SINDIKAT PENULIS
Silakan login dahulu, biar lebih asyik.
Kalau belum bisa login, silakan daftar dahulu.
Setelah itu, selamat bersenang-senang...


Kami adalah penulis, dan kami tidak butuh persetujuan dari siapa pun!
 
IndeksCalendarFAQPencarianPendaftaranLogin
"Jika ada buku yang benar-benar ingin kamu baca, tapi buku tersebut belum ditulis, maka kamu yang harus menuliskannya." ~ Toni Morrison

Share | 
 

 Cerbung "Love Resistance" Part 3

Go down 
PengirimMessage
Dwiya A Rizkani
Penulis Pemula
Penulis Pemula
avatar

Jumlah posting : 102
Points : 153
Reputation : 1
Join date : 08.07.12
Age : 28
Lokasi : Makassar

PostSubyek: Cerbung "Love Resistance" Part 3   Thu 19 Jul 2012 - 20:21

Maya menyusut airmata yang semakin deras mengalir di pipinya.

Ditelungkupkannya wajahnya di atas meja. Hatinya begitu pedih. Seakan tidak cukup luka yang dibuat oleh kepergian Laras dulu. Dan kini, Guntur kembali menghilangkan sahabatnya. Dengan cara yang lain. Dengan memfitnahnya.

Betapa sedih hati Maya memikirkannya. Lalu langkah kaki yang ada membuatnya tersadar dan menghapus airmatanya. Tampak Guntur berdiri di sampingnya.

“Terima kasih sudah kembali menghilangkan sahabatku.” Ucap Maya.

Guntur tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.

“Tidak akan serumit ini, Maya. Tidak akan serumit ini kalau kamu mau menerimaku. Aku begitu mencintaimu.” Kata Guntur. Dicobanya mengelus rambut Maya. Tapi Maya menyentakkan tangan Guntur dengan kasar.

“Aku akan tetap pada pendirianku semula. Sampai kapanpun, aku tak akan pernah memaafkanmu. Aku tak akan pernah mencintaimu.”

“Kebencianmu, suatu saat akan menjadi boomerang bagi dirimu sendiri Maya. Cukup katakan saja padaku apa yang kau inginkan. Aku akan melaksanakannya untukmu.” Guntur menatap mata Maya yang sembab dengan kesungguhan yang amat dalam.

“Tinggalkan aku. Jangan pernah sekalipun lagi mengatakan mencintaimu. Cukup sudah. Aku sudah sangat tertekan dengan semua ini. Aku hanya mau sahabatku bahagia. Itu kalau kau memang pernah membahagiakannya. Laras benar-benar mencintaimu Guntur. Benar-benar mencintaimu.” Ucapan Maya tenggelam dalam tangis.

“Dina sangat mencintaimu. Dan kuharap kau tidak menyia-nyiakannya. Jangan pernah mendekatinya jika kau hanya berniat mencampakkannya, atau memanfaatkannya. Aku tidak akan pernah, sekali lagi, memaafkanmu.”

“Jadi ini yang kamu inginkan?” Tanya Guntur.

Maya menatap matanya dan mengangguk tegas. Tidak disadarinya, Dina yang sejak tadi berada di bagian lain ruangan gedung itu. Ia tak sengaja menguping pembicaraan Guntur dan Maya.

“Aku tak akan pernah mengulangi kesalahanku yang sama dulu. Dina mencintaimu. Dan ia sahabatku. Sama dengan Laras yang pernah kau renggut dariku. Aku akan melakukan apapun agar sahabat-sahabatku tidak terluka seperti dulu lagi. Kau boleh memacarinya. Tapi kau harus berjanji, akan mencintainya juga. Dan tidak menyakitinya”

Guntur tersenyum pahit mendengar kata-kata Maya. Ekspresi Maya masih sama. Tegas dan dingin. Sama seperti saat menolaknya untuk Laras dulu.

“Aku masih belum mengerti. Mengapa kau terus-terusan menyalahkanku karena kematian Laras. Toh dia sendiri yang mau melakukannya?” Seru Guntur sengit.

Maya terdiam mendengar kata-kata.

“Kau perlu gabungan antara otak yang waras dan hati yang pengasih untuk mengerti tentang itu. Sayangnya kau tidak punya itu. Aku menyayangi Laras, sahabatku sejak dulu. Dan aku tidak akan pernah membiarkan rasa cinta Dina padamu, membuatnya terluka dan berakhir seperti Laras. Tidak akan pernah.” Sahut Maya. Nadanya tenang tapi ketegasan dalam suaranya membuat Guntur tidak kuasa membantah.

Dina menahan suara tangisannya di balik tembok. Ia mendengar semua perbincangan itu. Kini ia mengerti, mengapa Maya begitu benci dengan Guntur. Mengapa Maya tak pernah sedikitpun tersenyum atau bercanda dengan Guntur. Dan ia akhirnya menyadari, Maya bukan menginginkan Guntur, tapi ia menjaga Dina dari Guntur. Pria yang telah membuat Laras, sahabatnya saat SMA, bunuh diri dulu.

Lalu terdengar bunyi langkah kaki meninggalkan ruangan. Maya telah beranjak dari ruangan itu. Dina bisa menangkap siluet tubuh langsing Maya melewati ruangan tempat Dina. Dina lalu mengejar Maya dan memeluknya.

“Maafin aku. Aku picik banget. Aku gak pantas ngatain kamu kayak gitu.”Sesal Dina. Ia mulai menangis.

“Gak usah minta maaf, Din. Mestinya aku ngasih tahu kamu dari dulu. Pasti gak gini kan kalau kamu tahu.” Maya berusaha menenangkan Dina.

Mereka lalu berjalan meninggalkan kampus. Tidak menyadari Guntur dibelakang mereka melihat mereka dengan pandangan sangat marah.

***

“Laras adalah sahabatku sejak kecil. Kami saling menyayangi seperti saudara
kandung.” Maya memulai kisahnya dengan nada pilu. Tatapannya sendu. Tatapan yang tak pernah sedikitpun diperlihatkan Maya saat berada bersama Dina.

“Kami selalu bersama-sama. Rumah kami berdekatan. SD, SMP, SMA, kami selalu
bersama. Laras bercita-cita menjadi seorang dokter dan aku ingin menjadi seorang arsitek. Kehidupan kami sangat baik. Tenang tanpa masalah. Dan semua itu berubah saat Guntur datang.” Ketika menyebut nama Guntur, Maya kelihatan tercekat oleh nafasnya sendiri. Dengan susah payah, ia melanjutkan ceritanya lagi.

“Dia datang saat kami baru saja naik kelas 3. Seperti yang kamu lihat dia tampan. Guntur datang dan langsung menebar pesonanya kepada semua teman-temanku. Dan dengan cepat ia menjadi idola. Begitu juga pada Laras. Laras menyukai Guntur. Sejak tatapan pertama. Aku sebagai sahabatnya selalu mendukungnya. Selalu memberinya semangat. Itu pertama kalinya Laras menyukai seseorang, tidak sepertiku yang sudah sering bergonta-ganti pacar.

Tapi ternyata Guntur tidak menyukainya. Ia menyukaiku.” Maya menatap Dina sembari tersenyum miris. Dina menatap Maya dengan rasa prihatin, berusaha menjaga agar air matanya tidak menetes.

“Laras tidak tahu tentang itu. Tapi aku tahu. Guntur mengatakannya padaku. Berulang-ulang. Bukan satu dua kali aku menolaknya. Aku bahkan memberi tahunya bahwa Laras menyukainya. Tapi Guntur tidak menyerah dan terus mendekatiku. Aku tentu tak mau jika Laras tahu tentang hal itu. Aku terus menutupinya. Lalu aku mulai berpacaran dengan Anwar. Sampai suatu hari, Guntur menyatakan cintanya pada Laras. Sejenak aku lega. Bukankah itu yang Laras inginkan. Mereka akhirnya pacaran. Tapi aku tidak tahu, belum tahu tepatnya. Bahwa Guntur memanfaatkan Laras untuk mendapatkanku.” Sekali lagi, kilatan mata Maya menyiratkan kepedihan mendalam.

Dina yang duduk di sampingnya hanya terdiam. Air matanya mengalir deras di pipinya.

“Aku tak tahu apa yang telah terjadi pada mereka berdua. Sampai aku menemukan Laras sudah meninggal. Bunuh diri di kamarnya. Setelah sebelumnya mendapat SMS-nya yang berbunyi ‘Selamat Jalan, dan Semoga berbahagia dengan Guntur’” Kini Maya tidak bisa menahan air matanya. Perlahan, titik-titik air mata meluncur deras dari matanya.

“Aku bahkan tidak tahu penyebab Laras meninggal. SMS yang ia kirimkan sebelum meninggal, membuat hatiku begitu terpukul. Mengapa ia berkata seperti itu padaku. Lalu, Tepat satu minggu setelah Laras meninggal, sebuah surat hadir di rumahku. Pengirimnya adalah Laras sebelum ia meninggal. Ia mengirimkan sebuah surat padaku. Mengatur begitu rupa agar saat surat itu sampai di tanganku ia sudah tak ada lagi di dekatku. Surat tulisan tangannya. Semua keluh kesahnya. Dan juga rahasia dan penyebab ia meninggal.” Maya memberikan sebuah surat pada Dina. Dina menerima surat itu dan menyimpannya di pakuannya. Ditatapnya surat itu tanpa ada keinginan membukanya.

“Guntur tak pernah muncul di hadapanku setelahnya. Bahkan setelah aku lulus SMA dan melanjutkan kuliah.” Kata Maya lagi.
“Apa kau pernah menyukai Guntur?” Tanya Dina.

Maya tidak menjawab. Pandangannya lurus ke depan. Diremasnya rerumputan di sekitar kakinya.

“Tidak.” Ucapnya singkat dengan nada dingin.

“Aku tahu Guntur bukan laki-laki yang baik setelah melihat sikapnya yang terlalu berambisi padaku. Ia akan menempuh segala cara untuk mendapatkan yang ia inginkan. Aku sudah berulangkali menasihati Laras. Tapi ia bergeming. Rasa cintanya pada Guntur membuatnya lupa segalanya. Aku tak mungkin tak mendukung kisah cinta sahabatku. Dan ternyata kisah cintanya berakhir tragis. Sampai merenggut kehidupannya. Kau bisa membaca surat itu. Mungkin, kau bisa tahu, mengapa aku bisa begitu membenci Guntur. “

Maya berbaring di rerumputan hijau di bawahnya. Menatap langit sore yang mulai menyirakan warna orang keemasan. Pertanda mentari sudah mulai tenggelam di ufuk barat. Dina masih enggan membuka buku itu. Penasaran, dan yang lebih besar, rasa takut. Takut mengetahui orang yang dicintainya ternyata berbeda.

“Aku harus pulang.” Gumam Dina. Ia lalu berdiri dan membersihkan jeansnya dari rerumputan. Maya juga ikut berdiri. Mereka lalu beranjak menuruni bukit dan berjalan dalam diam. Bahkan saat telah berada di atas mobil. Maya memutar lagu-lagu Celine Dion kesukaannya di DVD mobilnya. Alunan music lagu To Love You More mengalun lembut. Berusaha mencairkan keheningan di antara mereka berdua.

Akhirnya Honda CRV Maya sampai di depan rumah Dina. Dina hanya menengok sekali menatap bahu Maya, melewati matanya untuk berterimakasih. Dina masih berdiri enggan di depan rumahnya saat Mobil Maya sudah meninggalkan rumahnya. Ia melambai pelan saat mobil itu sudah bergerak, menghilang di belokan beberapa meter di depan rumahnya.

Tas yang berada di bahu Dina terasa berat. Surat dari Laras untuk Maya menjadi bukti mengapa ia begitu membenci Guntur. Dina lalu memasuki rumahnya, lalu mendapati rumahnya yang besar kosong seperti biasa. Ayah dan Bundanya pasti masih berada di kantor. Kesepian menyelimuti benaknya. Selama hidupnya, Dina selalu kesepian. Ayah dan Bundanya selalu dan selalu lebih mengejar materi daripada berada di sampingnya. Hidup sebagai anak tunggal di keluarga berada membuat Dina tak pernah benar-benar memiliki teman. Dan kehadiran Maya sebagai sahabat membuatnya merasa memiliki teman. Teman yang sangat pengertian. Meskipun kadang sikap Maya dingin, ia tahu Maya sudah menyayangi Dina seperti saudara. Begitupun Dina. Ia sudah menganggap Maya sebagai saudara perempuan yang tak pernah ia miliki. .

Dina sempat menyapa Bi Ijah sebelum memasuki kamarnya yang besar. Ia lalu menaruh tasnya di atas tempat tidur. Tidak langsung mengganti baju tetapi langsung mengambil Surat itu dari dalam tasnya. Di taruhnya benda itu dihadapannya sambil menimbang-nimbang apakah ia akan membacanya atau tidak.

Tapi ia lalu mengambil surat beramplop ungu itu. Mengeluarkan lembaran kertas dan mulai membacanya pelan-pelan.

Makassar, 17 Maret 2007
Dear Maya,
Saat surat ini sampai di tanganmu, aku yakin, aku udah nggak ada di dunia ini lagi. Aku ingin meminta maaf sebelumnya. Atas keegoisanku dan semua yang kulakukan padamu sebelum aku meninggal. Hanya satu yang perlu kau pahami, aku melakukan ini karena aku sudah tak bisa menahan rasa kecewaku. Pada Guntur, dan terlebih lagi, Padamu.
Pernahkah kau ceritakan padaku jika Guntur menyukaimu? Pertanyaan ini aku yakin tak akan bisa aku dengar lagi jawabannya saat pertanyaan ini sampai di tanganmu. Maya, aku benar-benar marah padamu. Karena telah membohongiku. Dan terlebih lagi, aku kecewa. Kecewa karena tak sedikitpun aku tahu sebelumnya, bahwa Guntur mencintaimu. Sangat mencintaimu.
Apa kau tahu, Maya? Selama kami pacaran, tidak pernah sekali pun ia lupa menanyakan kabarmu, bertanya kesukaanmu, dan sebagainya. Mulanya kukira ia ingin mengenalmu sebagai sahabatku. Tapi lama kelamaan instingku menyadari perasaannya. Aku awalnya berusaha menepisnya. Karena merasa, toh Guntur telah menjadi milikku. Aku melakukan segalanya agar ia bisa mencintaiku. Segalanya.
Dan aku melakukan hal itu bersamanya. Kupikir, setelah itu, ia mampu menerimaku, tapi Maya, saat itu aku sadar. Aku salah. Karena aku tak pernah ada di hatinya. Tak pernah ada.
Malam saat kejadian itu, saat ia sudah terlelap, dan aku masih terjaga menatap dan mengagumi wajahnya, ia menggumamkan sebuah nama. Penuh dengan rasa cinta dan kerinduan. Nama itu adalah namamu, Maya. Aku tersentak saat mendengarnya. Aku tak bisa menahan keterkejutanku saat nama itu mengalir lagi mulutnya. Lebih dari sekali. Dan seakan belum cukup, aku menemukan hal lain yang lebih menghancurkan hatiku. Aku terbangun dari tempat tidur dan mendapati dompetnya tergeletak di meja dekat tempat tidur. Lalu aku membukanya. Dan kau tahu, tak ada gambarku, pacarnya di sana. Tapi gambar seseorang yang telah kukenal dan kupercaya melebihi apapun. Itu adalah Fotomu Maya. Aku, dengan luka menganga di hatiku, meninggalkannya malam itu juga. Kembali ke rumahku.
Setelahnya, kupikir Guntur akan mencariku, menghubungiku. Tapi tak pernah sekalipun ia menelponku, Maya. Menanyakan kabarku seperti yang selalu ia lakukan untukmu. Setelah kejadian di hotel itu, ia seperti di telan bumi. Menghilang.
Aku pikir, aku sudah tak bisa mempercayai siapapun, Maya. Semua sudah sirna sekarang. Aku sudah kehilangan kehormatanku bersama seseorang yang ternyata tidak pernah mencintaiku. Tapi mencintai sahabatku. Aku tak bisa menerimanya, Maya. Aku tak bisa hidup menanggung semua ini.
Semua sudah terlambat sekarang. Tak ada yang bisa menyelamatkan jiwaku. Sebelum aku melakukan hal-hal yang bisa lebih merusak jiwaku, Maya, aku memilih ini. Kematian. Aku harap kau tidak sedih dengan kepergianku. Maya, aku mempercayaimu. Aku sangat mempercayaimu lebih dari apapun. Mungkin ini adalah bayaran, atas keikhlasanmu melepas Guntur untukku. Kau bisa bersamanya sekarang. Ia mencintaimu. Bukan aku.
Maya, sampaikan maafku buat Mama. Aku sudah sangat kotor dan tak pantas menjadi putrinya lagi. Dan untuk Guntur, sampaikan padanya, bahwa aku sangat mencintainya dan terimakasih untuk segalanya yang ia berikan padaku.
Maya, aku sangat menyayangimu. Mungkin, aku tak pantas menjadi sahabatmu, karena buta melihat perasaan Guntur dan terus memaksanya menjadi milikku. Aku begitu egois dan sangat mementingkan diriku sendiri. Aku terus menerus membutakan dan menulikan diriku atas perasaan Guntur yang sebenarnya. Dan sekarang, aku mengharapkan kebahagiaanmu. Kau harus bahagia, Maya. Lebih dari siapapun. Kau tak perlu memikirkan apa yang sudah terjadi di masa lalu. Kau harus menatap ke depan. Biarlah kematianku menjadi kenangan buruk yang menjadi pelajaran untukmu. Aku menyayangimu. Dan sekali lagi, Maafkan aku……

Penuh cinta,

Laras

Air mata Dina tumpah membaca barisan tulisan tangan Laras. Kini Dina tahu perasaan Maya. Kesedihan dan kemarahan Maya. Guntur pergi meninggalkan Laras seperti pengecut. Tidak menengok ke belakang meninggalkan Gadis yang sudah diambil kehormatannya. Dan sekarang, giliran Dina yang marah. Ia benar-benar marah dan sangat menyesal sudah pernah begitu menyukai Guntur sampai memaki-maki Maya. Sampai tidak mempercayai Maya. Dia sadar, Maya menginginkan yang terbaik untuk sahabat-sahabatnya. Untuknya, bahkan untuk Laras.

Dina lalu mengambil Handphonenya dan menghubungi Maya.
***
Kembali Ke Atas Go down
sagitany
Penulis Sejati
Penulis Sejati
avatar

Jumlah posting : 4863
Points : 4905
Reputation : 8
Join date : 06.04.12
Age : 26
Lokasi : medan

PostSubyek: Re: Cerbung "Love Resistance" Part 3   Thu 19 Jul 2012 - 23:34

avatarnya lucuuuuu~~~~~~~~~


cerpennya dikomen besok ya, dwi..
Kembali Ke Atas Go down
Dwiya A Rizkani
Penulis Pemula
Penulis Pemula
avatar

Jumlah posting : 102
Points : 153
Reputation : 1
Join date : 08.07.12
Age : 28
Lokasi : Makassar

PostSubyek: Re: Cerbung "Love Resistance" Part 3   Fri 20 Jul 2012 - 11:12

Thank's!!!! goda
cerpen (cerbung??) rencananya mau dikembangin jadi novel. tapi karena udah beberapa kali nggak maju2, maka dipadatkan jadi cerpen gitu...
please enjoy yah!!!
Kembali Ke Atas Go down
sagitany
Penulis Sejati
Penulis Sejati
avatar

Jumlah posting : 4863
Points : 4905
Reputation : 8
Join date : 06.04.12
Age : 26
Lokasi : medan

PostSubyek: Re: Cerbung "Love Resistance" Part 3   Fri 20 Jul 2012 - 11:15

iya kakak..
Kembali Ke Atas Go down
de_wind
Penulis Sejati
Penulis Sejati
avatar

Jumlah posting : 3494
Points : 3669
Reputation : 52
Join date : 29.03.11
Age : 33
Lokasi : Bekasi

PostSubyek: Re: Cerbung "Love Resistance" Part 3   Fri 20 Jul 2012 - 12:28

wuaaah guntur sialaaaan marah marah marah

aku komen dikit soal yg mnrtku rada janggal ya...

Quote :
“Maafin aku. Aku picik banget. Aku gak pantas ngatain kamu kayak gitu.”Sesal Dina. Ia mulai menangis.

“Gak usah minta maaf, Din. Mestinya aku ngasih tahu kamu dari dulu. Pasti gak gini kan kalau kamu tahu.” Maya berusaha menenangkan Dina.

Mereka lalu berjalan meninggalkan kampus. Tidak menyadari Guntur dibelakang mereka melihat mereka dengan pandangan sangat marah.

mnrtku di sini...kan di awal2 dbilang, guntur udh ngrusak persahabatan mreka.jd kupikir mestiny klo si dina tiba2 meluk gtu, maya harusny kaget. knp dia mnta maaf soalny kan maya jg gak tau klo si dina ngupingin pmbicaraan dia sm guntur.


Quote :
Mereka lalu berjalan meninggalkan kampus. Tidak menyadari Guntur dibelakang mereka melihat mereka dengan pandangan sangat marah.

trus kalimat yg ini. klo mnrtku sih ini mgkn bisa jd pembuka klimaks tp ternyata pas di akhir cerita kok gak ada apa2 yg berkaitan dgn guntur?? pdhl seru tuh klo dbuat si guntur ny nyulik si dina dan ngancem bwt ngebunuh dia biar maya mau pacaran sm dia (gila psikopat abis...btw, ini mirip sinetron bgt gak sih???)
Kembali Ke Atas Go down
Dwiya A Rizkani
Penulis Pemula
Penulis Pemula
avatar

Jumlah posting : 102
Points : 153
Reputation : 1
Join date : 08.07.12
Age : 28
Lokasi : Makassar

PostSubyek: Re: Cerbung "Love Resistance" Part 3   Fri 20 Jul 2012 - 12:44

Hehehehe.. ini nih akibat memadatkan cerita yang terlalu panjang.. ahahah.. kadang meng-cut ceritanya nggak bener. Smile

thx bgt kritikannyaaaa!!! wow

and maaf kan akuuuu kalo ada yang pusing dengan ceritanya.. hehehehe.

centil

Hoho.. ceritanya sih masih bakal ada something yang bakal terjadi. and obviusly endingnya bakal gak terduga... Tenang... nggak bakal ngikutin sindrome ending sinetron yang menjamur. ahaha... ikutin lanjutannya yak...

shy
Kembali Ke Atas Go down
m0nd0
Penulis Senior
Penulis Senior
avatar

Jumlah posting : 1446
Points : 1487
Reputation : 17
Join date : 11.07.12
Age : 30
Lokasi : Jakarta-Bandung

PostSubyek: Re: Cerbung "Love Resistance" Part 3   Tue 24 Jul 2012 - 4:45

hmm, belum bisa ngasi komen... aku ngikutin dulu sampe selesai yaa
Kembali Ke Atas Go down
http://mimondo.tumblr.com
Sponsored content




PostSubyek: Re: Cerbung "Love Resistance" Part 3   

Kembali Ke Atas Go down
 
Cerbung "Love Resistance" Part 3
Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1
 Similar topics
-
» [share] Tips Serba Serbi Limbah Moge

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
SINDIKAT PENULIS :: Arena Diskusi :: Cerpen-
Navigasi: