SINDIKAT PENULIS
Silakan login dahulu, biar lebih asyik.
Kalau belum bisa login, silakan daftar dahulu.
Setelah itu, selamat bersenang-senang...
SINDIKAT PENULIS
Silakan login dahulu, biar lebih asyik.
Kalau belum bisa login, silakan daftar dahulu.
Setelah itu, selamat bersenang-senang...
SINDIKAT PENULIS
Would you like to react to this message? Create an account in a few clicks or log in to continue.


Kami adalah penulis, dan kami tidak butuh persetujuan dari siapa pun!
 
IndeksLatest imagesPencarianPendaftaranLogin
"Jika ada buku yang benar-benar ingin kamu baca, tapi buku tersebut belum ditulis, maka kamu yang harus menuliskannya." ~ Toni Morrison

 

 Cerbung "Love Resistance" Part 1

Go down 
PengirimMessage
Dwiya A Rizkani
Penulis Pemula
Penulis Pemula
Dwiya A Rizkani


Jumlah posting : 102
Points : 153
Reputation : 1
Join date : 08.07.12
Age : 34
Lokasi : Makassar

Cerbung "Love Resistance" Part 1 Empty
PostSubyek: Cerbung "Love Resistance" Part 1   Cerbung "Love Resistance" Part 1 EmptySun 8 Jul 2012 - 20:41

Maya berjalan dengan gontai menaiki tiap anak tangga. Kuliah pagi ini berada di ruangan tingkat tiga, padahal dia masih letih karena kurang tidur, ia harus mengerjakan tugas dari Prof. Ruslan sebanyak 50 nomor. Dan harus diselesaikan hari itu juga. Padahal baru kemarin sore professor itu memberikannya. Tiba-tiba sebuah suara mengejutkannya.
“Hei!!! Ih, jalannya lelet banget kayak nenek-nenek.” Sapa gadis berambut ikal yang langsung berjalan bersamanya.
“Aku capek tau. Tugas dari Prof, kan harus dikumpul hari ini. Nah, kamu emang udah?” Tanya Maya.
“Males ‘ah! Aku nyusul aja ngumpulnya.” Jawab gadis itu sambil mengibaskan rambutnya.
Maya berdecak heran melihat sikap temannya itu. Mereka lalu memasuki kelas. Di dalam kelas sudah sangat penuh. Tetapi di deretan muka tampak kosong. Sebagian mahasiswa lebih menyukai duduk di deretan belakang sata kuliah Prof. Ruslan. Sebagian ingin tidur, dan lainnya memakai laptop dan jaringan Wifi untuk browsing di internet.
“Good morning! Today we will meet our new friend from USA. His name is Guntur Prasetyo and he will join this class.” Jelas Profesor Ruslan dengan bahasa inggris yang fasih saat seorang cowok berambut cepak memasuki ruangan dan berdiri di sampingnya. Secara fisik, sang cowok memang tampak hampir semupurna. Badannya atletis dengan tinggi yang diatas rata-rata.
Takjub, sebagian besar gadis di kelas Maya menatap sang cowok tanpa berkedip. Belum lagi saat cowok itu tersenyum memamerkan gigi putihnya yang tersusun rapi. Para cowok mulai merasa akan tersaingi dengan kedatangan si pendatang baru itu. Dina sudah asyik dengan bayangan di pikirannya untuk mengajak si cowok berkenalan sedangkan Maya sendiri tiba-tiba merasa mual. Dan meminta izin untuk meninggalkan ruangan.
Maya berlari dengan cepat meninggalkan ruangan kuliahnya Tidak mengindahkan tatapan Guntur yang terus memandanginya sejak ia datang.
***
“Eh, kok kamu tadi keluar sih, Prof kan baru aja masuk.” Kata Dina saat mereka berdua sedang makan siang di kantin kampus.
Maya tidak menjawab. Ia terus saja menikmati makanan di hadapannya.
“Tau gak, tuh cowok kayaknya keren banget yah? Duh, aku pengen deh kenalan lebih jauh ma dia.” Gumam Dina sambil mengaduk-aduk gado-gado di hadapannya.
“Keren itu bukan jaminan baik tidaknya seseorang.” Kata Maya sambil tetap asyik dengan biji-biji baksonya.
“Ih, kamu itu. Selalu aja gitu kalo yang berhubungan sama cowok. aku heran deh. Kita udah hampir 3 tahun kuliah, kamu masih tetap aja nunggu Anwar yang gak tahu kapan pulang itu. Bisa aja kan dia disana malah cinlok sama cewek bule” Goda Dina.
“Enak aja. Aku dan Anwar udah sepakat buat ngejalanin pacaran jarak jauh. Lagipula kami saling percaya. Hubungan kami baik kok.” Jelas Maya sambil menyendok makanannya lagi.
Dina cemberut dan menyuap sesendok penuh gado-gado ke mulutnya.
“Kamu standarnya terlalu tinggi sih!” Ucap Dina
“Pokoknya, cowok itu gak perlu cakep kayak Robert Pattinson buat ngeluluhin hati aku. Asal dia baik and mau terima aku apa adanya. Dan satu lagi, gak khianatin aku.” Terang Maya.
“Tapi dia emang beneran cakep kan?.”Protes Dina.
Maya meneruskan menyuap bakso di hadapannya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
***
Sepulang dari kampusnya, Maya langsung masuk ke dalam kamar dan berbaring di tempat tidurnya yang besar. Maya menatap langit-langit kamarnya. Perih. Itu kata yang bisa menggambarkan perasaannya saat ini. Ia tak tahu mengapa rasa yang sudah lebih dari 3 tahun ia sembunyikan dengan rapat di laci paling dalam di hatinya bisa teraba lagi. Dia bangkit dari tempat tidur dan mengambil sebuah bingkai foto di laci samping tempat tidurnya. Tampak ia dengan pakaian SMA dengan seorang gadis cantik yang juga mengenakan baju seragam. Foto itu diambil di sebuah foto box di mall tempatnya selalu berkunjung dulu.
Dielusnya gambar di dalam bingkai itu. Air matanya menitik.
***
Guntur berbaring di tempat tidurnya yang besar. Matanya menatap langit-langit kamarnya. Di benaknya berkecamuk sejuta rasa. Ah… dia masih membenciku. Pikirnya saat melihat sosok itu lagi. Baginya tak ada yang lebih menyenangkan bertemu dengan gadis yang menjadi mimpi-mimpinya selama bertahun-tahun. baginya tak ada yang lebih membahagiakan bisa melihat wajah yang telah bertahun-tahun dikenangnya. Tapi wajah itu menolak menghadapnya. Mata indah itu menolak menatapnya. Guntur memejamkan mata dan mencoba tidur. Berharap sang bidadari hatinya akan memberinya sedikit kenangan indah lagi dalam mimpinya.
***
“Maya!!” Dina berteriak saat melihat sosok Maya di parkiran.
Maya menoleh ke asal sumber suara dan mendapati Dina sedang berlari ke arahnya.
“Terlambat lagi. Ini udah ke 3 kalinya kamu gak masuk kuliah Statistika. Nanti kamu bisa nggak lulus loh.” Omel Maya. Ia lalu mengambil sebuah buku dari dalam mobilnya dan menguncinya kembali.
Dina Cuma tersenyum mendengarnya.
“Tadi malam aku mesti ikut pemotretan sampai jam satu. Jadi telat bangun tadi pagi. Huff… apa aku berhenti kuliah and focus ke modeling aja yah?” gumam Dina.
“Din, kuliah and kerja bisa aja jalan bareng kalo kamu jadwalinnya dengan bagus juga. Wong kamu gak terjadwal banget. Gimana mau maju?” kata Maya. Mereka lalu berjalan menuju ruang kuliah untuk mata kuliah kedua.
“Kamu aja kalo gitu yang jadi manajer aku? Gimana?” Tanya Dina. Sebenarnya itu sudah bukan pertanyaannya yang pertama.
Maya menggeleng sambil tersenyum.
“Gila aja. Bisa-bisa aku yang terlantar kuliahnya.” Ujarnya sambil menapaki anak-anak tangga. Langkah Maya dan Dina terhenti oleh sesosok laki-laki yang tengah menuruni tangga. Pria itu Guntur. Yang langsung menebarkan senyumnya pada kedua gadis itu. Dina membalas senyumnya dengan girang sambil mengedip-kedipkan matanya. Kagum dengan ketampanan Guntur. Sedangkan Maya memasang tampang cuek dan mulai kembali menaiki tangga. Tanpa memperdulikan Guntur.
“Eh, dia senyum sama kita! Ya ampun!! Cakep banget sih!” ujar Dina sambil terus menatap kepergian Guntur.
Maya diam saja mendengar komentar temannya. Dina melihat Maya tidak tertarik dengan obrolannya lalu mulai menceritakan soal pemotretannya. Mereka terus berbincang sampai masuk ke dalam kelas.
***
Maya berjalan dengan cepat meninggalkan gedung kuliah menuju mobilnya diparkiran. Dina sudah pulang duluan karena ada pemotretan lagi. Tapi ekspresinya langsung berubah masam saat Seorang pria tampak berdiri di samping mobilnya dan berbalik menghadapnya ketika ia sudah hampir mendekati mobilnya.
“Hai, Maya!” Sapa Guntur dengan nada pelan.
Maya tahu dia tidak bisa langsung masuk ke dalam mobilnya karena Guntur berdiri tepat di samping mobilnya.
“Mau apa kamu?” Desisnya dingin.
Guntur tersenyum. Berbeda dengan raut wajahnya yang sedih. Seperti ada beban mengganjal di hatinya.
“Hanya mau menyapa. Sudah berapa lama ya kita tak bertemu?” tanyanya. Kini Guntur mulai berjalan mendekati Maya.
Maya menatap wajah Guntur dengan pandangan jijik. Dia lalu tersenyum mengejek.
“Aku tidak perlu membuang waktuku yang berharga dengan menghitung berapa lama waktu kita tidak bertemu.” Kata Maya lalu melangkah mendekati mobilnya. Tidak mengacuhkan Guntur.
“Kau bisa lari dari ku dulu tapi saat ini, aku tak akan pernah melepaskanmu.” Gumam Guntur pelan. Tangannya menghalangi Maya untuk bisa masuk ke dalam mobilnya.
Maya berbalik. Menatap mata Guntur dengan pandangan sinis dan kejam.
“Dulu atau sekarang, tak akan ada perbedaannya bagiku. Kau hanya masa lalu yang selalu ingin kulupakan dalam hidupku. Jangan harap sekarang kau bisa melukaiku lagi.” Desis Maya. Dihentakkannya tangan Guntur dari pintu mobilnya dan Ia lalu meninggalkan Guntur yang tampak kesal. Segera menaiki mobilnya.
***
Kembali Ke Atas Go down
 
Cerbung "Love Resistance" Part 1
Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1
 Similar topics
-
» Cerbung "Love Resistance" Part 2
» Cerbung "Love Resistance" Part 3
» Cerbung "True Soulmate????" Part 1
» Cerbung "True Soulmate????" Part 2
» Cerbung "True Soulmate????" Part 3

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
SINDIKAT PENULIS :: Arena Diskusi :: Cerpen-
Navigasi: