampir 20 tahun. Itu bukan waktu yang sebentar. Ini bukan dirimu." kataku. " Tapi kak, aku mau dia menyukaiku. Ini upayaku untuk menemukan cinta. Apa itu salah? " Inilah yang aku khawatirkan. Semuanya nyata. Aku menghela nafas. " Ini bukan persoalan salah atau benar. " Dia menatapku dengan seksama seolah menungguku melanjutkan kalimatku. " Kamu boleh saja berusaha menemukan cinta, tapi bukan seperti ini caranya. Maksudku adalah kau tak perlu menjadi orang lain untuk menemukan cinta. Jadilah diri sendiri, tapi tetaplah rendah hati. Percayalah, kamu akan temukan cinta, cinta yang sejati. " Kami berdua berdebat hebat waktu itu. Namun, akhirnya Dian mau mengerti dan sadar bahwa kakaknya benar. Dian yang selama ini menggilai Gilang bukanlah dirinya melainkan cerminan akan apa yang diinginkan Gilang akan sosok cewek idamannya.

Keesokan harinya aku pun mengantar Dian ke kampus karena memang kami berkuliah di universitas yang sama. Disana kami pun berpisah di persimpangan di depan koridor menuju kelas. Saat aku hendak melalui koridor yang ada dan menuju tangga untuk naik ke lantai tiga, aku melihat Dian bertemu Gilang. Dian yang sekarang adalah Dian yang dulu aku kenal. Dian yang periang dan nyaman dengan gayanya sendiri. Rambutnya yang hitam legam dan berombak sebahu terurai dan matanya yang coklat tampak berbinar. Ketika bertemu Dian yang sekarang, Gilang tampak kaget. “Dian?! Apa ini beneran kamu? Aku kan sudah bilang kalau aku suka tampilan ala Korea. Kenapa kamu berubah?! Kamu mau cari gara – gara sama aku?! “ Dian tampak santai menghadapi Gilang. Di wajahnya tak tersirat sedikitpun ketakutan pada cowok yang dulu sempat membuatnya tergila – gila, jatuh cinta, berbunga – bunga, dan bahkan menyakitinya. “Inilah aku. Kalau kamu gak suka ya sudah, kita putus aja. Masalah selesai, “ jawab Dian dengan penuh percaya diri. Sinar wajahnya nampak bercahayakan keberanian yang dapat terpancar dari  kejauhan aku memandang. Aku yang sempat mendengar keributan itu memutuskan untuk berhenti dan mendekat ke  arah mereka sambil tetap menjaga jarakku serta mengamati mereka dari kejauhan.

“Beraninya kamu melawan kehendakku?! Dasar..!” tangan Gilang pun menyambar cepat menuju ke arah wajah Dian. Dian tak sempat mengelak. Namun, aku tahu kalau ini akan terjadi. “Apa yang kau lakukan?! Jangan campuri urusan kami berdua!” teriak Gilang ketika aku berhasil menepis tangannya dan mendorongnya dengan sekuat tenaga hingga ia jatuh ke lantai. Dian selamat dari tamparan maut itu. “Jangan ganggu adikku!” suaraku terdengar menggelegar hingga menarik perhatian orang banyak yang berseliweran di kampus hingga mereka semua menoleh ke arah kami. “Sudah cukup Dian menderita karenamu!” Gilang tak mau kalah. Dia bangkit berdiri dan berlari ke arahku hendak melayangkan tinjunya ke wajahku. Aku pun dengan sigap menghindarinya dan mendorong jatuh dirinya. Kami berdua pun bergulat dengan hebat di lantai saat itu. Dosen – dosen dan satpam kampus yang mendengar keributan itu segera datang dan melerai kami berdua. Kami pun berakhir di ruangan dekan untuk menerima skorsing selama sebulan karena ulah kami.  

***

Dian pun membuka amplop suratku satu – satunya yang sengaja aku tinggalkan untuknya mengetahui bahwa aku akan segera pergi. Air mata Dian pun tak terbendung membaca isi surat yang kutuliskan tersebut.

“Dian, maafkan kakak kalau kakak seolah tak peduli padamu waktu kau sedang mengalami masa – masa sulit itu. Kakak pikir kakak harus diam untuk memberimu waktu sendiri. Nampaknya kakak telah membuat kesalahan. Kalau saja kakak tahu waktu itu kau butuh dukungan dan kau mau bercerita mungkin kakak bisa mencarikan jalan keluar yang lebih baik tanpa harus berkelahi dengannya. Namun, satu hal yang harus kamu ingat. Akhirnya semua indah pada waktunya Dian. Maaf kakak tak bisa menemanimu di hari yang paling berbahagia untukmu dan Gilang. Tetapi, walaupun tubuh kakak telah habis lenyap dimakan waktu dan penyakit ini, kakak akan selalu ada, bukan di sampingmu, tapi di dalam hatimu. Selamanya. Dengan cinta, Bintang.”

“Itulah surat yang ditinggalkan paman kalian, Bintang untuk ibu kalian sebelum dia pergi ke surga,” cerita Gilang kepada kedua anaknya Cahaya dan Kasih. “Surat itulah yang menyatukan kami berdua. Ibu kalian menyebut surat tersebut dengan sebutan surat kristal dari Bintang,” tutup Gilang. Dia mengecup kening kedua putri kecilnya dan mengucapkan selamat malam untuk keduanya.
Kembali Ke Atas Go down
 
Cerpen: Surat Kristal
Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1
 Similar topics
-
» Pengen bagi2 cerita ttg safety riding

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
SINDIKAT PENULIS :: Arena Diskusi :: Cerpen-
Navigasi: